mengangap sebagai bagian dari ilmu pengetahuan sosial. Secara praktis kita bisa melihat dalampengelompokan jurusan pada SPMB, di UGM Psikologi masuk dalam kelompok IPS sedangkan di UNDIPmasuk dalam kelompok IPA.Dimana matematika ? Matematika sejatinya berada pada wilayah lain, yaitu wilayah kuantitatif yangmerupakan wilayah logika atau pemodelan kenyataan menjadi model-model yang hanya ada padakhayalan. Sehingga dalam praktiknya kita tahu ketika matematika diterapkan pada suatu bidang sains(apapun bidangnya), sains tersebut akan menemukan bentuk kuantitatifnya. Dengan melakukanpendekatan kuantitatif, maka biasanya sebuah ilmu akan ‘dianggap’ menjadi semakin prediktif. Ketikasebuah sains berubah menjadi engineering maka kuantitatifikasi akan semakin besar. Hal itulah yangmenyebabkan mengapa kemudian sebuah bidang
engineering
menjadi sangat materialis-literal(
dhahirriyah
), kuantitatif-matematis dan prediktif sekaligus manipulatif.Sains dan Engineering kemudian menjadi berbeda karakteristik secara mendasar. Sains yangberkembang dalam paradigma ‘terpisahnya pengamat dari obyek’ dan ‘sains untuk sains’ sehingga yangdikejar adalah obyektifitas sejati yang memisahkan manfaat/ kegunaan dari aktifitas penelitian.Sedangkan Engineering berkembang dalam paradigma ‘kegunaan untuk kehidupan manusia’ atau lebihdekat dengan filsafat pragmatisme sehingga manusia dianggap sebagai bagian integral daripengembangan engineering. Dalam praktiknya, khususnya di Indonesia, seorang engineering (khususnyamahasiswa teknik) sering mengabaikan unsur manusia dalam aktifitasnya, karena menganggap dirinyaadalah bagian dari komunitas IPA/eksakta murni. Sehingga kadang ada kecenderungan ‘menolak’ ketikamendapat mata kuliah-mata kuliah tentang humanism. Padahal engineering yang tidak humanis tentusaja hanya akan membuat kerusakan pada manusia dan lingkungan.Ilmu Politik ketika menemukan bentuk praksis nya (politik Praksis) juga merupakan sebuah Engineering.Seperti halnya ilmu kedokteran ketika menjadi kedokteran klinik akan kental aspek engineeringnya.Bahkan mungkin saja saat ini mulai berkembang sebuah bidang ilmu ‘
spiritual engineering
’ yangberfungsi merekayasa aspek spiritual manusia.Dimana Etika ? Nah kemudian yang sering manjadi masalah adalah karena tidak
include
-nya antara etikadengan sains dan teknologi. Dalam sains dan teknologi etika berfungsi untuk membimbing agar aktifitaspenelitian sains dan rekayasa Teknologi tidak mengancam eksistensi manusia (keseluruhan aspekmanusia : Jasad, Ruh, dan Intelek). Bahkan dengan masuknya etika sebagai bagian dari sains danteknologi bertujuan agar bisa meningkatkan nilai tambah manusia di mata dirinya, sesama manusia,lingkungan hayati dan non hayatinya, dan dimata Tuhannya. Dalam kata lain : Manusia menjawabpertanyaan ‘Apa’ dengan sains, manusia menjawab pertanyaan ‘untuk apa’ dengan teknologi, manusiamenjawab pertanyaan ‘mana yang boleh dan tidak’ dengan etika. Etika ini merupakan sesuatu yangbersumber dari hati nurani yang selalu menyuarakan kebenaran moral atau sering dikenal sebagai suaraTuhan. Karena itu dalam hubungannya dengan wahyu, Fitrah merupakan ‘sesuatu’ yang dipanggil olehwahyu .
Arif Nur Kholis
Antara Bulaksumur dan Matahari“Refleksi Sains-
Tech
.”
[Refleksi-refleksi yg nyaris tidak beerguna]
Tulisan Lain: