Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
33Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
determinan status gizi balita

determinan status gizi balita

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 12,042|Likes:
Published by jasun26
faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita
faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita

More info:

Published by: jasun26 on Feb 03, 2010
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

07/12/2013

 
1
ANALISIS DETERMINAN STATUS GIZI BALITADI RSUD MAJALAYA KABUPATEN BANDUNG 2009
Sugeng Hadisaputrai
1
, Yeni Rustina
2
, Kuntarti
3
Abstrak
Kurang gizi pada balita merupakan suatu keadaan yang sangat penting dan serius bagi kelangsunganhidup anak karena selain dapat menggangu tumbuh kembang anak juga dapat menyebabkankematian. Perawat sebagai salah satu pemberi layanan kesehatan mempunyai peran penting dalammeningkatkan derajat kesehatan anak, salah satunya dengan memantau status gizi anak balita.Penelitian bertujuan untuk mengetahui determinan status gizi balita di RSUD Majalaya KabupatenBandung. Penelitian ini menggunakan desain penelitian
retrospektif 
 
case control
di rumah sakitdengan 35 pasien sebagai kasus dan 105 sebagai kontrol dari pasien yang dirawat dalam kurun waktuJuni 2008 sampai dengan Juni 2009 dengan melihat data sekunder rekam medis pasien. Analisis yangdigunakan adalah dengan analisis univariat, bivariat dengan
chi square
, dan multivariat denganregresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat kepercayaan 95% tidak ada hubungan usia balita, status infeksi penyakit kronis, status pendidikan ibu, status pekerjaan ibu,dan jumlah anak dengan status gizi balita. Ada hubungan usia ibu dan jumlah penghasilan keluargadengan status gizi balita. Akan tetapi, ada kecenderungan bahwa usia balita yang lebih muda, balitayang mengalami infeksi penyakit, pendidikan ibu yang rendah, ibu yang bekerja, dan keluarga yangmemiliki jumlah anak lebih dari dua memiliki resiko lebih besar untuk terjadinya kurang gizi pada balita. Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor paling dominan terhadap status gizi balitaadalah usia ibu (p=0,002, OR=12). Berdasarkan temuan tersebut, pelayanan keperawatan harusmeningkatkan pendidikan kesehatan kepada ibu usia muda tentang pemenuhan gizi pada balita,sehingga status gizi balita dapat meningkat dan kasus kurang gizi pada balita menurun.Kata kunci: Kata Kunci : Status gizi, balita, gizi, determinan
 
ABSTRACTUnder nutrition in children under five years is very important and serious situation because itinfluence child development and can cause death. Nurse as a care giver has an important role toincrease child health development with monitoring the child nutritional status. Purpose of thisresearch is to determine the nutritional status risk factors for children under five years in theMajalaya Hospital. Retrospective hospital based case control is used with 35 patient as case and 105control on June 2008-Juni 2009 by medical record analyzing as secondary data. Descriptive, chisquare and logistic regression method are used in data analyzing. This research showed that there areno relation between child age, infectious status, mother educational status, mother job status, andnumber of child in family with nutritional status of under five years child. However, there are possible risk for them to influence child nutritional status. There is a relation between mother age andsalary with nutritional status of under five years child with dominant factor is mother age (p=0,002,OR=12). Base on this result, the nursing health care must increase the promoting and educatingfunction to mother with under five years child to required the child nutrition and decrease themortality and the incidence of under nutrition in child.Key words: Key word : nutritional status, nutrition, risk factor, under five years child
1
Staf Pengajar Universitas Respati Indonesia
2
Staf Pengajar Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
3
Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
 
2
LATAR BELAKANG
Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yangdilakukan secara berkelanjutan. Berdasarkanvisi pembangunan nasional melalui pembangungan kesehatan yang ingin dicapaiuntuk mewujudkan Indonesia sehat 2010, visi pembangunan gizi adalah mewujudkan keluargamandiri sadar gizi untuk mencapai status gizikeluarga yang optimal. Keadaan gizi dapatdipengaruhi oleh keadaan fisiologis, dan jugaoleh keadaan ekonomi, sosial, politik dan budaya. Pada saat ini, selain dampak dari krisisekonomi yang masih terasa, juga keadaandampak dari bencana nasional mempengaruhistatus kesehatan pada umumnya dan status gizikhususnya (Soekirman, 2001).Gambaran perkembangan keadaan gizimasyarakat menunjukkan kecenderungan yangsejalan. Kasus gizi buruk pada anak balita yangmeningkat akhir-akhir ini telah membangunkan pemegang kebijakan untuk melihat lebih jelas bahwa anak balita sebagai sumber daya untuk masa depan ternyata mempunyai masalah yangsangat besar. Berdasarkan angka
humandevelopment index
(HDI), Indonesia menduduki peringkat ke 112 di dunia. Tidak tertutupkemungkinan peringkat ini akan bergeser ke posisi lebih rendah apabila kondisi ini tidak ditangani secara cepat dan tepat (Taslim, 2008).Menurut WHO, terjadinya kekurangan gizi (gizikurang dan gizi buruk) lebih dipengaruhi oleh penyakit infeksi dan asupan makanan yangsecara langsung berpengaruh terhadap kejadiankekurangan gizi. Pola asuh serta pengetahuanibu juga merupakan faktor yang secara tidak langsung dapat berpengaruh terhadapkekurangan gizi. Masalah gizi kurang dan gizi buruk bila tak ditangani secara serius akanmengakibatkan “
lost generation
“. Perluketerlibatan keluarga selama 24 jam dalammendampingi anak yang menderita kekurangangizi tersebut. Perhatian cukup dan pola asuhanak yang tepat akan memberi pengaruh yang besar dalam memperbaiki status gizinya(Herwin, 2004).Gizi buruk masih menjadi masalah sosial dankesehatan di Indonesia. Data UNICEF tahun1999 menunjukan, 10-12 juta (50-69.7%) anak  balita di Indonesia (4 juta diantaranya dibawahsatu tahun) bersatus gizi sangat buruk danmengakibatkan kematian. Setiap tahundiperkirakan 7% anak balita Indonesia (sekitar 300000 jiwa) meninggal. Berarti setiap 2 menitterjadi kematian satu anak balita dan 170000anak (60%) diantaranya akibat gizi buruk. Dariseluruh anak usia 4-24 bulan yang berjumlah4.9 juta di Indonesia, sekitar seperempatsekarang berada dalam kondisi kurang gizi(Herwin, 2004).Departemen Kesehatan RI (Depkes RI)mencatat jumlah balita (anak usia di bawah limatahun) yang memiliki gizi kurang meningkatdari 17.1% pada 2000 menjadi 19.3% pada2002. Balita yang memiliki gizi buruk meningkat dari 7.5% pada 2000 menjadi 8.0% pada tahun 2002 (Untoro, 2004). Dengandemikian, jumlah balita kurang gizi (gizi kurangditambah gizi buruk) meningkat dari 24.6% pada 2000 menjadi 27.3% dari lebih kurang 20 juta anak balita pada 2002. Menurut Untoro(2002), peningkatan balita kurang gizi karena perilaku gizi masyarakat seperti tidak memberikan ASI secara eksklusif kepada bayiusia 0-6 bulan, dan tidak memberikan makanandengan gizi yang seimbang.Kasus gizi buruk di Indonesia pada tahun 2005terdapat 5% (Depkes RI, 2005). Di Pulau Jawa,khususnya Provinsi Jawa barat pada tahun 2005,sebanyak 25,971 balita dinyatakan mengidapgizi buruk, sedangkan gizi kurang terdapat 16%.Pada tahun 2006 jumlah anak yang menderitagizi buruk menunjukkan kenaikan dari 1,08%menjadi 1,17% pada 2007. Secara keseluruhan,gizi kurang dan gizi buruk di Jabar mencapai17% pada tahun 2008, sedangkan angka penderita gizi kurang pada tahun 2007 mencapai11,02%. Relatif tingginya kasus gizi buruk di provinsi ini berkorelasi dengan tingkatkemiskinan (DKR Jawa Barat, 2008).Berdasarkan data Dinas Kesehatan ProvinsiJawa Barat, di Kabupaten Bandung terdapatsebanyak 2.529 balita berstatus gizi kurang dan buruk pada tahun 2007. Tahun 2008, sebanyak 2.740 balita di wilayah ini berstatus gizi kurangdan gizi buruk, yang berarti ada kenaikan jumlah kasus gizi kurang dan buruk diKabupaten Bandung. Dari seluruhkabupaten/kota di Propinsi Jabar, Majalayatermasuk daerah dengan kasus gizi buruk yangcukup tinggi dari total kasus gizi kurang diKabupaten Bandung. Tingginya kasus gizi buruk balita terkait dengan daya beli masyarakatyang makin berkurang, serta pola asuh gizi yangkurang baik. Pola asuh gizi ini meliputi pemberian ASI segera pada bayi baru lahir, pemberian ASI eksklusif, Pemberian MakananPendamping ASI (PMT-ASI), pola makan balita, pemantauan tumbuh kembang, dan pengasuhan anak (Dinas Kesehatan ProvinsiJawa Barat, 2008).RSUD Majalaya berada di KecamatanMajalaya Kabupaten Bandung. Kecamatanmajalaya berada di urutan VI dalam jumlah KK miskin yaitu 48,92%. Majalaya dan sekitarnya juga merupakan lahan kritis dan daerah rawan banjir. AKB (Angka Kematian Bayi) diKabupaten Bandung tahun 2007 tercatat 39,17 per 1000 kelahiran hidup. AKB dipengaruhioleh faktor antara lain gizi ibu hamil, penolong
 
3
 pertama kelahiran bayi, gizi, imunisasi ibu, danANC
(Antenatal Care).
RSUD Majalayamerupakan rumah sakit tipe C dan menjadisalah satu rujukan bagi puskesmas dan puskesmas pembantu yang tersebar dikecamatan majalaya (Bapeda KabupatenBandung 2007).Rumah Sakit Umum Daerah MajalayaKabupaten Bandung mencatat bahwa padatahun 2007 terdapat 273 balita dengan statuskurang gizi, dan pada tahun 2008 terdapat 320 balita berstatus kurang gizi yang artinya ada peningkatan jumlah balita penderita kurang gizi.Berdasarkan data tersebut maka penelitimelakukan penelitian tentang faktor apa sajayang berhubungan dengan kekurangan gizi pada balita di RSUD Majalaya Kabupaten Bandungtahun 2009.
METODE PENELITIAN
Rancangan penelitian menggunakan desainkasus-kontrol di rumah sakit (
hospital based case control study
), dimana kasus dan kontrol berasal dari rumah sakit yang sama. Pendekatan bersifat retrospektif dimana efek diidentifikasi pada saat ini kemudian faktor risikodiidentifikasi terjadinya pada waktu yang lalu.Peneliti menggunakan data yang berasal daricatatan rekam medis pasien yang ada di RSUDMajalaya Kabupaten Bandung. Kasus adalahsemua pasien kurang gizi (gizi kurang dan gizi buruk) dan kontrol adalah pasien yang tidak kurang gizi.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang datang berobat ke RSUD Majalayaselama periode Juni 2008-Juni 2009. Sampeldalam penelitian ini adalah balita kurang gizi(kasus) dan bukan kurang gizi (kontrol) yang berobat ke RSUD Majalaya selama periode Juni2008-Juni 2009. Jumlah sampel kontrol diambildari balita yang berobat ke RSUD Majalayayang hasil pemeriksaan status gizi dinyatakannormal atau baik. Perbandingan jumlah kasusdengan kontrol adalah 1:3, dengan menambahkontrol hingga 3 kali diharapkan kekuatan ujilebih baik (Ariawan, 2001).Kriteria inklusi sampel sebagai kasus dankontrol yang peneliti tetapkan adalah: (1) balita berusia 0-59 bulan; (2) balita yang datang dan berobat ke RSUD Majalaya; (3) balita yang berobat berasal dari wilayah kerja RSUDMajalaya. Sedangkan kriteria eksklusi yang peneliti tetapkan adalah: (1) pasien dengan datayang tidak lengkap; (2) pasien yang statusgizinya belum jelas.Peneliti menentukan besar sampel minimal berdasarkan penelitian yang dilakukansebelumnya.Berdasarkan perhitungan didapatkan hasil bahwa penelitian ini memerlukan sampel 33 pasien dengan status kurang gizi sebagai kasusdan 3x33= 99 pasien yang tidak kurang gizisebagai kontrol.Alat pengumpulan data dalam penelitian inidikembangkan sendiri oleh penelitimenggunakan instrumen kuesioner status gizi balita yang berisi karakteristik responden, ibudan keluarga. Kuesioner ini didapat dariPedoman Pemantauan Status Gizi (DEPKES RI,2008) yang peneliti sesuaikan dengan catatanrekam medis RSUD Majalaya.
HASIL PENELITIAN
Pengumpulan data dilakukan di RSUDMajalaya Kabupaten Bandung Mei sampaidengan Juni 2009. Data disajikan dalam bentuk kategorik dan dianalisis secara univariat, bivariat, dan multi variatAnalisis univariat digunakan untuk mendapatkan proporsi setiap kelompok variabel. Analisi bivariat dengan
chi-square
 digunakan untuk mengidentifikasi perbedaanatau hubungan antar dua variabel yang
independent 
, sedang uji regresi logistic berganda dilakukan untuk mencari faktor yang paling dominanA.
 
Gambaran Status giziTabel 5.1Distribusi Responden BerdasarkanDeterminan Status Gizi BalitaPada Kelompok Kasus dan Kontrol
VariabelStatus giziTotalKuranggiziTidak kuranggizi N % n % N %Umur BalitaMuda (0-24) bulanTua (25-59) bulan21146040733269,531,5944667,132,9Status infeksiYaTidak 2878020683764,835,2964468,631,4Umur IbuMuda (19-35)tahunTua (36-60)tahun32391,48,6743170,529,51063475,724,3StatusPendidikan IbuRendahTinggi181751,448,6753071,428,6934766,433,6Status PekerjaanIbuBekerjaTidak Bekerja62917,182,9347132,467,64010028,671,4Jumlah anak Banyak (
3)Sedikit (<3)171848,651,4386736,263,8558539,360,7

Activity (33)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Cinta Mamapapa added this note
GMN CARA DOWNLOAD???
meiliany_v1838 liked this
Adhy Cool liked this
Emil Rn liked this
Sidrah Darma liked this
Maesa Vondra liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->