Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
21Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
bab_1_pendahuluan rev

bab_1_pendahuluan rev

Ratings: (0)|Views: 2,096 |Likes:
Published by jakarta2030

More info:

Published by: jakarta2030 on Jan 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030
1-1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Sejak diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, maka RTRW Provinsi DKI Jakarta yang ditetapkan dengan Perda Nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencanan Tata Ruang Wilayah Provinsi DKI Jakarta perlu dilakukan penyesuaian. Dalam UU tersebut mengamanatkan bahwa semua peraturan daerah provinsi tentang rencana tata ruang wilayah provinsi disusun atau disesuaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak UU ini diberlakukan. Dengan demikian, maka paling lambat tahun 2009 semua RTRW Provinsi diharapkan telah menyesuaikan dengan amanat UU No. 26 Tahun 2007.

Terdapat perbedaan antara UU Penataan Ruang yang lama dan baru dimana pada UU No. 24 Tahun 1992 sistem pengendalian pemanfaatan ruangnya menggunakan discretionary system atau KonsepDevelopme nt

Control, yaitu Mengatur kegiatan pembangunan yang meliputi pelaksanaan

kegiatan pendirian bangunan, perekayasaan, pertambangan maupun kegiatan serupa lainnya dan atau mengadakan perubahan penggunaan pada bangunan atau lahan tertentu (Khulball & Yuen, 1991) sehingga memungkinkan tetap melaksanakan pembangunan sebelum terdapat dokumen rencana. Sedangkan pada UU No. 26 Tahun 2007 menggunakan

regulatory system atau Konsep Zoning, yaitu Pembagian lingkungan kota
dalam zona-zona & menetapkan pengendalian pemanfaatan ruang yang
berbeda-beda (Barnett, 1982).

Beberapa poin penting yang perlu disesuaikan antara lain meliputi dimensi waktu perencanaan, visi dan tujuan penataan ruang wilayah, aspek kebencanaan dan daya dukung lingkungan, komposisi penggunaan lahan, peristilahan penataan ruang serta keberadaan insentif dan disinsentif yang jelas dalam kegiatan penataan ruang wilayah, juga keharusan pengenaan sanksi bagi siapapun yang melakukan penyimpangan atau ketidaksesuaian terhadap RTRW yang ditetapkan dnegan peraturan daerah. Perubahan ini membawa konsekuensi pada perubahan metodologi pendekatan dalam penyusunan RTRW Provinsi DKI Jakarta.

Selain adanya perubahan UU tentang penataan ruang, ditetapkannya Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional juga membawa konsekuensi untuk menyesuaikan RTRW Provinsi DKI Jakarta dengan RTRWN yang baru.

Kebijakan tentang DKI Jakarta sebagai ibukota negara diatur pada UU No.29 tahun 2007 tentang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Sebagai Ibukota Negara RI. Pada UU ini memuat aspek-aspek khusus terkait DKI Jakarta yaitu antara lain: kedudukan, fungsi, peran, kerjasama dengan

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030
1-2
pemda provinsi/kabupaten/kota yang berbatasan, rencana tata ruang
wilayah, penetapan kawasan khusus dan pendanaan.

Provinsi DKI Jakarta berkedudukan sebagai ibukota negara kesatuan RI. Selain itu, provinsi DKI Jakarta merupakan daerah khusus yang berfungsi sebagai ibukota negara RI dan sekaligu berperan sebagai daerah otonom pada tingkat provinsi. Provinsi DKI Jakarta berperan sebagai ibukota negara RI yang memiliki kekhususan hak, kewajiban, dan tanggung jawab tertentu dalam penyelenggaraan pemerintahan dan sebagai tempat kedudukan perwakilan negara asing, serta pusat/perwakilan lembaga internasional. Otonomi Provinsi DKI Jakarta diletakkan pada tingkat provinsi sehingga kabupaten dan kota di DKI Jakarta berbentuk adminitrasi saja.

Perkembangan provinsi DKI Jakarta diarahkan sebagai Kota Megalopolitan yang berfungsi sebagai kota induk dengan wilayah sekitarnya yang secara fungsional dan secara fisik geografis memiliki hubungan kesaling bergantungan. Konsep Kota Megalopolitan ini mengakibatkan kebutuhan kerjasama antar DKI Jakarta dengan daerah sekitar kawasan Megalopolitan Jakarta yang meliputi juga kawasan fungsional perkotaan di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Depok, Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi, serta Kabupaten Cianjur, sebagaimana kemudian diatur dalam Peraturan Presiden no. 54 tahun 2008 mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta-Bogor-Depok- Tangerang-Bekasi-Puncak-Cianjur (Jabodetabekpunjur).

Sebagai ibukota negara, DKI Jakarta mengalami perubahan lingkungan internal yang cukup signifikan yang berpengaruh pada struktur ruang dan pola ruang. Berdasarkan perkembangan yang terjadi pada tahun 1995 sampai dengan 2009, struktur dan pola ruang DKI Jakarta berdasarkan RTRW Provinsi DKI Jakarta 2010 telah dievaluasi dengan mengingat beberapa hal sebagai berikut :

\u2022

Perlunya mewadahi kebebasan yang leluasa bagi masyarakat dan para investor pembangunan untuk dapat memilih dan menentukan fungsi dan lokasi sesuai dengan persyaratan dan kebutuhan ruang yang dikehendakinya.

\u2022

Kota Jakarta yang mempunyai kelengkapan prasarana dan sarana komunikasi yang lebih baik telah menyebabkan Jakarta berdaya tarik lebih tinggi. Karenanya Jakarta berpeluang lebih luas untuk mengakomodasikan gejala

ekonomi lokal, nasional maupun
internasional..
\u2022

Peran Jakarta yang multi-fungsi dan berskala pelayanan luas (baik internasional, nasional, regional maupun lokal) menyebabkan makin tingginya aglomerasi berbagai komponen kegiatan untuk di berbagai kawasan yang sudah mapan.

\u2022

Karena dinamika perkembangan kegiatan masyarakat tersebut telah terjadi pertumbuhan struktur dan pola ruang dalam beberapa tahapan yang dalam beberapa keadaan berbeda dengan yang ditetapkan di dalam rencana tata ruang wilayah kota.

Dengan adanya perubahan lingkungan strategis nasional, terjadinya sistem penyelenggaraan negara dari sentralisasi menjadi desentralisasi dengan terbitnya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030
1-3

Pemerintah Daerah yang kemudian direvisi dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 yang memberikan hak otonom seluas-luasnya dan bertanggungjawab antara lain berupa pemekaran wilayah, Pilkada dan perubahan pada struktur perencanaan pembangunan nasional yang dicirikan dengan terbitnya Undang-undang No. 25 tahun 2005 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, serta Undang-undang No. 17 Tahun 2007, tentang Rencana Jangka Panjang Nasional, maka kepala daerah terpilih diharuskan menyusun RPJM dan RPJP di daerahnya masing-masing. Dokumen RPJMD ini akan menjadi acuan pembangunan daerah yang memuat antar lain visi, misi, arah kebijakan dan program- program pembangunan selama 5 (lima) tahun dan 20 (dua puluh) tahun kedepan. Dengan demikian, terkait kondisi tersebut, maka Dokumen RTRW yang ada juga harus mengacu pada visi dan misi tersebut. Dengan kata lain RTRW yang ada diharapkan menjadi bagian dari terjemahan visi dan misi daerah yang direpresentasikan dalam bentuk struktur ruang dan pola ruang.

Penyusunan Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DKI Jakarta

tersebut mengacu pada:
a. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
b. Rencana Tata Ruang Pulau Jawa-Bali
c. Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Jabodetabek
d. Pedoman bidang penataan ruang; dan
e. Rencana pembangunan jangka panjang daerah.

Penyusunan Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DKI Jakarta itu
harus memperhatikan :
a. perkembangan permasalahan nasional dan hasil pengkajian
implikasi penataan ruang provinsi;
b. upaya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi
provinsi;
c. keselarasan aspirasi pembangunan provinsi serta pembangunan

kota administrasi dan kabupaten administrasi;
d. daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
e. rencana pembangunan jangka panjang daerah;
f. rencana tata ruang wilayah provinsi yang berbatasan;
g. rencana tata ruang kawasan strategis provinsi; dan

h. rencana tata ruang wilayah kota administrasi dan kabupaten
administrasi.
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DKI Jakarta ini akan menjadi

pedoman untuk:
a. penyusunan rencana pembangunan jangka panjang daerah;
b. penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah;

c. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang dalam
wilayah provinsi;

d. mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antarwilayah kota administrasi dan kabupaten administrasi, serta keserasian antarsektor;

e. penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi;
f. penataan ruang kawasan strategis provinsi; dan
g. penataan ruang wilayah kota administrasi dan kabupaten
administrasi.

Activity (21)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Azis Syahban liked this
GitaSaraswati liked this
Ahmad Fadil Yan liked this
Anwar Nasusesion liked this
Hari Setiawan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->