Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
Etika merupakan satu bidang falsafah yang membicarakan tentang tingkah laku manusia dariaspek-aspek lahiriah dan batiniahnya .dalam hubungan dengan sains, etika adalah satu bidangilmu yang mengkaji soal kebaikan dan keburukan dalam sains; berhubung dengan tatacara untuk mempraktiskan kebaikan dan menolak keburukan dalam amalan dan penggunaan sanis danteknologi.Islam telah menyediakan panduan yang sempurna untuk mengatur segala perlakuan manusiadalam apa jua bidang kerjaya sepanjang zaman. Terdapat konsep-konsep asas yang mampumembimbing ahli sains dalam urusan peribadi dan profesyennya. Konsep asas tersebut terdiridaripada tiga unsur utama:i. Keimanan kepada Allah s.w.t.Iman adalah teras kepada semua jenis amalan dalam Islam. Seorang ahli sains perlu mempunyaikeimanan serta keyakinan yang kukuh kepada Allah dan sentiasa memohon bantuandaripadaNya. Mereka perlu sedar Allah sentiasa melihat segala pemikiran dan perlakuanmanusia. Allah merupakan Pencipta dan Pemilik alam yang menjadi bahan kajian dan penggunaan sains dan teknologi. Sesungguhnya keimana kepada Allah akan menyediakan asasyang kukuh kepada kelahiran generasi muslim yang bermoral.ii. Kepatuhan kepada Syariah dan etika kerkaSeseorang ahli sains perlu mempunyai ketaantan yang tinggi terhadap peraturan-peraturan danketentuan Allah dengan mengambil kira persoalan halal dan haram dalam kerjayanya. Matlamatyang murni dalam pembangunan dan penggunaan teknologi seharusnya seiring dengan kaedahyang tidak melanggar batas-batas ajaran Islam. Kepatuhan kepada peraturan Allah dijadikan asas penting kepada etika kerjanya sekalipun berlawanan dengan tuntutan keinginan kerana sainstidak boleh bersifat neutral dan bebas.iii. Mementingkan aspek kemanusiaan dan ihsanDalam penggunaan sains dan teknologi aspek kemanusiaan dan ihsan merupakan suatu yangtidak boleh diabaikan. Para saintis adalah khalifah Allah di bumi. Mereka bertanggungjawabuntuk membawa kemakmuran dan menjaga keharmonian. Mereka perlu menghindari diri darimengekskploitasi sewenang-wenangnya segala isi kandungan alam semata-mata untuk kepentingan sanis, material dan kekayaan. Mereka perlu melindungi alam sekitar, bersifat belasihsan dan menghormati hak-hak manusia dan lain-lain kehidupan untuk hidup dengan selesa.Sebagai rumusannya, seseorang ahli sains atau teknokrat muslim yang ingin melaksanakansesuatu perbuatan atau amalan sainsnya, seharusnya bermula dengan kepercayaan dan keimanankepada Allah serta berpegang teguh kepada ajaran agama dalam profesyennya. Beliau juga perlu bertindak untuk memastikan adanya persiapan yang cukup sama ada dari segi kuasa intelek atau pun kuasa emperik yang bercorak teknik. Tindak tanduknya pula dibaluti dengan nilai-nilai etikadan moral yang suci murni berdasarkan prinsip “melakukan sesuatu yang baik dan menjauhiyang mungkar”. Dengan itu persoalan krisis etika dalam pelbagai amalan sains dapat dihindarkandan sains menjadi ilmu yang mampu memberi manfaat yang menyeluruh.Dipetik dari “Pengenalan falsafah dan konotasi aksiologi atau etika Islam dalam sains danteknologi” oleh Zulfikri bin Mohd Zain.Posted by Maznah Daud at9:49 PM 
 
2 comments:
davidlando4445 said...I read over your blog, and i found it inquisitive, you may findMy Bloginteresting. My blog is just about my day to day life, as a park ranger. So please Click Here To Read MyBloghttp://www.juicyfruiter.blogspot.com2:30 AMeddyharolds6381892428said...Do you want free porn? Contact my AIM SN 'abunnyinpink' just say 'give me some picsnow!'. No age verification required, totally free! Just send an instant message to AIM screenname "abunnyinpink".Any message you send is fine!AIM abuse can be reported here. 9:02 PMPost a Comment  Newer Post Older Post Home  Subscribe to:Post Comments (Atom) 
Ketika berbicara sains, kadang menjadi salah kaprah ketika selalu dinisbatkan kepada ilmu-ilmu alamsemata. Karena pada kenyataannya seorang saintis adalah seorang yang mendalami suatu pengetahuanyang sistematis atau kemudian disebut sebagai ilmu. Ilmu bisa dianggap sebagai sains. Apapun ilmu itu.Sehingga kemudian pada kenyataannya kita mengenal
natural science
,
Economic science
,
Social Science
dan banyak lainnya. Dalam hirarki filsafat ilmu kemudian dikenal sebagai turunan dari filsafat.Filsafat sebagai sarana pencrian hakekat ‘sesuatu’ yang kemudian menghasilkan pengetahuan, ketikapengetahuan tersebut telah mencapai sebuah sistematika tertentu maka akan disebut ilmu. Kemudiansains ketika diterapkan akan menjadi sains terapan, dan ketika menemukan bentuk praksisnyaberdasarkan rekayasa dan kemanfaatannya akan berubah menjadi teknologi. Teknologi pada awalnya juga hanya merupakan ilmu rekayasa yang membasiskan pada dasar-dasar yang dianut pada naturalsains, namun belakangan kemudian dikenal adanya
social engineering 
. Asumsi bahwa
natural science
selalu kuantitatif dan
social science
selalu kualitatif ternyata juga tidak berlaku lagi. Sehingga batasantara eksakta dan sosial kemudian bukan berada pada metode atau konsep filsafat ilmunya, namunberada pada jenis obyek yang diamati.Namun, kesimpulan terakhir di atas menjadi sulit diterapkan ketika kita melihat pada Psikologi contohnya.Seperti yang kita tahu, saat ini ada dua aliran besar di Indonesia pada jurusan Psikologi yangmenganggap bahwa psikologi adalah bagian dari ilmu pengetahuan alam dan ada kelompok lain yang
 
mengangap sebagai bagian dari ilmu pengetahuan sosial. Secara praktis kita bisa melihat dalampengelompokan jurusan pada SPMB, di UGM Psikologi masuk dalam kelompok IPS sedangkan di UNDIPmasuk dalam kelompok IPA.Dimana matematika ? Matematika sejatinya berada pada wilayah lain, yaitu wilayah kuantitatif yangmerupakan wilayah logika atau pemodelan kenyataan menjadi model-model yang hanya ada padakhayalan. Sehingga dalam praktiknya kita tahu ketika matematika diterapkan pada suatu bidang sains(apapun bidangnya), sains tersebut akan menemukan bentuk kuantitatifnya. Dengan melakukanpendekatan kuantitatif, maka biasanya sebuah ilmu akan ‘dianggap’ menjadi semakin prediktif. Ketikasebuah sains berubah menjadi engineering maka kuantitatifikasi akan semakin besar. Hal itulah yangmenyebabkan mengapa kemudian sebuah bidang
engineering 
menjadi sangat materialis-literal(
dhahirriyah
), kuantitatif-matematis dan prediktif sekaligus manipulatif.Sains dan Engineering kemudian menjadi berbeda karakteristik secara mendasar. Sains yangberkembang dalam paradigma ‘terpisahnya pengamat dari obyek’ dan ‘sains untuk sains’ sehingga yangdikejar adalah obyektifitas sejati yang memisahkan manfaat/ kegunaan dari aktifitas penelitian.Sedangkan Engineering berkembang dalam paradigma ‘kegunaan untuk kehidupan manusia’ atau lebihdekat dengan filsafat pragmatisme sehingga manusia dianggap sebagai bagian integral daripengembangan engineering. Dalam praktiknya, khususnya di Indonesia, seorang engineering (khususnyamahasiswa teknik) sering mengabaikan unsur manusia dalam aktifitasnya, karena menganggap dirinyaadalah bagian dari komunitas IPA/eksakta murni. Sehingga kadang ada kecenderungan ‘menolak’ ketikamendapat mata kuliah-mata kuliah tentang humanism. Padahal engineering yang tidak humanis tentusaja hanya akan membuat kerusakan pada manusia dan lingkungan.Ilmu Politik ketika menemukan bentuk praksis nya (politik Praksis) juga merupakan sebuah Engineering.Seperti halnya ilmu kedokteran ketika menjadi kedokteran klinik akan kental aspek engineeringnya.Bahkan mungkin saja saat ini mulai berkembang sebuah bidang ilmu
spiritual engineering 
yangberfungsi merekayasa aspek spiritual manusia.Dimana Etika ? Nah kemudian yang sering manjadi masalah adalah karena tidak
include
-nya antara etikadengan sains dan teknologi. Dalam sains dan teknologi etika berfungsi untuk membimbing agar aktifitaspenelitian sains dan rekayasa Teknologi tidak mengancam eksistensi manusia (keseluruhan aspekmanusia : Jasad, Ruh, dan Intelek). Bahkan dengan masuknya etika sebagai bagian dari sains danteknologi bertujuan agar bisa meningkatkan nilai tambah manusia di mata dirinya, sesama manusia,lingkungan hayati dan non hayatinya, dan dimata Tuhannya. Dalam kata lain : Manusia menjawabpertanyaan ‘Apa’ dengan sains, manusia menjawab pertanyaan ‘untuk apa’ dengan teknologi, manusiamenjawab pertanyaan ‘mana yang boleh dan tidakdengan etika. Etika ini merupakan sesuatu yangbersumber dari hati nurani yang selalu menyuarakan kebenaran moral atau sering dikenal sebagai suaraTuhan. Karena itu dalam hubungannya dengan wahyu, Fitrah merupakan ‘sesuatu’ yang dipanggil olehwahyu .
Arif Nur Kholis
Antara Bulaksumur dan Matahari“Refleksi Sains-
Tech
.”
[Refleksi-refleksi yg nyaris tidak beerguna]
 
Tulisan Lain:
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more