Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
21Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kajian Kelembagaan Daya Air

Kajian Kelembagaan Daya Air

Ratings: (0)|Views: 822 |Likes:
Published by pq41lrv

More info:

Published by: pq41lrv on Feb 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2013

pdf

text

original

 
KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR
Oleh: Sylviani
 Ringkasan
 Peranan air bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya serta lingkungan sangatlah penting dan merupakankebutuhan pokok, karenanya dalam pengelolaan sumberdaya air perlu adanya penanganan yang teratur, sistimatik danberkesinambungan. Berdasarkan UU No 7 / 2004 tentang SDA dijelaskan bahwa wewenang dan tanggung jawabdalam menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas kabupaten / kota adalah pemerintah propinsi c/q Dinas Pengelolan Sumber Daya Air setempat. Kelembagaan pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) dapat berjalan dengan baik apabila adanya koordinasi diantara para pengelola SDA. dan akan berdampak terhadap terjaganya kelestarian lingkungan Kajian kelembagaan pengelolaan SDA bertujuan untuk menganalisa peran para pihak / instansi yang terkait dalam pemanfaatan jasa air , serta tugas dan fungsi masing-masing instansi, mekanisme / prosedur pemanfaatan air, mengidentifikasi kelembagaan pengelolaan SDA di tingkat propinsi / kabupaten (Peraturan, organisasi, SDM) dan peran aktif dari masyarakat sekitar dalam pemanfaatan jasa air di kawasan hutan lindung. Kata kunci: Kelembagaan, pengelolaan SDA, pemanfaatan air 
I. Pendahuluan
Perkembangan seluruh aspek kehidupan sebagai dampak dari pertumbuhan penduduk dan pembangunan di daerah akanmengakibatkan meningkatnya kebutuhan dan pelayanan akan air. Hal ini ditandai dengan ketersediaan air yang dapatdimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan seperti air minum, irigasi, pertanian, industri, pariwisata, pelistrikan dansebagainya. Dengan semakin menurunnya baik kuantitas maupun kualitas air, maka perlu dilakukan langkah-langkah penataan dalam penggunaan serta perlindungan air dan sumber-sumbernya dengan cara melakukan koordinasi dengan para instansi yang terkait dalam pengelolaan sumberdaya air ( Dinas SDA 2005 ). Peranan air bagi kehidupan manusiadan mahluk hidup lainnya serta lingkungan sangatlah penting dan merupakan kebutuhan pokok, karena air mempunyaisifat yang spesifik, jika air banyak akan menimbulkan banjir jika kekurangan air akan terjadi kekeringan. Olehkarenanya dalam pengelolaan sumberdaya air perlu adanya penanganan yang teratur, sistimatik dan berkesinambungan,sedangkan sumber-sumbernya harus dilindungi dan dijaga kelestariannya.Pemanfaatan hutan lindung sebagaimana tertuang dalam PP No 34/2002 pasal 20 salah satunya adalah untuk jasalingkungan antara lain usaha wisata alam, usaha olahraga tantangan, usaha pemanfaatan air, usaha perdagangan karbondan usaha penyelamatan hutan dan lingkungan. Berkaitan dengan aspek pemanfaatan terutama dalam hal pemanfaatan jasa air baik di dalam kawasan maupun diluar kawasan, maka akan melibatkan beberapa instansi dalam pengelolaanhutan lindung. Hal ini disebabkan karena kawasan hutan lindung merupakan hulu sungai bagi sumber pemanfaatan air  permukaan maupun air baku sepanjang Daerah Pengaliran Sungai ( DPS ). Kerusakan hutan lindung akan berdampak langsung terhadap kualitas sumber air, sehingga kegiatan rehabilitasi, pemeliharaan lingkungan maupun konservasiterhadap kawasan lindung tidak saja merupakan kewenangan instansi kehutanan tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama beberapa instansi terkait. Kelembagaan pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) dapat berjalan dengan baik apabila adanya koordinasi diantara para pengelola SDA. Dan akan berdampak terhadap terjaganya kelestarianlingkunganMenurut Djogo (2003) diartikan bahwa kelembagaan merupakan suatu tatanan dan pola hubungan antara anggotamasyarakat atau organisasi yang saling mengikat yang dapat menentukan bentuk hubungan antara manusia atau antaraorganisasi yang diwadahi dalam suatu organisasi atau jaringan dan ditentukan oleh faktor-faktor pembatas dan pengikat berupa norma, kode etik aturan formal atau informal untuk pengendalian perilaku sosial serta insentif untuk bekerjasama dan mencapai tujuan bersama.Kelembagaan dapat berkembang dengan baik apabila ada infrastruktur kelembagaan (wadah ), penataan kelembagaan( struktur ) dan mekanisme kelembagaan ( aturan ). Di mana aturan disepakati bersama dan jelas tugas dan fungsinyadalam organisasi. Sumber daya manusia yang berpotensi dan kredibel serta wawasan yang luas dan mempunyai peranyang cukup penting dalam jalannya roda organisasi tersebut. Hingga saat ini kelembagaan SDA belum berjalansebagaimana mestinya baik untuk tataran pusat maupun daerah sehingga mekanisme dalam pengelolaannya masing-masing stakeholder melaksanakan tupoksinya sendiri2.Kajian kelembagaan pengelolaan SDA bertujuan untuk menganalisa peran para pihak / instansi yang terkait dalam pemanfaatan jasa air , serta tugas dan fungsi masing-masing instansi, mekanisme / prosedur pemanfaatan air,mengidentifikasi kelembagaan pengelolaan SDA di tingkat propinsi / kabupaten ( Peraturan, organisasi, SDM) dan peran aktif dari masyarakat sekitar dalam pemanfaatan jasa air di kawasan hutan lindung.
II. Metodologi1. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di kawasan hutan lindung pada wilayah 3 ( tiga ) propinsi, yaitu : Jawa Barat, Jawa Timur danSulawesi Selatan. Penentuan lokasi ini didasarkan atas pertimbangan bahwa kawasan hutan lindung merupakan daerahtangkapan penyedia air dan berfungsi sebagai pengatur tata air wilayah tersebut serta terdapat perusahaan umum jasatirta ( PJT ) terbesar sebagai salah satu pengelola sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan bagi para pengguna air.
 
2. Pengumpulan data
Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung dilapangan, pengisian kuesioner oleh responden, diskusi dan wawancara dengan pihak terkait. Data sekunder diperolehdari referensi atau laporan yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemanfaatan jasa air di kawasan hutan lindung di pusat, propinsi / kabupaten dan berbagai instansi terkait, di antaranya adalah :a. Dinas Kehutanan Propinsi / Kabupaten b. Bapeda Propinsi / Kabupatenc. Dinas Pendapatan Daerah Propinsi / Kabupatend. Balai Konservasi Sumber Daya Alame. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS)f. Dinas Pekerjaan Umum dan Pengairan Propinsi dan Kabupateng. Balai Pengelola Sumber Daya Air Wilayah Sungaih. Perusahaan Umum Jasa Tirtai. Perum Perhutani Unit II dan III j. Perusahaan Daerah Air Minumk. Tokoh masyarakat di tingkat desal. Masyarakat sekitar yang memanfaatkan keberadaan hutan lindung.Data primer yang diperoleh antara lain persepsi masyarakat sekitar hutan lindung , pemanfaatan kawasan hutan lindungoleh masyarakat , kelembagaan yang ada dimasyarakat serta peran pemerintah daerah dalam pengelolaan hutan lindung.
3. Metode analisis
Untuk mengidentifikasi instansi yang terlibat dalam pengelolaan dan pemanfaatan jasa air menggunakan analisisstakeholder dengan mengkaji secara tabulasi peran, tugas dan fungsi serta wewenang dari masing-masing stakeholder.Analisis ini juga digunakan untuk mengetahui pihak-pihak mana yang sangat berkepentingan, dan berpengaruh terhadap pengelolaan sumberdaya air dari aspek manajemen ( perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi ). Dari tiga pengelompokkan stakeholder yaitu primary stakeholder, secondary stakeholder dan key stakeholder selanjutnyaditetapkan instansi yang berada pada tingkatan tersebut. Sedangkan analisis mekanisme pemanfaatan jasa air denganmengkaji prosedur / alur penggunaan dan pengambilan air permukaan oleh masing-masing sektor dan mengkaji instansiyang berperan dalam proses perijinan selanjutnya ditentukan model / mekanisme yang paling effisien Sedangkan untuk mengkaji peran aktif masyarakat dalam pemanfaatan hutan lindung dilakukan analisa kualitatif secara deskripsi denganmelihat aspek sosial masyarakat terhadap keberadaan hutan lindung.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN1. Peran Lembaga Terkait Dalam Pengelolaan SDA
Menurut undang-undang N0 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air pasal 15 dijelaskan bahwa wewenang dantanggung jawab menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kotaadalah pemerintah propinsi. c/q Dinas Pengelola Sumber Daya Air (DPSDA) setempat. Kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan sumber daya air termasuk mengatur, menetapkan, dan memberi ijin atas peruntukan, penyediaan, penggunaan dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai dengan tetap dalam kerangka konservasi dan pengendalian daya rusak air Sesuai kesepakatan global tahun 2000 dalam rangka Forum kedua Air Sedunia di DenHaag telah di deklarasikan oleh para Menteri bahwa pengelola SDA dilaksanakan dengan pendekatan Satuan WilayahSungai (SWS), pelaksanaanya sinergis antara sektor publik, dunia usaha dan peran serta masyarakat ( Masyhudi 2005 ).Sebagaimana dirumuskan oleh Global Water Partnership bahwa Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu ( IWRM )merupakan upaya mengintegrasikan pengelolaan sumberdaya air, lahan dan sumberdaya terkait lainnya secaraterkoordinasi dalam rangka memaksimalkan resultan kondisi sosial dan ekonomi secara adil tanpa mengorbankankelestarian ekosistem yang vital.Dalam pengelolaan SDA pada 3 propinsi menunjukkan adanya perbedaan terutama dalam melaksanakan tugas danfungsinya seperti di propinsi Sulawesi Selatan Dinas Kehutanan sebagai pengelola hutan lindung tidak terlibat langsungdalam pengelolaan SDA, tapi BPDAS mempunyai fungsi cukup penting dalam Forum DAS seperti di KabupatenGowa dalan pengelolaan DAS dan pemanfaatan sumberdaya air. Akan tetapi, forum ini masih belum berjalan denganefektif karena masih kurangnya koordinansi antara instansi terkait. Salah satu penyebabnya adalah masing-masinginstansi masih terkesan ego sektoral dan mementingkan kegiatan instansinya dalam pengelolaan DAS serta sumberdayaair. Kedepan diharapkan, peran forum DAS ini dapat berjalan efektif sehingga pengelolaan DAS secara terpadu dapatdiwujudkan. Organisasi pengelola sumberdaya air mengikutsertakan beberapa instansi baik teknis maupun non teknisdimana masingmasing mempunyai misi dan tugas pokok dan fungsi. Berbeda dengan di Jawa Perum Perhutani sebagai pengelola hutan lindung mempunyai peran cukup penting dalam pengelolaan SDA. Seperti pada Tabel 1 terlihat fungsiinstansi terkait dalam pengelolaan SDA pada tiga propinsi.

Activity (21)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
ika_khikmah liked this
Tiara Adinda liked this
wsijaya liked this
Yeni Rasya liked this
makmun1313 liked this
makmun1313 liked this
gangbanten liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->