Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
93Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kajian Tingkat Bahaya Longsor

Kajian Tingkat Bahaya Longsor

Ratings: (0)|Views: 2,931 |Likes:
Published by bekti hore2
tingkat bahaya longsor
tingkat bahaya longsor

More info:

Published by: bekti hore2 on Jan 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/28/2013

pdf

text

original

 
1
ANBAB IPENDAHULUANA.Latar Belakang Masalah
Posisi geografis dan geodinamik Indonesia telah menempatkan Indonesiasebagai wilayah yang rawan bencana (
natural disaster prone region
). Indonesiamerupakan negara kepulauan yang menjadi tempat pertemuan tiga lempeng besar,yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Interaksiantar lempeng tersebut lebih lanjut menempatkan Indonesia sebagai wilayah yangmemiliki aktivitas kegunungapian (
vulkanisme
) dan kegempaan yang cukuptinggi. Lebih dari itu, proses dinamika lempeng yang cukup intensif jugamembentuk relief permukaan bumi yang khas dan sangat bervariasi, mulai daridatar hingga pegunungan yang berlereng terjal. Surono (2008) dalam ArisPoniman dkk (2008), menyatakan bahwa topografi terjal yang tersusun oleh batuan dengan pelapukan tinggi dan curah hujan tinggi akan memicu daerahtersebut menjadi daerah rawan longsor.Tanah longsor (
landslide)
adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran bergerak ke bawah atau keluar lereng. Kabul Basah Suryolelono (2002) menjelaskan bahwa peristiwa longsor atau dikenal sebagai gerakan massa tanah, batuan ataukombinasinya, sering terjadi pada lereng-lereng alami atau buatan dan sebenarnyamerupakan fenomena alam, yaitu alam mencari keseimbangan baru akibat adanyagangguan atau faktor yang mempengaruhinya dan menyebabkan terjadinya pengurangan kuat geser serta peningkatan tegangan geser tanah. Pada prinsipnyatanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dankepadatan tanah. Sementara, gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudutkemiringan lereng, air, beban serta berat jenis tanah dan batuan. Di daerah dengankemiringan lereng terjal yang ditutupi oleh lapisan tanah penutup yang lunak ataugembur, air hujan dapat dengan mudah merembes pada tanah yang gembur dan
 
1
 
2 batuan lempung yang berongga atau retak-retak. Air rembesan ini berkumpulantara tanah penutup dan batuan asal yang segar pada lapisan alas yang kedap air.Tempat air rembesan ini berkumpul dapat berfungsi sebagai bidang luncur.Meningkatnya kadar air dalam lapisan tanah atau batuan, terutama pada lereng-lereng bukit akan mempermudah gerakan bergeser atau tanah longsor.Seiring perkembangan zaman, aktivitas manusia semakin mengarah padaeksploitasi alam secara berlebihan, baik diperuntukan dalam rangka memenuhikebutuhan hidup. Pemanfaatan sumberdaya alam dalam DAS secara sewenang-wenang seperti penggundulan hutan, pembukaan lahan-lahan baru dilereng-lereng bukit, tata kota yang tidak sesuai peruntukkannya, dan pemanfaatanlahan yang tidak memperhatikan kaidah konservasi telah menyebabkan beban pada lereng semakin berat. Kondisi tersebut secara tidak langsung akan memicuterjadinya bencana akibat degradasi lingkungan, misalnya tanah longsor. MenurutDinas Pekerjaan Umum (2009), bencana diartikan sebagai suatu peristiwa ataurangkaian peristiwa yang disebabkan oleh perang, alam, perbuatan manusia, dan penyebab lain yang dapat mengakibatkan korban dan penderitaan manusia,kerugian, kerusakan serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat. Jadi, peristiwa longsor maupun fenomena alam lainnyatidak selalu disebut sebagai bencana, jika tidak mengakibatkan korban jiwa ataugangguan terhadap penduduk sekitar. Namun, saat ini keadaan tersebut sulit berlaku di DAS-DAS hulu, termasuk di Kabupaten Karanganyar.DAS Jlantah adalah salah satu DAS yang terletak di KabupatenKaranganyar. Di bagian hulu, DAS tersebut memiliki ketinggian yang berkisar antara 500 – 1000 m dpal dengan kemiringan lereng landai – sangat curam (8 – >45%), sehingga mengisyaratkan bahwa sebagian daerahnya adalah terjal yang berpotensi longsor. Berdasarkan kaidah konservasi, daerah dengan kemiringan>45% seharusnya hanya diperuntukkan menjadi kawasan lindung dimana permukiman dan tanaman budidaya tidak diperbolehkan. Namun, kawasanlindung dan penyangga di beberapa DAS hulu Kabupaten Karanganyar telah berubah menjadi area penanaman sayuran dan tanaman tahunan, serta berkembang permukiman di antara bukit-bukit terjal.
 
3Longsor dalam skala kecil maupun besar, selalu terjadi dari waktu kewaktu dan bahkan akhir-akhir ini semakin tinggi intensitasnya. Di KabupatenKaranganyar terdapat beberapa kecamatan yang rawan longsor, yaitu KecamatanJenawi, Ngargoyoso, Tawangmangu, Jatiyoso, Matesih, dan Karangpandan.Setiap daerah tersebut memiliki tingkat kerawanan longsor yang berbeda-beda.Hal tersebut ditentukan oleh perbedaan karakteristik lahan yang sekaligus sebagai parameter penyebab longsor, seperti kemiringan lereng, jenis tanah, kondisi batuan, hidrologi, iklim, penggunaan lahan, dan kerapatan vegetasi.Analisis tingkat bahaya longsor tanah di masing-masing DAS hulu diKabupaten Karangayar sangat diperlukan. Analisis tersebut dapat digunakanuntuk penyusunan informasi penanggulangan bencana yang digunakan sebagaimasukan bagi perencanaan dan pembangunan wilayah maupun penyempurnaantataruang wilayah. Potensi terjadinya longsoran ini dapat diminimalkan denganmemberdayakan masyarakat untuk mengenali tipologi lereng yang rawan longsor tanah, gejala awal lereng akan bergerak, serta upaya antisipasi dini yang harusdilakukan. Sistem peringatan dini yang efektif sebaiknya dibuat berdasarkan prediksi, bilamana dan dimana longsor akan terjadi juga tindakan-tindakan yangharus dilakukan pada saat bencana datang.Desa Tlobo merupakan salah satu desa yang ada di DAS Jlantah BagianHulu. Desa ini merupakan desa yang aksesbilitasnya cukup tinggi dibandingkandengan desa lain. Satuan lahan yang masuk desa ini cukup bervariasi sehinggadapat dijadikan populasi dalam penelitian ini. Melalui hasil survei dan pengamatan peta tentatif, diketahui bahwa Desa Tlobo memiliki kemiringanlereng yang cukup kompleks dan penduduk yang relatif padat. Sebagian permukiman penduduk menempati daerah berlereng curam yang rawan bencanatanah longsor. Penggunaan lahan yang tidak tepat dan kurangnya pemahamanmasyarakat pada karakteristik lahan tempat mereka tinggal turut sertamemberikan pengaruh pada tingkat bahaya longsor di Desa Tlobo. Untuk itu perlukiranya dilakukan penelitian dan analisis tingkat bahaya longsor, yang hasilnyadapat disosialisasikan kepada masyarakat agar lebih peduli dan tidak melakukaneksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan yang dapat membahayakan diri

Activity (93)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Febriani Safitri liked this
DjayusYus liked this
Wawan Suwondo liked this
Susho' Gwiyeoun liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->