Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
4Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Orang Tionghoa Dalam Negara Indonesia Yang Dibayangkan

Orang Tionghoa Dalam Negara Indonesia Yang Dibayangkan

Ratings: (0)|Views: 1,026|Likes:
Published by lianatalia

More info:

Published by: lianatalia on Jan 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

02/05/2014

pdf

text

original

 
VERITAS 
10/2 (Oktober 2009) 259-284
ORANG TIONGHOA DALAM NEGARA INDONESIAYANG DIBAYANGKAN: ANALISIS PERCAKAPANPARA PENDIRI BANGSA DALAM SIDANG-SIDANGBPUPKI DAN PPKI
MARKUS D. L. DAWA PENDAHULUANPada 1995, Institut DIAN/Interfidei menerbitkan sebuah buku yangsebagian besar berisi makalah yang didiskusikan dalam seminar bertajuk“Konfusianisme di Indonesia,” yang diadakan pada tahun sebelumnya olehInstitut DIAN/Interfidei juga. Judul buku itu adalah
Konfusianisme di Indonesia: Pergulatan Mencari Jati Diri.
 
Buku ini memang khusus bicarasoal Konfusianisme di Indonesia. Namun, percakapan tentangKonfusianisme tidak bisa dilepaskan dari percakapan tentang orang-orangTionghoa, yang sebagian besar memeluk keyakinan ini. Karena itu, bicaratentang pergulatan Konfusianisme yang mencari jati dirinya di bumiIndonesia tidak bisa tidak juga menyentuh para pemeluknya, orang-orangTionghoa.Buku itu hanya salah satu dari sekian banyak buku yang pernah ditulistentang orang-orang Tionghoa. Sejak terbitnya buku itu, persoalan siapadan di mana orang Tionghoa dalam kehidupan berbangsa dan bernegaraIndonesia pun tidak pernah selesai dibicarakan. Tiga tahun setelah bukuitu diterbitkan, menyusul jatuhnya rezim Orde Baru pada 1998, terjadikerusuhan hebat di beberapa kota di Indonesia, yang mana salah satukorbannya adalah orang-orang Tionghoa. Terlepas dari pahit-getirnyaperistiwa itu, bagi orang-orang Tionghoa, kerusuhan itu hanyalah sekadarletupan di permukaaan dari isu yang sebenarnya belum pernah tuntasdiselesaikan, yaitu soal tempat atau posisi orang-orang Tionghoa Indonesiadi dalam konfigurasi masyarakat dan negara Indonesia. Siapakah
1
Th. Sumartana et al.,
Konfusianisme di Indonesia: Pergulatan Mencari Jati Diri 
 DIAN III/Tahun II (Yogyakarta: Interfidei, 1995).
 
260 Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
sebenarnya orang Tionghoa ini di mata orang-orang non-Tionghoa diIndonesia? Jauh sebelum negara Indonesia berdiri, siapakah merekamenurut pemahaman Bapak-Bapak Pendiri Bangsa Indonesia? Apakahmereka sungguh bagian integral bangsa ini? Ataukah mereka, memakaiungkapan rasul Paulus dalam Surat Roma, adalah “tunas liar” yang bukancabang asli dari sebuah pohon yang disebut Indonesia?
2
Kalau jawabannya ya, pertanyaan berikutnya adalah pemahaman-pemahamanmacam apakah tentang Indonesia yang telah memberi ruang muncul danberkembangnya cara pandang semacam itu? Mengapa sampai muncul,setidaknya dalam pemikiran para Bapak Bangsa Indonesia, dikotomisemacam itu? Arikel ini bermaksud menelusuri persoalan-persoalan di atas denganmenggunakan teori Ben Anderson tentang bangsa sebagai
the imagined communities 
sebagai alat bantu untuk menginterogasi pikiran-pikiran paraBapak Pendiri Bangsa Indonesia, yang terungkap dalam pidato-pidatomereka di dalam sidang-sidang BPUPKI dan PPKI. Pikiran-pikiran yangterungkap selama sidang-sidang ini dijadikan acuan di sini karena, menurutsaya, persidangan itu memiliki nilai historis yang amat penting bagi lahirnyanegara Indonesia. Ia amat penting karena menjadi landasan bagi generasibangsa Indonesia selanjutnya memahami dirinya. Meski waktu yangtersedia untuk merenungkan Indonesia tidak banyak, jika dibaca dari sudutpandang durasi waktu mereka bersidang, namun bukan berarti pikiran-pikiran itu muncul saja secara tiba-tiba. Seperti yang diungkapkan BungKarno dalam pidatonya tentang dasar negara, ia telah sejak lama sekalimerenungkan dan memperjuangkan Pancasila. “[S]aya berjuang sejak 1918sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung itu . . . . Pancasila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh tahun.”
3
Kalaudemikian, maka apa yang terungkap dalam persidangan itu bisa dipakaisebagai deskripsi yang mendekati kenyataan yang selama ini dipikirkan dandibayangkan tentang Indonesia saat itu dan kemudian.BANGSA SEBAGAI SEBUAH KOMUNITAS YANGDIBAYANGKAN
2
Roma 11:17.
3
Saafroedin Bahar dan Nannie Hudawati, ed.,
Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 28 Mei 1945-22 Agustus 1945 
(Jakarta: SekretariatNegara Republik Indonesia, 1998) 104.
 
Orang Tionghoa dalam Negara Indonesia yang Dibayangkan
 
261
 
Pendapat umum yang berkembang tentang terjadinya sebuah negaradan bangsa adalah melihat bangsa dan negara sebagai konsekuensi logisdari evolusi sebuah masyarakat. Studi yang dilakukan oleh Lewis H.Morgan dan Sir Henry Maine mendapati bahwa pengikat awal yangmempersatukan manusia dalam sebuah komunitas politis adalah
kinship,
 kekerabatan. Selanjutnya, seiring dengan semakin besarnya komunitasbaik karena kelahiran maupun karena masuknya orang-orang yang tidakterikat oleh sistem kekerabatan yang ada, komunitas itu kemudianberkembang menjadi organisasi politis yang lebih besar yang dinamakannegara. Namun di sini kekerabatan atau hubungan darah bukan lagifaktor yang mengikat-satukan. Faktor baru yang dipakai untukmempersatukan komunitas adalah teritori—area atau wilayah di manamereka saat itu berdiam.
4
Di sini kemudian gagasan tentang bangsamuncul. Mereka tidak lagi dikenal dengan nama keluarga atau klan tetapidengan nama baru,
bangsa 
(
nation 
).Sebelum Morgan dan Maine, pemahaman orang tentang asal muasalterjadinya negara dan bangsa dipengaruhi pikiran-pikiran Rousseau,Locke, dan Hobbes yang melihat bangsa dan negara sebagai sebuah“kontrak sosial” yang diadakan oleh anggota-anggota bangsa dan negaraitu.
5
Pikiran yang berangkat dari paham individualisme ini melihat bangsadan negara lahir bukan dari evolusi sosial tetapi berangkat dari keinginantiap-tiap individu yang tidak terikat oleh suatu hubungan genealogistertentu untuk mempersatukan diri dalam sebuah komunitas politisbernama negara. Selanjutnya, untuk memberinya identitas tertentu,negara ini kemudian diberi nama tertentu dan orang yang berdiam didalam batas-batasnya disebut sebagai bangsa yang sesuai dengan nama yang diberikan untuk negara tersebut.Terhadap dua teori tersebut, Anderson mengusulkan teori baru, yangmenurutnya jauh lebih memuaskan. Alasannya, kedua teori di atasberangkat dari suatu asumsi bahwa anggota-anggota masyarakat negaradan bangsa itu saling mengenal satu sama lain. Di sini ungkapan “kontraksosial” menjelaskan sekali soal tersebut. Tidak mungkin sebuah kontrakdibuat tanpa terlebih dulu pihak-pihak yang melakukannya mengenaldengan baik satu sama lain. Di pihak lain, istilah-istilah semacamkekerabatan, keluarga atau klan, juga dengan caranya sendirimemperlihatkan bahwa ada semacam “keintiman” di antara anggota-
 
4
Melville J. Herskovits,
Cultural Anthropology 
(New York: Alfred A. Knopf, 1966)191, 192.
5
Ibid.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->