You are on page 1of 1

Sajak Petani #3

Tanah kita mulai tak sedap dipandang, tanah kita mulai tak lembab lagi, walau embun
turun setiap malam setiap dinihari Angin bersalahan arah, kabut tak terarah dan cuaca
jadi demikian panas! Bagai tak ada lagi titik embun memendarkan berlian di
pucuk-pucuk daun. Labah-labah tak lagi meninggalkan bekas sarang di rumpun-rumpun
yang rendah. Kita telah kekurangan kegembiraan kita telah kekurangan keriangan kita
Hujan seolah berlari-lari meninggalkan tanah kita meninggalkan lahan kita meninggalkan
kebun-ladang kita meninggalkan nasib malang kita Memberikan kita pelajaran
penderitaan yang kesekian setelah waktu yang sedemikian panjang Alangkah malangnya
Hujan tak jadi berbagi jatuh berbagi kepedihan Hujan pergi berbagi pedih ke tanah yang
lain tanah yang tak kalah pedih dari pedih tanah kita Tapi kita adalah para pengolah tanah
yang selalu menyuarakan kesyukuran di celah-celah derita dan pedih hati, dan kita tahu
betapa kesyukuran yang kita sampaikan perlahan-lahan dari hulu qalbu kita, tanpa tergesa
memberikan kita tanah di bawah langit, yang membusur di cakrawala, seolah langit
hanya se-peraih lengan lagi dapat kita gapai, seolah dengan galah yang kita pegang,
langit akan melempai ke atas ubun-ubun kita Wahai rasa syukur yang gamang, memang
tak kita tadahkan tangan kita ke langit-langit kata, tetapi ruang antara langit dan langit,
langit dan awan, langit dan angin; bahkan guruh tak dapat memecah langit jadi mendung,
tak dapat pecahkan awan jadi jadi harap, tak dapat pecahkan angin jadi derail-hujan.
Air kuyupkan tanah kita, tapi tak lembab tanah kami tak basah tanah kami,
tapi hati kami pasrah, walau tak pernah sama-sekali lelah!

You might also like