Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
24Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Simbolisme Liturgi Ekaristi Dalam Gereja Katolik

Simbolisme Liturgi Ekaristi Dalam Gereja Katolik

Ratings: (0)|Views: 3,800 |Likes:
Published by Abdul Muis

More info:

Published by: Abdul Muis on Feb 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/10/2013

pdf

text

original

 
 Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petrahttp://www.petra.ac.id/~puslit/journals/dir.php?DepartmentID=INT 
 
SIMBOLISME LITURGI EKARISTI DALAM GEREJA KATOLIKSebuah Konsepsi dan Aplikasi Simbol
Laksmi Kusuma Wardani
Dosen Jurusan Desain Interior - Fakultas Seni dan DesainUniversitas Kristen Petra SurabayaEmail: laksmi@petra.ac.id
ABSTRAK
 
Liturgi merupakan pengalaman keimanan dan sekaligus pengalaman estetis yang mengandung unsur ritual emosional,dan memiliki tujuan kreatif yaitu pembentukan simbol, dan isi yang disimbolkan tidak lain menuju ke arah realitas, yaknikehadiran Kristus yang menyelamatkan. Pengalaman religiusitas dalam upacara liturgi ekaristi tidak hanya sebagaipengalaman filosofis atau intelektual, tetapi juga melibatkan perasaan dan tindakan manusia. Sedangkan bangunan gerejakatolik sebagai rumah Tuhan merupakan bangunan sakral yang memuat pengalaman estetik, memuat tanda dan lambangalam surgawi yang mencerminkan misteri Allah dan sifat keagungan Tuhan. Ruang ibadah gereja menerapkan nilai-nilaisimbolik yang sakral melalui penyediaan berbagai fasilitas ibadah, penggunaan tanda, dan perwujudan suasana ruang, baik pada zoning, dinding, lantai, plafon, jendela, perabot, dekorasi, warna, dan lain-lain. Yang mampu membawa umat padapengalaman realitas yang dirayakan dalam liturgi.
Kata kunci
: simbol, interior, gereja katolik.
 ABSTRACT 
 
 Liturgy represents the experience of believing in God as well as the aesthetic experience containing elements of emotional rituals. It also possesses a creative goal, that is the formation of symbols, and the content symbolized is heading noother than towards reality, that is the presence of Christ the saviour. The religious experience in the ceremony of Eucharisticliturgy does not only act as an intellectual or philosophic experience, but also includes human feelings and actions. On theother hand, the Catholic Church building as God’s house represents the sacred building loading aesthetic experiences, signsand symbols of heavenly nature that reflects the mystery and supremacy of God. The church service space applies thesymbolic and sacred values through the supply of various religious service facilities, the use of symbols, and thematerialization of space atmosphere in its zoning, walls, floors, ceilings, windows, furniture, decorations, colour, and others,capable of bringing the church people to the experience the reality celebrated in liturgy.
  Keywords:
symbol, interior, catholic church.
 
PENDAHULUAN
Sebuah objek menurut pendekatan semiotik Pierce, dibedakan ke dalam tiga jenis tanda, yakniindeks, ikon, dan simbol. Disebut indeks, jika obyek mempunyai kaitan langsung antara penanda danmakna (ada hubungan sebab-akibat). Disebut ikon, jika terdapat kemiripan/persamaan antara penandadengan yang direpresentasikan. Dan disebut simbol, jika hubungan antara penanda dan makna bersifatkonvensional. Penerapan model semiotik dalamkajian budaya tidak selalu meliputi ketiganya. Analisisdari bahasa ritual, mitos, seni/citra-citra artistik danagama sebagai hasil pengalaman manusia, meng-gunakan pengertian simbol yang berbeda dari yangdimaksud Pierce. Masinambow (2001:34) menyebut-kan simbol dalam pengertian itu bersifat konotatif danasosiatif; didalam
signified 
, simbol itu memuatberbagai potensi makna yang muncul secara asosiatif dalam penggunaan maupun interpretasi dari simboltersebut. Dan untuk membaca sebuah artefak hasilbudaya agama tertentu, Alex Sobur (2004:154)menjelaskan simbol-simbol keagamaan didasarkanpada suatu hubungan intrinsik antara tanda dan obyek yang diacu oleh tanda itu, baik dalam bentuk metonimi (
meta
[transfer]-
anoma
[nama]) maupunmetafora (
meta
[transfer, melewati, melebihi],
 phor 
 [menghasilkan, memuat]). Hubungan intrinsik tersebut menciptakan relasi antara perasaan danbentuk, yang secara aplikatif dapat dilihat pada liturgi,tata ibadah, penataan interior dan fasilitas ibadah digereja-gereja katolik.Ibadah dalam agama katolik merupakan kum-pulan orang yang dipanggil dan dimiliki oleh Tuhan.Sifat gereja yang “Satu, Kudus, Katolik dan Apos-tolik”, menunjukkan adanya kesatuan relasi antar
17
 
 DIMENSI INTERIOR, VOL.4, NO.1, JUNI 2006: 17-24
 Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petrahttp://www.petra.ac.id/~puslit/journals/dir.php?DepartmentID=INT 
 
18
anggota (interaksionisme simbolik), kesatuan imandalam satu ikatan persatuan melalui pengakuan iman,sakramen, ibadah, liturgi dan kepemimpinan gereja.Kesatuan ini bukan keseragaman yang dipaksakanatau tidak mengindahkan kebebasan wajar gereja-gereja partikular (keuskupan). Sifat gereja “yangsatu’’ menuntut suatu
communio
dengan gereja Romaatau sekurang-kurangnya tidak terpisahkan daripada-nya (
ex-communicatio
) (Heuken,1991:345). Gerejaadalah “kudus”, menyimbolkan Kristus kepalanya danRoh Kudus yang berkarya dalam gereja memanggilumat hidup kudus di dunia ini. Gereja adalah“Katolik”, karena mewartakan seluruh Injil Kristusdan terbuka bagi segala bangsa dan kebudayaan.Sedangkan gereja sebagai “Apostolik”, menuntutpewartaan dalam bahasa yang mudah dimengertimanusia abad 20 ini (Ardhi, 1993:20). Keempat sifatgereja tersebut tercermin dalam liturgi gereja katolik.Liturgi sebagai pengalaman keimanan dan sekaliguspengalaman estetis memiliki tujuan yang kreatif, yaitupembentukan simbol, dan isi yang disimbolkan tidak lain menuju ke arah realitas, yakni kehadiran Kristusyang menyelamatkan, yang terekspresikan melaluitindakan ibadah, penataan ruang beserta fasilitas-fasilitas ibadah liturgi.
KONSEPSI LITURGI EKARISTI
Liturgi (dalam bahasa Yunani:
leitourgia
) berartipelayanan yang dibaktikan bagi kepentingan bangsa.Martasudjita menyebutkan liturgi sebagai perayaanmisteri karya penyelamatan Allah dalam Kristus, yangdilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agungbersama gerejaNya di dalam ikatan Roh Kudus.Liturgi merupakan pengudusan (yang dilaksanakanAllah) dan pemuliaan (yang dilakukan umat yangdikuduskan), dengan melangsungkan ibadah Kristussebagai Imam Agung dan mengamalkan tugaspertama dari tiga tugas pokok Kristus, yaitu sebagaiRaja, Guru dan Imam.Salah satu upacara yang terpenting adalah liturgiekaristi (berasal dari kata Yunani
eucharista
, diguna-kan untuk arti ‘syukur’), yang diselenggarakan secararutin setiap hari Minggu atau bahkan ada gereja yangmengadakan setiap hari. Upacara ini terutama untuk memahami sesuatu yang diperankan oleh agamadalam kehidupan masyarakat. Agama bersinggungandengan titik kritis yang ditandai oleh sifat khusus yangmenimbulkan rasa hormat yang luhur dan merupakanpengalaman religius yang suci (kata religiusberhubungan dengan kata
religare
, bahasa Latin yangberarti mengikat, sehingga religius berarti ikatan). Jadiupacara liturgi ekaristi bukan hanya sebagai penga-laman filosofis dan intelektual semata, tetapi jugamelibatkan perasaan dan tindakan manusia.Liturgi ekaristi bersifat sakramental, denganKristus sebagai sakramen awal dan gereja sebagaisakramen dasar. Liturgi bukan hanya bersifat seder-hana, tetapi melalui perbuatan yang ekspresif,komunikatif, kaya dan sangat kompleks, dan dalamperkembangannya yang lebih sempurna ke arah sifat-sifat karya seni. Liturgi bukan perayaan perseorangan,melainkan perayaan bersama umat Allah. Liturgimerupakan ibadah resmi gereja yang dilakukan umatkepada Tuhan, dengan menekankan pada upacara danaktivitas kebaktian, memiliki urutan yang harusdijalankan umat secara sistematis yang telah ditetap-kan secara hirarkis dan mengutamakan suasanakeheningan dan kontemplasi. Dalam pelaksanaanibadahnya telah berkembang beberapa upacara liturgiekaristi yang menggunakan berbagai macam bahasadan tanda-tanda ritual dalam bentuk-bentuk simbolekspresif (seni) lainnya atau bervariasi (diferensiasi).Transformasi simbolis terjadi melalui adanya penga-laman-pengalaman yang disesuaikan dengan sosio-kultural masyarakat pendukungnya, transformasimendalam dari nilai-nilai budaya asli yang diinte-grasikan ke dalam kristianitas dan penanamankristianitas ke dalam aneka budaya manusia yangberbeda. Transformasi ini menunjukkan bahwa gerejatidak terikat pada suatu bentuk khusus budayamanusia, gereja tidak menganggap satu corak kesenianpun sebagai khas bagi dirinya (Konstitusi
Sacrosanctum Concilium
art 123, dalam Prier,1999:10). Transformasi bisa berupa perubahan bentuk (shape), rupa (
appearance
), kualitas (
quality
), ataupembawaan (
nature
); dengan tujuan agar umat yangmengikuti ibadah terpesona oleh lagu, doa, lambang/ hiasan, upacara; karena kesemuanya dapat dimengerti;karena kesemuanya bagus menurut penilaian yangdipakai dalam hidup kebudayaan setempat (Prier,1999 : 13).Pemahaman transformasi gereja tersebut, dapatdisimpulkan sebagai pertemuan yang mendalam daridua budaya, yaitu antara iman kristiani dengan suatubangsa yang memiliki tradisi yang khas. Didalamnyaterdapat pembentukan simbol-simbol ekspresif yangdisesuaikan dengan kebudayaannya, tidak mengu-rangi/menyimpang kaidah-kaidah gerejani, dan justrudapat menambah semangat kesadaran religiusitasumatnya. Dalam hal ini, menurut Sumandiyo (1999:319-320), kepercayaan/agama sebagai sub sistemkebudayaan menjadi simbol konstitutif yang berfungsimenjamin kesinambungan/mempertahankan pola-pola yang ada (
latent pattern-maintenance
) dalamsistem, sesuai dengan aturan atau norma-norma.Sedangkan seni dan bentuk-bentuk komunikasiemosional umat sebagai simbol ekspresif sebagai subsistem dari sistem kebudayaan, berfungsi memenuhi
 
Wardani
 , Simbolisme Liturgi Ekaristi Dalam Gereja Katolik 
 Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petrahttp://www.petra.ac.id/~puslit/journals/dir.php?DepartmentID=INT 
 
19
kebutuhan pencapaian tujuan
(goal attainment 
).Simbol ekspresif dalam aktivitas ibadah, dianggapsebagai salah satu sarana yang mengandung kekuatan(
energy
) dan dapat memberi umpan balik kepadaagama (kegiatan pemujaan), sehingga dapat mencapaitujuan yang diharapkan.
AKTIVITAS SIMBOLIS DALAM LITURGIEKARISTI
Semiotik dalam konsepnya Barthes, tentangsistem dan paradigma, disebutkan bahwa sistemmerupakan suatu aturan main terhadap suatu teks,sehingga teks tersebut mempunyai makna. Sistem tak ubahnya gramatika dalam bahasa. Dan paradigmaadalah varian dari elemen-elemen pembentuk sistemtersebut. Suatu sistem dapat mempunyai makna bilaterdapat kecocokan pada paradigma yang digunakan(Ekomadyo, 2004:110). Dalam hal ini, tata urutanliturgi ekaristi mempunyai sistem atau gramatika yangtetap, yakni pembukaan, liturgi sabda, liturgi ekaristi,dan penutup. Susunan liturgi tersebut dilakukanberurutan dengan pimpinan Imam yang melibatkanpartisipasi aktif seluruh umat. Imam memerankanKristus, mengetuai penyerahan doa atas nama umatberiman kepada Allah. Adapun tata ibadah sebagaisub strukturnya adalah (1) pembukaan (lagu pem-bukaan, pemberian salam dengan kata pembukaan,pernyataan tobat dengan ‘Tuhan kasihanilah kami”,doa kemuliaan, dan doa pembukaan); (2) liturgi sabda(bacaan I: perjanjian lama, mazmur tanggapan, bacaanII: perjanjian baru,
 Alleluia
dengan bait pengantarInjil, bacaan III: Injil, homili, aku percaya, dan doaumat); (3) liturgi ekaristi (persembahan dan doapersembahan, doa syukur agung : prefasi yang kudus,merupakan ucapan syukur atas karya penyelamatanAllah, doa ekaristi dengan konsekrasi dan anmnese,komuni : doa Bapa Kami, salam damai, anak dombaAllah dengan pemecahan hosti, menyambut komuni,syukur, doa sesudah komuni; (4) penutup (pengu-muman dan doa pengutusan). Sedangkan denganpendekatan semiotika Pierce tentang simbol,sentuhan-sentuhan estetis dalam religiusitas yaitukorban, pengakuan dan doa, merupakan interaksisimbolik yang menunjukkan hubungan pribadi antaramanusia dengan Tuhan, menunjukkan suatu tindakanekspresif manusia, dan dialog Tuhan menemui umat-nya (pengalaman religius ke arah yang transenden),menemukan jawaban dalam dialog dengan ‘yanglain’, tidak hanyanya imanen, tetapi menawarkanpersatuan Tuhan dengan umatnya. Menurut Suman-diyo (1999:317), dialog tersebut dapat terjadi melaluitanda-tanda yang tampak, artinya Allah bersabda danberkarya dalam diri manusia melalui sabda yangmasuk telinga, melalui air yang membersihkan,melalui makan dan minum yakni simbol Tubuh danDarah Kristus. Umat percaya bahwa dengan makanroti dan minum anggur menunjukkan kesatuan intimdan langsung dengan Tuhan. Seperti yang tertulisdalam Alkitab, ‘Hendaklah kamu penuh dengan Roh,dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalammazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani’.Dan manusia menjawab dengan melakukan tindakanyang menggunakan semua indra. Tindakan tersebutantara lain : berdiri, berjalan (mengungkapkan hakikatumat Allah yang berziarah dan bergerak, duduk (melambangkan kesiapsediaan umat mendengarkansabda Tuhan), tangan terkatub/menunduk/sikapberdoa (umat berkomunikasi dengan Tuhan),penumpangan tangan (Tuhan memberi berkat dandamai sejahtera), memuji-muji/melantunkan lagupujian (ucapan pujian, hormat, sembah dan syukurumat kepada Tuhan), dan sebagainya. Dengan dasar“Sebab Tuhan berkenan kepada umatNya”, manusiamelakukan aktivitas simbolik dengan menyatukan jiwa, roh, badan dan indra untuk memuji danmenyembah Allah.Kedudukan dan tindakan simbol liturgi merupa-kan penghubung antara
human
kosmis dan komuni-kasi religius lahir dan batin, merupakan tindakanpengungkapan estetis, etis dan religius. Hal ini sesuaidengan pendapat Soren Kierkegaard (dalamHerusatoto, 2001: 13-14), yang menyatakan bahwahidup manusia mengalami tiga tingkatan, yaitu estetis,etis dan religius. Dengan kehidupan estetis manusiamampu menangkap dunia, kemudian menuangkannyakembali dalam karya-karya seni. Dalam tingkatan etis,manusia mencoba meningkatkan kehidupan estetisnyadalam bentuk tindakan manusiawi, yaitu bertindak bebas dan mengambil keputusan yang dapatdipertanggungjawabkan kepada sesama. Dan akhirnyaia sadar bahwa hidup harus mempunyai tujuan. Segalatindakan dipertanggungjawabkan kepada yang lebihtinggi, Tuhan Yang Maha Esa. Tindakan manusiayang mengikuti bukan hanya masalah penonjolankeyakinan, tetapi tindakan yang kompleks, manusiatidak dapat bersikap acuh tak acuh, ia merasaberhadapan dengan Dia yang berdaulat, ia mengalamisuatu
metanoia
(terjungkir balik), yang secaraemosional mampu merombak hidupnya.Tindakan religius tersebut merupakan ungkapanatau ekspresi manusia dalam perjumpaan denganTuhannya, yang didalamnya terdapat berbagai unsurritual dan emosional (Hayon, 1986 :55-56), dimanasifat keseluruhan dari manusia yang melakukanibadah dilibatkan dalam pembentukan simbolekspresif (seni). Jadi simbol liturgi bukanlah dalamarti kosong yang hanya memberi informasi saja

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->