Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
20Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
TUNAGRAHITA Tunagrahita Merupakan Kata Lain Dari Retardasi

TUNAGRAHITA Tunagrahita Merupakan Kata Lain Dari Retardasi

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 1,510 |Likes:
Published by Danx Zumaic Exodus

More info:

Published by: Danx Zumaic Exodus on Jan 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

 
TUNAGRAHITA
Tunagrahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (mental retardation). Tuna berartimerugi.Grahita berarti pikiran. Retardasi Mental berarti terbelakang mental. Tunagrahita seringdisepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:Lemah pikiran (Feeble Minded)Terbelakang mental (Mentally Retarded)Bodoh atau dungu (Idiot)Pandir (Imbecile)Tolol (Moron)Oligofrenia (Oligophrenia)Mampu Didik (Educable)Mampu Latih (Trainable)Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh RawatMental SubnormalDefisit MentalDefisit Kognitif Cacat MentalDefisiensi MentalGangguan IntelektualPengertian Tunagrahita menurut American Asociation on Mental Deficiency/AAMD dalamB3PTKSM, (p. 20) sebagai berikut: yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata(Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes; yang muncul sebelum usia 16 tahun; yangmenunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif. Sedangkan pengertian Tunagrahita menurutJapan League for Mentally Retarded (1992: p.22) dalam B3PTKSM (p. 20-22) sebagai berikut:Fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku.Kekurangandalam perilaku adaptif. Terjadi pada masa perkembangan, yaitu anatara masa konsepsi hinggausia 18 tahun. Pengklasifikasian/penggolongan Anak Tunagrahita untuk keperluan pembelajaranmenurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in OntarioSchools
 
Hati-hati memberikan layanan pendidikan terhadap anak-anak yang sulit berkomunikasi, keliru pendekatan dan terapi sangat beresiko menghambat perkembangan intelegensia anak. Tidak selamanya anak-anak yang sulit berkomunikasi itu adalah anak tuna grahita. Bisa jadi anak yang bergejala demikian tergolong autisme. Antara autisme dan tuna grahita terdapat perbedaanmendasar sehingga perlakuan yang diberikan pun harus berbeda.Menurut Eko Djatmiko Sukarso, Direktur Pembinaan SLB Depdiknas, Autisme adalah anak yang mengalami gangguan berkomunikasi dan berinteraksi sosial serta mengalami gangguansensoris, pola bermain, dan emosi. Penyebabnya karena antar jaringan dan fungsi otak tidak sinkron, ada yang maju pesat sedangkan yang lainnya biasa-biasa saja.Survey menunjukkananak-anak autisme lahir dari ibu-ibu kalangan ekonomi menengah ke atas.Adapun tuna grahita adalah anak yang mengalami hambatan dan keterbelakangan mental, jauh di bawah rata-rata. Gejalanya tak hanya sulit berkomunikasi, tetapi juga sulit mengerjakan tugas-tugas akademik. Ini karena perkembangan otak dan fungsi syarafnya tidak sempurna. Anak-anak seperti ini lahir dari ibu kalangan ekonomi menengah ke bawah.Sepintas, anak-anak autis dan tunagrahita memang sama-sama sulit berkomunikasi, tetapi dalam perkembangannya, pada situasi tertentu anak-anak autis bisa lebih cerdas membahasakansesuatu. Autisme hanyalah satu dari delapan jenis kelainan gejala khusus yang menjadi sasaranlayanan pendidikan khusus yang kini dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat. Jenis-jeniskelainan lainnya mencakup tuna netra (gangguan penglihatan), tuna daksa (kelainan pada alatgerak/tulang, sendi, dan otot), tuna grahita (keterbelakangan mental), dan tuna laras (bertingkahlaku aneh).Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, saat ini sekitar 1,5 juta anak di Indonesia yangmengalami kelainan seperti itu. Namun, karena terbatasnya sarana pendidikan luar biasa, barukurang lebih 50. 000 anak mengenyam pendidikan. Sesuai Deklarasi Salamanca 1994 dan UUSisdiknas, anak berkebutuhan khusus harus mendapatkan pendidikan setara dengan anak-anak lainnya. (Disadur dari: Spirit Edisi 8 Tahun I, Desember 2006)Sangat dipahami oleh semua guru, bahwa anak tunagrahita memiliki IQ yang jauh di bawah rata-rata normal. Karena IQ di bawah rata-rata inilah mereka dikelompokkan sebagai anak tunagrahita. Tratment yang diberikan kepada anak tunagrahita lebih difokuskan kepada life skilldan kemampuan merawat diri. 70% muatan pendidikan bagi anak tunagrahita difokuskan padakedua hal tersebut, selebihnya muatan-muatan akademik tetap diberikan untuk melengkapikebutuhan hidupnya. Apakah dengan pembagian seperti ini, anak tunagrahita dapat meraih
 
kesuksesan hidup? Tentu hal ini telah diperhitungkan dengan sangat jeli oleh pakar pendidikanluar biasa.Para orang tua anak tunagrahita memiliki kecenderungan untuk berpikir terbalik. Mereka berharap 70% muatan lebih difokuskan pada kemampuan akademik. Mereka akan sangat bangga, jika nilai raport anak-anak mereka memiliki nilai yang tinggi. Menjadi persoalan, ketikanilai yang diperoleh tidak sebanding dengan kemampuan nyata. Lalu orang tua akan ramai-ramaicomplaint kepada guru yang mengajarkan anak-anak mereka. Secara berbisik-bisik mereka akanmenjatuhkan judgment bahwa, bapak atau ibu “Fulan” tidak pandai mengajar. Atau anak saya“si-Fulan” tidak bisa membaca dan berhitung gara-gara diajar oleh pak “Fulan”.Para bapak dan ibu guru tentu saja tidak mau jadi korban gossip yang tidak jelas ini. Mereka beramai-ramai akan mengungkapkan alasan-alasan kenapa “si-Fulan” gagal bersama mereka.Ada baiknya, hal ini tersampaikan sejak awal melalui diskusi bersama antara guru dan orang tua.Sehingga guru dan orang tua sama-sama memahami batas optimal dari kemampuan anak danmembuat kesepakatan di dalam memberikan treatment bagi anak didik.Tuntutan keberhasilan akademik memang bukan murni milik anak tunagrahita. Di luar sana,masih ditemukan bagaimana orang tua yang tidak memiliki anak berkebutuhan khusus secaragencar memaksa anak-anak mereka untuk memiliki kemampuan akademik di atas standar kelas.Asumsi yang berkembang bahwa, anak-anak akan memiliki kesuksesan hidup jika nilai-nilaiakademik mereka tinggi. Secapramana (1999) memberikan catatan penting untuk dicermati, bahwa: Kecerdasan akademis sedikit kaitannya dengan kehidupan emosional. Orang dengan IQtinggi dapatterperosok ke dalam nafsu yang tak terkendali dan impuls yang meledak-ledak; orang dengan IQtinggi dapat menjadi pilot yang tak cakap dalam kehidupan pribadi mereka. Terdapat pemikiran bahwa IQ menyumbang paling banyak 20% bagi sukses dalam hidup, sedangkan 80% ditentukanoleh faktor lain. Kecerdasan akademis praktis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapigejolak atau kesempatan yang ditimbulkan oleh kesulitan-kesulitan hidup. IQ yang tinggi tidak menjamin kesejahteraan, gengsi, atau kebahagiaan hidup.Ini memberikan pemahaman, bahwa anak tunagrahita akan memiliki PELUANG BESAR UNTUK MERAIH KESUKSESAN HIDUP jika ia mampu mengembangkan kecerdasan-kecerdasan lain di luar IQ. Lalu siapa yang bertugas mengembangkan kecerdasan-kecerdasanlain di luar IQ tersebut? Tentu saja guru dan orang tua berpeluang untuk menghadirkankesempatan ini. Pandangan baru yang berkembang bahwa ada kecerdasan lain di luar IQ, seperti

Activity (20)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
ini temen
Yani Meimulyani liked this
Dandy Maulani liked this
Reza Mazda liked this
ALda Kye liked this
vita_sirait liked this
vita_sirait liked this
Arif Afandy liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->