Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
71Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pengembangan Hortikultura dan Faktor yang Mempengaruhi

Pengembangan Hortikultura dan Faktor yang Mempengaruhi

Ratings: (0)|Views: 15,828|Likes:
Published by ivan ara

More info:

Published by: ivan ara on Jan 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2014

pdf

text

original

 
PENGEMBANGAN HORTIKULTURA DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHIOlehRoedhy PoerwantoSITUASI HORTIKULTURA INDONESIA SAAT INICiri Sistem Produksi Hortikultura Indonesia
Menurut Ditjen Hortikultura (2004) dalam Recana Strategis PengembanganHortikultura Indonesia, ciri-ciri sistem produksi buah-buahan pada sebagian besar petanikecil Indonesia adalah sebagai berikut: (1) Skala usaha kecil, bersifat sampingan, belummerupakan usaha komersial atau agribisnis; (2) Pola tanam campuran, varietas yangditanam belum seragam (belum klona!) dan sebagian berasal dan Lanaman asal biji; (3)Pengelolaan tanaman belum menerapkan teknologi maju, masih tradisional,mengakibatkan produksi dan mutu hasil belum optimal, atau rendah; (4) Pemanenan danpenanganan pasca panen belum optimal; (5) Lokasi produksi pada umumnya tidak merupakan hamparan luas, sering terpencil dengan sarana transportasi minimal, atauberada pada wilayah non optimal; (6) Cara pemasaran hasil secara ijon atau tebasanmasih sering diterapkan.Ciri system produksi komoditas sayuran, tanaman hias dan tanaman obat adalah:(1) Skala usaha dan penggunaan modal kecil; (2) Penerapan teknologi usahatani belumoptimal; (3) Penggunaan pestisida untuk pemberantasan hama terlalu tinggi; (4) Kurangtersedianya bibit bermutu, sehingga mempengaruhi mutu bahan baku dan produk; (5)Penataan produksi belum berdasarkan pada keseimbangan antara
suppy
dan
demand;
(6)Pemasaran hasil belum efisien, harga lebih banyak ditentukan oleh pedagang.Dalam pengembangan ekspor produk hortikultura masih mengalami hambatanantara lain:
(1)
Belum terpenuhinya persyaratan SPS
{Sanitary and Phytosanitary),
kualitas, kuantitas dan kontinuitas produksi terhadap pasar ekspor;
(2)
" Daerah produksikomoditas ekspor sering terpencar dalam skala-skala kecil, sehingga menyulitkan dalampengumpulan hasil dan menjamin kontinuitas supply;
(3)
Kurangnya informasi tentangpreferensi konsumen pada negara importir (jenis komoditas dan produk, sertakualitasnya); (4) Biaya transportasi udara yang dinilai terlalu tinggi, sehingga tidak sebanding dengan margin yang didapatkan petani/pedagang.
Tantangan dalam Pengembangan Hortikultura
 
(1) Tersedia lahan-lahan potensial untuk digunakan bagi pengembangan hortikulturayang mencakup lahan tegalan/kebun, lahan yang tidak ' digunakan (terlantar), lahanpasang surut, maupun lahan perkebunan terlantar dan perkebunan swasta kelas V.Pada tahun 1998 tercatat lahan tegalan seluas 8.383.599 ha, lahan ladang seluas3.179.213 ha dan lahan yang sementara tidak digunakan seluas 7.335.586 ha. Luasperkebunan terlantar dan perkebunan swasta kelas V tercatat 194.996 ha. Walaupunlahan tersedia cukup luas namun tingkat kesuburannya umumnya rendah,ketersediaan air kurang terjamin, dan status pemilikannya kurang jelas.(2) Penggunaan teknologi produksi dan sarana/prasarana produksi oleh petani umumnyamasih sederhana, yang berakibat produktivitas komoditas hortikultura di lahan petani
 
umumnya masih rendah. Kesenjangan produktivitas antara kondisi lapangan denganhasil lapangan merupakan indikasi adanya peluang, sekaligus potensi yang masihdapat digali dalam peningkatan produksi , melalui penerapan IPTEK serta upayapenanganan yang intensif, didukung oleh kecukupan sarana produksi yang optimal.Melalui upaya terpadu tersebut diharapkan produktivitas akan mampu ditingkatkanmendekati kapasitas produksi optimal.(3) Kelembagaan sistem produksi hortikultura pada umumnya belum efektif terutamadalam aspek pengamanan pemasaran. Kelembagaan profesi yang bergerak di bidanghortikultura kini telah banyak terbentuk dalam bentuk himpunan, asosiasi, ikatanmaupun kelornpok serta koperasi yang diharapkan dapat memudahkan danmempercepat akses pertukaran informasi pemasaran yang sangat penting dalampengembangan hortikultura.(4) Persyaratan mutu untuk ekspor produk hortikultura pada umumnya tinggi dan belumdapat dipenuhi oleh petani kecil sehingga menyulitkan untuk masuk ke pasarinternasional. Permintaan komoditas hortikultura dari beberapa negara pengimporterutama di belahan bumi utara menunjukkan trend yang meningkat sehingga upayapeningkatan mutu produk perlu diprioritaskan.(5) Industri makanan yang menggunakan .komoditas hortikultura sebagai bahan bakuatau bahan pembantu saat ini masih beroperasi dibawah kapasitas terpasang sehinggaada peluang untuk pasar bahan baku. Namun untuk itu dituntut kualitas dankontinuitas produksi. Industri obat-obatan tradisiona! juga terus berkembang danmemerlukan bahan baku yang berkualitas tinggi.(6) Meningkatnya taraf hidup masyarakat mengakibatkan meningkatnya permintaanakan tanaman hias dan bunga-bungaan dalam bentuk bunga potong, tanaman hiaspot, tanaman hias landscape, dan tanaman-taman. Potensi ekspor tanaman hias asaltropik juga sangat besar dan belum sepenuhnya digarap.
(7)
Selain aspek kuantitas dan kualitas produk, aspek lain yang perlu mendapat perhatianpada produk hortikultura adalah aspek keamanan produk serta kelestarianlingkungan hidup. Penggunaan pestisida sering terlalu tinggi dan usahatanihortikultura di dataran tinggi kurang memperhatikan pengendalian erosi.(8) Peluang pengembangan industri perbenihan hortikultura masih sangat terbuka, untuk memproduksi benih bermutu varietas unggul sehingga produksinya mempunyaikeunggulan kompetitif. Peluang tersebut semakin terbuka dengan diterbitkannya UUNo. 29 tahun 2000 tentang perlindungan varietas tanaman.
Masalah dan Hambatan dalam Pengembangan Hortikultura
 
(1) Pemilikan modal yang terbatas dan luas pemilikan lahan yang sempit memerlukanstrategi pembinaan yang khas dan spesifik. Selain itu, usahatani hortikulturamemerlukan lahan dengan kesesuaian dan kemampuan tertentu, agroklimat spesifik dan membutuhkan tenaga kerja berketerampilan tinggi.(2) Tanaman berbagai komoditas hortikultura terdiri dan berbagai klon yang bervariasi,sehingga menyulitkan dalam grading dan standarisasi mutu hasilnya. Varietas-klona!yang mutunya bagus beium diproduksi daiam jumiah yang cukup banyak sehinggapenyediaan produk yang 'memenuhi skala ekspor sering sukar dipenuhi.
 
Pengembangan perbenihan hortikultura sesuai 6 tepat memerlukan modal besar baik dari segi teknologi, kelembagaan maupun sumberdaya manusia.(3) Serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang meliputi hama, penyakit dangulma sangat tinggi dan perlu diatasi karena menurunkan kuantitas dan kualitasproduksi hortikultura. Jenis OPT tanaman hortikultura sangat banyak sehinggapenggunaan pestisida sangat tinggi yang dikhawatirkan meninggaikan residu padaproduksi hasil panen.(4) Sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) belum diterapkan dengan baik.Pengendalian OPT masih banyak tergantung pada pestisida dan pada komoditastertentu penggunaannya secara berlebihan sehingga banyak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, biaya produksinya tinggi dan produk yang dihasilkankurang memberikan jaminan keamanan pangan.(5) Penanganan produk pasca panen masih bersifat tradisional sehingga mengakibatkantingkat kerusakan dan kehilangan hasil cukup tinggi, pengepakan dan transportasibelum dilakukdn dengan baik sehingga mengakibatkan kerusakan produk.(6) Pemasaran produk belum efisien, harga sangat fluktuatif dan bagian keuntungan bagipetani umumnya rendah dibandingkan dengan yang diterima pedagang.
KONSEPSI DALAM PENGEMBANGAN HORTIKULTURA
Agribisnis hortikultura di Indonesia saat ini, terutama untuk komoditas buah-buahan, didominasi oleh buah-buahan yang berasal dari usahatani kecil dan pekarangan.Karena itu keseragaman dan mutu hortikultura Indonesia rendah. Demikian pulakontinyuitas suplai tidak terjamin. Sebagai contoh exportir manggis yangmengumpulkan manggis dari Sumatera Utara sampai Sumatera Selatan, hanyamemperoleh buah yang mutunya dapat memenuhi pasar ekspor sebanyak 20% dari buahyang dikumpulkan. Itupun kuantitasnya tidak menentu dari tahun ke tahun.Pengembangan buah-buahan yang telah dilakukan dengan penyebaran bibit buah-buahan ke berbagai wilayah Indonesia dapat dikatakan gagal. Karena itu pengembanganbuah buahan tidak cukup hanya dengan membagi-bagi bibit. Harus ada suatu konsepsidan perencanaan yang jelas dan matang. Hortikultura Indonesia ke depan seharusnyabisa menunjukkan ciri-ciri pertanian berbudaya industri sebagai berikut:1.
 
Landasan utama pengambilan keputusan: Ilmu Pengetahuan2.
 
Instrumen utama dalam pemanfaatan SDA: Teknologi3.
 
Media utama dalam transaksi barang & jasa: Mekanisme Pasar4.
 
Dasar utama dalam alokasi sumberdaya: Efisiensi dan produktivitas5.
 
Orientasi utama: Mutu & keunggulan6.
 
Karakter yang menonjol: Profesionalisme7.
 
Pengganti ketergantungan pada alam: Perekayasaan8.
 
Produk yang dihasilkan memenuhi syarat: mutu, jumlah, volume, bobot, bentuk,ukuran, warna, rasa, tepat waktu dsb.)Pengembangan hortikultura harus melewati beberapa tahap, ialah: (1) menetapkankomoditas unggulan, (2) mempelajari potensi wilayah yang akan digunakan, dan (3)memilih lokasi di wilayah yang akan dikembangkan.

Activity (71)

You've already reviewed this. Edit your review.
Ery Kurniawan liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
Azwar Ridho liked this
Aan Adriansyah liked this
Aan Adriansyah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->