/  15
 
© 2002 W. NasruddinPosted 19 May 2002Makalah Falsafah Sains (PPs 702)Program Pasca Sarjana / S3Institut Pertanian Bogor Mei 2002 Dosen:Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab) 
KUANTIFIKASI ILMU-ILMU SOSIAL: SUATU KEMAJUAN ATAU PEMBIASAN ?
(
Untuk Mengenang Jasa Almarhum Prof. Ir. Andi Hakim Nasoetion, PhD dalamPengembangan Metode Kuantitatif di Indonesia
)
 Oleh:W. Nasruddin
A.
 
546010121/EPN
I.
 
PENDAHULUAN 
Peranan matematika dan statistika sebagai alat bantu kuantitaif yang pentingdalam menyelesaikan persoalan-persoalan ilmu pengetahuan (juga teknologi, dankehidupan sehari-hari) sudah lama diakui, khususnya dalam rumpun ilmu-ilmupengetahuan alam (
natural sciences
) seperti Fisika, Astronomi, Geologi, dan lain-lain.Phytagoras (582-504 SM) salah seorang ahli Filsafat terkenal menyatakan tentangpentingnya pengukuran dalam kehidupan manusiaYang menarik, dewasa ini matematika dan juga statistika sudah pula menyusupiilmu-ilmu sosial seperti Ekonomi, Psikologi, Sosiologi, ilmu politik, ilmu hukum danbahkan juga linguistik. Malahan menurut Nasoetion (1970), konon ada Universitastertentu di luar negeri yang menganjurkan mahasiswa calon Ph.D. dalam bidang ilmusosial, untuk menggantikan syarat mahir berbahasa asing modern dengan syarat mahir dalam menggunakan matematika sebagai bahasa komunikasi universal.Dewasa ini kecenderungan menggunakan metode kuantitatif di kalanganilmuwan sosial semakin berkembang pesat. Di Indonesia penggunaan pendekatan
 
kuantitatif dalam menganalisis gejala kemasyarakatan relatif belum begitu lama,barangkali mulai tumbuh subur sekitar pertengahan tahun tujuh puluhan. Seperti halnyadi negara-negara Eropa (Barat) dan Amerika (Utara) tempat di mana pendekatan inimula-mula diperkenalkan dan dikembangkan, di Indonesia cabang ilmu sosial yangpaling banyak menggunakan pendekatan kuantitatif dalam analisisnya adalah ilmuekonomi, yang sering mendapat julukan sebagai “ratu” nya ilmu-ilmu sosial.
Ekonometrika
adalah cabang ilmu ekonomi yang menggunakan matematika danstatistika sebagai alat bantu untuk keperluan menjelaskan dan atau memprediksifenomena ekonomi.Selain itu para psikolog juga sudah banyak menggunakan pendekatan kuantitatif (
 psikometri 
) dalam mengukur kemampuan belajar, intelegensi dan sifat-sifat pribadi,menciptakan skala psikologis, meneliti kelakuan normal dan abnormal dan sebagainya.Sedangkan para sosiolog juga tidak mau ketinggalan dari rekan-rekan disiplin ilmu lain;mereka mengembangkan
sosiometri 
 untuk menguji teori tentang sistem sosial,merancang dan melaksanakan survei sampel untuk meneliti sikap, menemukanperbedaan antara kebudayaan dan sebagainya (Sembiring, 1984). Prancis StuartChapin adalah pemimpin aliran sosiologi kuantitatif yang menekankan penggunaanmetode statistika untuk studi fenomena sosial (Encyclopedia Encarta, 2002). Demikianpula Ilmu Politik sering menggunakan metode statistika untuk analisis survai pendapat,mengkaji hubungan antara tingkat kemakmuran suatu negara dengan tingkat demokrasidari pemerintahnya. Analisis runtun waktu dipakai dalam ilmu politik untuk menelusurihubungan-hubungan politis yang melibatkan waktu, misalnya kekuatan suara partaisosialis dan jumlah pembelanjaan pemerintah untuk program-program sosial sepanjangmasa.Sejak tahun akademik 2000/2001 Institut Pertanian Bogor (IPB) telah mendirikanFakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), dengan memberikan persyaratan bagi paracalon mahasiswanya (siswa lulusan SMU) konon harus berasal dari Jurusan IPA, yangbekal Matematikanya lebih kuat dari Jurusan IPS.Penulis makalah ini dengan berbekal pengetahuan yang minim mengenaimasalah ini, memberanikan diri untuk mencoba mempermasalahkan dan membahastentang kecenderungan kalangan ilmuwan sosial (termasuk ilmuwan sosial ekonomipertanian) menggunakan metode kuantitatif dalam menganalisis permasalahan sosial.Tulisan ini akan membahas :
 pertama
, mengenai faktor yang mendorongpenggunaan pendekatan kuantitatif dalam ilmu-ilmu sosial;
kedua
, mengenai manfaatpendekatan kuantitatif;
ketiga
, mengenai masalah dalam penerapannya dan
keempat 
mengenai prospeknya serta bagian
terakhir 
memuat kesimpulan yang bisa ditarik dari isimakalah ini dalam rangka menjawab apakah kuantifikasi dalam ilmu-ilmu sosial
 
merupakan suatu kemajuan atau pembiasan ?. Harapan pemrasaran semogapengetahuan mengenai hal ini akan bermanfaat. Amin.Menurut Kariawan (1986), pemakaian pendekatan matematika dalam ilmuekonomi mengalami perkembangan yang cukup pesat selama 10 tahun terakhir ini.Pemakaian ini ditandai dengan meningkatnya pembentukan model ekonometrika yangsangat matematis. Ajaran ekonomi yang sangat mengandalkan matematika adalahRatex (
Rational Expectation
). Walaupun ajaran Keynes dan Monetaris relatif sedikitmenggunakan matematika dibandingkan dengan Ratex, tetapi perkembangannya yangterakhir cenderung makin matematis. Indikator lainnya yang dapat dijadikan ukuranadalah jumlah karangan (artikel) ekonomi yang pada akhir-akhir ini cenderung makinmatematis.Menurut the
Economist 
(22 September 1984) seperti yang disitir oleh penulis diatas, jumlah artikel ekonomi dalam majalah
 American Economis Review 
yangmenggunakan pendekatan model matematika mendominasi hampir 72 % pada periode1972-76, persentase ini naik menjadi sekitar 78,6 % pada periode 1977-1981.Kemudian kalau kita amati pula artikel mengenai Ekonomi Pertanian dalamartikel
 American Journal of Agricultural Economics
misalnya, atau untuk Indonesiamajalah serupa ini adalah
Jurnal Agro Ekonom
terbitan Pusat Penelitian danPengembangan Sosial Ekonomi Pertanian (PSE) Bogor sebagian besar analisisnyamenggunakan pendekatan kuantitatif berupa model-model ekonometrika yang cukuprumit. Rasanya akan sulit bagi kita yang kurang berbekal dalam metode kuantitatif atauekonometrika untuk dapat memahami dengan baik isi keseluruhan dari artikel yangdimuat dalam jurnal-jurnal tersebut. 
II.
 
FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG KUANTIFIKASI DALAM ILMU-ILMUSOSIAL 
Menurut Suriasumantri (1984) ditinjau dari perkembangannya maka ilmu dapat dibagidalam tiga tahap yakni tahap
sistematika, komparatif,
dan
kuantitatif 
. Pada tahap
sistematika
,maka ilmu menggolong-golongkan obyek empiris ke dalam kategori-kategori tertentu.Penggolongan ini memungkinkan kita untuk menemukan ciri-ciri yang bersifat umum darianggota-anggota yang menjadi kelompok tertentu. Ciri-ciri yang bersifat umum ini merupakanpengetahuan bagi manusia dalam mengenali dunia fisik. Dalam tahap
komparatif 
kita mulaimelakukan perbandingan antara obyek yang satu dengan obyek yang lain, kategori yang satudengan kategori yang lain, dan seterusnya. Kita mulai mencari hubungan yang didasarkankepada perbandingan di antara berbagai obyek yang kita kaji. Tahap selanjutnya yaitu tahap
kuantitatif 
, kita mencari hubungan sebab akibat tidak lagi berdasarkan perbandingan melainkan

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...

This document has made it onto the Rising list!