Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Mencermati RPP Penyadapan

Mencermati RPP Penyadapan

Ratings: (0)|Views: 36|Likes:
Published by dinoroy aritonang

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: dinoroy aritonang on Feb 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/12/2013

pdf

text

original

 
Mencermati RPP Penyadapan
Oleh : Dinoroy M. AritonangKasus yang menimpa pimpinan KPK non aktif Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah ternyata masihterus bergulir. Perpanjangan ‘babakini setidaknya menghadirkan dua episode yang baru, pertama,dimohonkannya proses praperadilan terhadap SKPP yang diterbitkan kejaksaan untuk Bibit dan Chandra.Kedua, keinginan pemerintah melalui Depkominfo untuk mengatur kewenangan penyadapan dalam sebuah PP.Publik tentu bertanya, mengapa tiba-tiba muncul keinginan pemerintah untuk mengatur penggunaan penyadapandi saat KPK justru perlu untuk diselamatkan.
 Extraordinary
Kiranya semua pihak sepakat bahwa, korupsi bukanlah kasus hukum yang biasa. Predikat ‘tidak biasa’ melekatkarena tindak pidana satu ini merupakan imbas negatif penggunaan kekuasaan oleh penguasa. Sehingga aktor  pelakunya pasti bukan orang-orang yang biasa pula. Oleh karena itu, perbuatan pidana ini dinamakan
extraordinary
’ karena memang ada sesuatu yang ‘tidak biasa’ didalamnya.Sifatnya yang ekstra tersebut muncul karena didalamnya bertemu dua hal saling ‘menguntungkan’ yaitukekuasaan dan kepentingan pribadi atau golongan. Pertemuan keduanya melanggengkan jalan untuk menyimpangi peraturan yang membatasinya terutama secara prosedural. Sebab apabila suatu perbuatan hukumtelah memenuhi secara prosedural, maka paling tidak secara kasat mata perbuatan tersebut sah dan tidak melanggar hukum. Tetapi belum tentu apabila dilihat dari sisi material perbuatannya.Selain itu sifatnya yang elitis telah membuat sistem yang mewadahinya menjadi tidak transparan dan susahuntuk diawasi. Kepentingan yang dipertaruhkan cukup besar yaitu kepentingan banyak individu yang beradadalam sistem itu. Bahkan bisa ditutupi dengan dalih untuk menyelamatkan kepentingan lembaga ataukepentingan negara. Untuk memecahkan sifat yang elitis itu diperlukan ‘dobrakan eksternal’ yang tidak biasa pula, yang bergerak dengan ‘mata tertutup’ dan melepaskan subjektivitasnya.
Kewenangan Penyadapan
KPK sebagai representasi ‘dobrakan eksternal’ tadi sudah sewajarnya dilekati dengan kewenangan yangluar biasa pula (
extraordinary power 
). Kewenangan penyadapan merupakan salah satu solusi yang tepat untuk mengungkapkan konspirasi dan sifat elitis dari kasus-kasus korupsi. Keberhasilan KPK dalam mengungkapsejumlah besar kasus korupsi bisa dikatakan disebabkan karena adanya kewenangan penyadapan tersebut.Besarnya kewenangan KPK melalui kewenangan penyadapan sudah dikuatirkan sejak dulu. Mengingatkinerja dan riwayat lembaga-lembaga penegak hukum di negeri ini belum benar-benar bisa dikatakan kredibelsejak dulu sampai sekarang. Sehingga KPK pun tidak terlepas dari kecurigaan bahwa dengan kemampuan penyadapan yang diberikan, hal itu bisa saja disalahgunakan. Namun sejarah mencatat, selama pembentukannyasejak tahun 2002 melalui UU No. 30/2002, KPK belum pernah ditengarai menyimpangi kewenangan penyadapan tersebut sampai munculnya kasus penahanan Bibit dan Chandra.Oleh karena itu, sebelum pemerintah mempertimbangkan lebih jauh Rancangan PP tentang Penyadapan,setidaknya ada beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan. Pertama, alasan apa yang menguatkan niat pemerintah dalam hal ini Depkominfo untuk (tiba-tiba) mengatur kewenangan tersebut. Sebab denganterbukanya rekaman percakapan yang terkait kasus Bibit-Chandra di MK semakin membuka mata rakyat bahwakorupsi dan konsiprasinya memang betul-betul ‘berwujud’. Hal ini malah semakin menegaskan bahwakewenangan KPK dalam hal penyadapan memang perlu dilindungi. Kedua, kalaupun pemerintah mencurigaiada kemungkinan kewenangan tersebut bisa disalahgunakan, maka yang perlu dilakukan pertama kali adalahevaluasi terhadap prosedur tetap pelaksanaan penyadapan di KPK beserta organ-organ pelaksananya, bukanlangsung membatasi kewenangannya.
Instrumen Hukum
Hal lain yang masih perlu diperdebatkan adalah pengaturan kewenangan penyadapan dalam PeraturanPemerintah (PP). MK memang pada dua putusannya terdahulu mengenai uji materil Pasal 12 ayat (1) huruf aUU No. 30/2002 tentang KPK sudah menegaskan bahwa, penyadapan merupakan kewenangan khusus KPK tetapi dengan catatan-catatan. Selain itu juga, MK juga telah memberikan
warning 
bahwa kewenangan tersebutmemang harus diatur sedemikian rupa sehingga masyarakat juga dapat mengetahui prosedur pelaksanaannya.Kewenangan ini rentan untuk disalahgunakan, sebab dapat melanggar hak asasi manusia. Namun dalam hal ini, instrumen hukum yang paling tepat untuk mengatur penyadapan bukanlah PP. Halini dapat mengacu pada Pasal 8 butir a UU No. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan bahwa, materi yang berkenaan dengan Hak Asasi Manusia harus diatur dengan undang-undang. Selain itu,apabila diatur dalam sebuah PP maka pengaturan tentang sanksi pidana terhadap penyalahgunaan kewenangan penyadapan tidak boleh diatur dalamnya. Pengaturan mengenai penjatuhan sanksi pidana hanya dapat diatur dalam peraturan perundang-undangan setingkat undang-undang. Kalaupun ingin diatur dalam sebuah PP, makaundang-undang yang menjadi acuannya harus mendelegasikan secara tegas, sebab penjatuhan sanksi pidana jugamerupakan pembatasan/penghilangan hak asasi manusia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->