/  3
 
Saya gak mau selingkuhin fitri…
 
(memasalahkan moralitas sosial Iedul Fitri)
Oleh : Roni Basa
Sadang Serang-Bandung, 18 Ramadhan 1430 H 
Bil, kali ini aku akan sampaikan kepadamu, betapa seringkali perilaku terhadap kehidupanmemuat perihal-perihal agung berdasarkan –apa yang disebut- moralitas. Aku bisamenyatakan kamu tidak bermoral sebab kamu –misalnya- tidak berpuasa saat bulanramadhan. Berdasarkan agama yang kamu anut dan yakini, berdasarkan agama yang samayang aku anut serta yakini, tidak berpuasa merupakan pelanggaran ‘kode moral’. Dalamketerbatasan pemahamanku tentang puasa ini, terlepas dari doktrin agama (there is nothingintrinsically irrational about this intuitionist doctrine), bukankah puasa mengarah kepadaperilaku trandensial dalam sosialitas?, maksudku, bukankah puasa diberlakukan agarkamu dan aku mampu merasakan hal yang sama yang dirasakan orang lain yang memilikiketerbatasan memenuhi kebutuhan konsumsi dan komponen hidup sehari-hari lainnya?.Tidak puasa, menunjuk orang yang tidak berpuasa tidak memiliki moralitas sosial kepadaorang lain yang memiliki keterbatasan dalam pemenuhan kehidupan. Tidak berpuasaadalah tidak memiliki moral sosialitas.Seperti biasanya Bil, saat aku sampaikan pemahamanku tentang sesuatu, maka kamu akanberupaya untuk menjadi oposit atasnya. Dan kamu akan tanyakan “bagaimana denganyang memiliki kemampuan materil untuk berpuasa lalu tidak berpuasa sebab kehilangankemampuan maksimal fisiknya?”, udzur dan atau dalam perjalanan misalnya. Tidak semerta ia tidak memiliki moral sosial dalam trandensialnya puasa. Agama yang dianutnyatidak melepaskan kewajibannya, ia akan melakukan puasa, menggantikan dikemudian harikarena keterbatasan maksimal fisik. Ia tetap memiliki tanggung jawab moral untuk berpuasa.Jadi ini tentang sosialitas Bil, tempat dimana moralitas itu bersemayam. Agama terlaluagung untuk kamu jadikan alasan berpuasa. Agama hanya menuntutmu agar lebihmemiliki moral dalam sosialitas. Atas itu semua, Tuhan memposisikan puasa sebagaibentuk penghambaan yang hanya Tuhan mempunyai hak menilainya. Kamu tidak bisasombong sebab kamu telah melakukan puasa; manifestasi praktis pen-hambaanmu kepadaTuhan. Hilangkan segera sangkaan jika puasa dianggap kebutuhan Tuhan untuk selaludisembah olehmu.Bil, kamu memiliki kemampuan beralasan kondisi fisikmu tidak cukup layak menunaikanpuasa, dengan itu terbukalah peluang sah untuk tidak berpuasa. Bersiap sajalah,imanenilitas agama akan menyebutmu hamba yang telah mengingkari perintah Tuhankarenanya. Tuhan, dengan tidak berpuasanya kamu, telah kamu sangka dapat di-ingkaripenglihatanNya. Tuhan Maha Melihat, kamu tahu itu.Sekali lagi Bil, Tuhan tidak membutuhkan puasamu. Sebaliknya, Tuhan mengajakmumemasalahkan moral sosilitasmu dalam kehidupan, tempat dimana berada dan bertemudengan yang berpuasa setiap harinya sebab keterbatasan materil dalam hidup.
http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
 
 cakra bagaskara manjer kawuryan 
 
http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com
 
 cakra bagaskara manjer kawuryan 
Dengan demikian, berdasarkan pendekatan moral sosial, puasamu tidak bernilai jika tidak mampu membuatmu lebih bermoral. Pada akhirnya bukan jaminan, puasa akanmengarahkanmu kepada kesucian (fitri) yang Tuhan janjikan setelahnya, sebab, -sekalilagi- Tuhan tidak membutuhkan puasamu sebagai bentuk pen-hambaan kepadaNya. Ingat,Tuhan akan menilai sendiri puasamu, penilaian tanpa intervensi siapapun, dan jangantersinggung jika kelak Tuhan akan menilainya sebatas ketahanan fisikmu menahan hausdan lapar saja.Being a live is benefit only if it enables you to carry on activities and have thoughts,feelings and relations with other people, in another words, if it enables you to have a life.Tanpa membangun moral sosial jauh lebih baik saat dan setelah bulan ramadhan, puasamuhanya kamu tunaikan sebab imanenialitas puasa saja. Kamu akan tetap berada dalamlingkaran ritual agama tanpa memenuhi nilainya dalam kehidupan sosial.***Mengenai selingkuh yang kali ini aku sampaikan jelas akan mengecewakanmu Bil. Tapibaiklah, agar permasalahan ini tidak terlalu mengecewakan harapanmu, analoginya akandilakukan dengan pendekatan yang sesuai harapanmu. Hanya sekedar pendekatan, bukanberati itu yang akan aku sampaikan.Selingkuh mungkin saja baik menurutku dan tidak baik menurutmu atau untuk orang lain.Selingkuh dalam kasus yang lebih spesifik, dan ini aku kira sesuai dengan harapanmu,adalah selingkuh terhadap pasanganmu. Selingkuh terhadap komitmen yang telah akusepakati dengan pasanganku misalnya, akan baik menurutku dan tidak baik menurutmuatau untuk orang lain.On the other case, if someone says “I like cofee”, he does not need to have a reason- he ismerely stating a fact about him self, and nothing more. There is no such things as“rationality defending” one’s like or dislike of cofee, and so there is no arguing about it.So long as he is accurately reporting his states, what he says must be true. Moreover, thereis no implication that anyone else should feel the same way; if everyone else in the worldhates coffee, it doesn't matter.On the other hand, if someone says that something is morally wrong, he does needreasons, and if his reasons are sound, other people must acknowledge their force. By thesame logic, if he has no good reason for what he says, he is just making noise and we needpay him no attention.Sayangnya Bil, aku memang tidak menyukai selingkuh, apapun sikapmu tentang isuselingkuh adalah benar menurutmu dan aku menghormatinya. Sayangnya juga Bil,selingkuh yang ingin aku sampaikan ialah perilaku selingkuh terhadap kesucian;kembalinya kefitrian seseorang setelah ia menunaikan puasa.Aku telah sampaikan sebelumnya, moral sosialitas yang puasa inginkan dari pelakunyamenjanjikan kepastian penuh kepada jalan fitri. Janji pasti yang menggoda bagi setiappelaku puasa. Dan perilaku selingkuh dalam kasus ini menunjuk pada nilai trandensialpuasa, manifestasinya dalam kehidupan sosial, konsistensi keberlanjutan setelahnya.

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...