Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Pers Mahasiswa (2005)

Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Pers Mahasiswa (2005)

Ratings: (0)|Views: 385 |Likes:
Published by tjak kasan

More info:

Published by: tjak kasan on Feb 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/12/2013

pdf

text

original

 
 
Memperkuat “Competence Market”
Belajar menjadi Jurnalis Profesional melalui Pers Mahasiswa (?/!)
 
Copyleft
©
2005 by Hasan Bachtiar
 
 Bahkan di jaman pergerakan tempo hari, di sini maupun di Nederland, penerbitan mahasiswa seperti sempat menjadi bentara kebangkitandan perjuangan nasional yang amat bermutu dan berpengaruh.
Jakob Oetama (1977)
ara ahli studi bisnis mendefinisikan “pengelolaan sumber daya manusia (
human resourcesmanagement 
, HRM)” sebagai “upaya pemanfaatan semua sumber daya manusia yang belumterolah di dalam suatu organisasi, apakah itu potensi keahlian, pengetahuan,komitmen/loyalitas, atau kompetensi”. Sekurang-kurangnya terdapat dua macam aliran utamadalam studi dan kebijakan pengelolaan SDM dalam suatu organisasi/perusahaan. Pertama,
hard version of 
HRM, yaitu semua usaha untuk membuat para pekerja menyumbangkan segala apa yangterbaik yang dimilikinya bagi perusahaannya. Kedua,
soft version of 
HRM, yakni segenap upaya pembinaan personalia yang selalu didasarkan pada penjagaan hak-hak pekerja. Kelihatannya, secarasepintas, pada yang pertama tercium bau eksploitatif, sedangkan pada yang kedua mungkindimunculkan semangat emansipatif. Meski demikian, kedua-duanya, pada akhirnya, inginmenciptakan suatu “sistem kerja yang bernilai tinggi” (
a highly valued working system
).
1
 Makalah ini akan mendiskusikan sejumlah alternatif strategi dalam pengelolaan sumber daya manusia awak pers mahasiswa—selanjutnya disingkat: persma—yang, dalam salah satu teorimanajemen, disebut sebagai “
competence market 
”. Namun, sebelum itu, dengan cara agak sedikitmemutar, akan diulas secara singkat perihal seluk-liku persma. (Sebabnya, hanya dengan mencapaisuatu tingkat kejelasan tertentu tentang isu inilah maka maksud utama makalah ini ditulis akan bisaterpenuhi). Kesemua poin perbincangan dalam makalah ini akan sangat bergantung—dan akhirnya juga berjangkar—pada pemaknaan terhadap persma itu sendiri. Apakah jati diri persma? Apa fungsidan peran yang dimainkan persma—secara “ideal” maupun “real”? Jenis manusia bagaimanasajakah yang menghidupinya? Lantas, bagaimana itu semua berinteraksi di dalam pelbagai konteksmakro (sosial, ekonomis, politis, kultural, dll.)?
Kontestasi (Politik) Pemaknaan
ika merefleksikan pengalaman berkecimpung dalam dunia persma selama empat tahun (1998— 2002) plus survai bibliografis, observasi singkat, dan diskusi dengan rekan-rekan yang masihaktif di persma, dengan sedikit saja imajinasi serta tanpa perlu menerapkan kuantifikasi yang presisi, saya berani mengajukan suatu simpulan bahwa, sekurang-kurangnya, terdapat empat caramemaknai apa itu makhluk yang bernama persma ini. Bagi saya, ini semua menunjukkan bahwa persma adalah suatu entitas yang multidimensional, kenyataan yang bergerak dalam dinamika tiada
 
 Manuscript-in-progress
, bahan diskusi untuk Pelatihan Jurnalistik Pers Mahasiswa se-Indonesia yang diselenggarakanoleh Majalah
Sektor 
, Lembaga Penerbitan Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Airlangga, Surabaya, 24 Agustus2005.
Penulis kini bekerja sebagai
 fellow researcher 
di INSIST (
the Indonesian Society for Social Transformation
),Yogyakarta, redaktur Buletin
Populi
dan staf program IRCOS (
 Institute for Research and Community Development Studies
), Jakarta, serta staf Divisi Pengembangan Kapasitas di INS@N (Institut Studi dan Aksi Kemanusiaan),Surabaya, di samping sedang menyelesaikan studi linguistik di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, UniversitasGadjah Mada. Dulu, penulis pernah aktif sebagai redaktur Majalah/Jurnal Mahasiswa UGM BALAIRUNG (1998 s.d.2002). E-mail: bachmana2004@yahoo.com.
1
Untuk ikhtisar singkat mengenai perkembangan kajian topik ini dalam khazanah ilmu-ilmu sosial, lihat John Purcell,
 Human Resource Management 
(Manajemen Sumber Daya Manusia)”, dalam Adam Kuper dan Jessica Kuper,
 Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial
, Penerjemah: Haris Munandar, dkk. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000 [1996]), hlm.463—464.
P
J
Page 1 of 16
 
 
henti—suatu proses yang belum dan barangkali tak akan pernah selesai dalam menemukan bentuknya yang terbaik menurut zamannya. Pemerian berikut mencoba merinci secara ringkas, dandengan sengaja ditempuh risiko untuk sedikit melakukan simplifikasi, keempat jenis pemaknaanterhadap persma tersebut.
KOMODITAS.
Pertama, sebagian awak persma selama ini memaknai persma sebagai suatu“komoditas”—produk dan sistem produksi. Kelompok pertama ini melihat kegiatan menerbitkan persma sebagai proses “manajemen produksi”, yang digerakkan oleh satu jenis logika dasar danstandar “
input 
 
Æ
 
 process
Æ
 
output 
”. Kelompok ini menganggap bahwa orientasi akhir aktivitas“ber-persma ria” adalah menghasilkan “barang/komoditas”, yang lantas bakal dilempar ke pasar untuk dipertarungkan dengan komoditas-komoditas lainnya dalam suatu permainan
market sharing,segmentation and struggling
. Maka, kepuasan tertinggi yang diakui kelompok ini adalah jika produknya, yaitu persma (entah berupa majalah, tabloid, buletin, koran, situs internet, dll.) itu“laku” di—atau bahkan mampu menguasai—pasar. Sejumlah ciri umum para proponen kelompok ini, kira-kira, ialah selalu “mengagung-agungkan” suatu jenis etos “profesionalisme” modern-industrial, rasionalisme-ekonomis, dan relasi interpersonal yang non-emosional, namun juga kreatif dan inovatif—untuk selalu bekerja gigih dalam memenangkan pasar. Inilah kelompok yangmelakukan “komodifikasi” persma.
ORGANISASI.
Kedua, sebagian awak persma yang lain melihat bahwa persma adalah“organisasi” yang lazim saja, sebagaimana organisasi-organisasi kemahasiswaan lainnya. Orang-orang di kubu ini memberi tekanan keseluruhan proses kolektif untuk menggerakkan, menjaga, danmeningkatkan “sistem”, prosedur, atau mekanisme. Ukurannya ialah kualitas dan kuantitas kinerja(
work performance
). Mereka menyukai disiplin fungsional, hierarki dan otoritas dalam hubungan profesional, ketaatan pada konstitusi/aturan main, memiliki pelbagai
standard operational procedures
(SOP), sehingga memaknai demokrasi secara formal-prosedural. Suatu macam“ideologi” dianut di sini, yakni efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan sumber-sumber daya(
human, material, financial dan informational resources
), melalui cara-cara tertentu (
strategies,rules
), demi mencapai arah final (
goals, directions
) yang berupa kelanggengan sistem itu sendiri.
KOMUNITAS.
Ketiga, tidak sedikit pula awak persma yang menyatakan bahwa merekaaktif di persma untuk ber-“komunitas”. Maksudnya, mereka amat butuh bersosialisasi, berteman,menjalin percakapan yang hangat dengan
 peer group
-nya. Yang selalu mereka cari biasanya bersifat psikologis, antara lain diberi nama “kenyamanan proses dan kehangatan hubunganantarpribadi”. Para penganut pandangan ini juga hobi ngobrol lama-lama,
ngalor-ngidul
, namun bisa juga agak serius, terfokus-tematis, dan intelektual—dalam arti akademis maupun filosofis.Indikator kesuksesan proses yang mereka maksud ialah “kehadiran tubuh” dalam setiap momen percengkeramaan kolektif. Ada semacam bau kolektivisme-komunalisme tercium di sini. Inilahkelompok yang menggemari romantisme dalam takaran yang lumayan banyak.
PERJUANGAN.
Keempat, bila diperkatakan dalam konteks kekinian, abad ke-21, ketikazaman ini sudah sangat global-neoliberal, kelompok ini adalah yang paling “herois” di antara ketigafaksi lain tadi dalam persma. Inilah kelompok yang mengklaim bahwa aktivitas penerbitanmahasiswa adalah suatu “perjuangan” politik, ikhtiar demokratisasi, dan transformasi sosial. Persmamereka nyatakan memanggul tugas suci untuk mengubah sejarah, dan mereka anggap harus mampuuntuk itu. Suatu jenis idealisme merebak kuat di sini, sehingga mereka menyebut diri sebagai“jurnalis-aktivis”, bahkan seringkali tak terhindar dari jebakan “aktivisme”—atau malahan ada yangmenjebakkan diri secara sadar. Kalau sedang berkumpul, orang-orang jenis ini cuma akan berdiskusi secara sangat serius, tak jarang keterlaluan seriusnya, terfokus-tematis ataupuntransdisipliner, sehingga nuansa intelektual—dalam arti akademis, filosofis, dan ideologis— mewarnai kuat. Mereka adalah orang-orang yang sangat obsesif, radikal, walau belum tenturevolusioner. Nah, di antara keempat macam pemaknaan terhadap persma di atas, yang selama ini berkembang dan berbeda-beda kadarnya di masing-masing persma, sesungguhnya, bisa pula segeradikatakan bahwa telah terjadi suatu persaingan (
contestation
), dan dengan sendirinya proses pemaknaan ini berubah menjadi “politik pemaknaan”—yang satu sama lainnya saling
Page 2 of 16
 
 
memperebutkan dominasi, supremasi, atau hegemoni. Lebih jauh, persaingan ini mengarah padafragmentasi, perpecahan, konflik, dan bahkan permusuhan sehingga hasil akhirnya ialah kitamenyaksikan gejala involusi, berjalan atau berlari atau berputar-putar di tempat, tidak ke mana-mana dan tidak menghasilkan apa-apa selain kepayahan itu sendiri, di mana-mana dalam tubuhsosial persma, meretakkan bahkan memecahkannya hingga berkeping-keping.
Figur 1
berikutmencoba menggambarkan keruwetan proses ini.
Figur 1: Fragmentasi dan Involusi PersmaIndividu Ambigu, Institusi Disorientasi
 pa yang saya paparkan di atas adalah gambaran masalah yang bersifat intersubyektif, yakni bagaimana di dalam tubuh sosial persma terjadi tarik-ulur, persaingan, dan bentrokan politik pemaknaan tentang apa itu persma dan mau ke mana arahnya, di antara sesama penggiat persma. Di samping itu, masih ada jenis paradoks dan kontradiksi lainnya yang menjadi
 patos
idapan persma, yang satu sama lain bersifat saling mempengaruhi, sejenis
interplay
, dan bahkan terus berulang sehingga yang terjadi ialah involusi belaka.
Identitas Profesional-Individual.
Pertama, para penggiat persma sebenarnya menjalankansuatu tipe “profesi” yang ambigu—dan karenanya mereka menderita semacam
split personality
. Disatu sisi, awak persma merasa dirinya setara dengan jurnalis pers umum, dan di sisi lain awak  persma merasa menjadi bagian dari aktivisme mahasiswa, bergelut dan bergulat dengan kesibukanakademis, serta masih menjalani proses pematangan diri dengan segenap kehendak masa mudanya.Ketegangan subyektif ini memicu kerancuan identitas kelembagaan persma: antaramengidentifikasikan diri persma sebagai bagian dari pers umum, yang kenyataannya di Indonesiadan seluruh dunia berwatak industrial-kapitalistis, ataukah persma sebagai bagian dari gerakan(politik) mahasiswa—antara memberi titik tekan pada kata “pers” ataukah “mahasiswa”-nya.
Figur2
di bawah ini mencoba memotret ketegangan tersebut.
2
 
2
Saya membicarakan isu ini pertama kali dalam Hasan Bachtiar, “Pers Mahasiswa Pasca-21 Mei 1998: MenuntaskanRomantisme Sejarah”, Makalah untuk Sarasehan Nasional Pers Mahasiswa, 18—19 September 2000, di GedungDewantara, Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur, Jakarta, diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,Departemen Pendidikan Nasional.
A
PERSMAHASISWA
KomoditasKomunitasOrganisasiPerjuangan
 
INVOLUSI
 
FRAGMENTASI
 
Page 3 of 16

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
idurastrey liked this
Lubabun Ni'am liked this
abdoel123 liked this
beliaz liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->