Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
49Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Resume Jurnal Perilaku Organisasi_Wewenang Formal Dan Nyata Dalam Organisasi

Resume Jurnal Perilaku Organisasi_Wewenang Formal Dan Nyata Dalam Organisasi

Ratings: (0)|Views: 2,934 |Likes:
Published by HANDIK ZUSEN
Resume tersebut merupakan saduran dari jurnal internasional yang berjudul "Formal and Real Authority in Organizations", oleh
Philippe Aghion dan Jean Tirole, yang diterbitkan dalam The Journal of Political Economy, Vol. 105, No. 1. (Feb., 1997), pp. 1-29.
Stable URL:
http://links.jstor.org/sici?sici=0022-3808%28199702%29105%3A1%3C1%3AFARAIO%3E2.0.CO%3B2-K
The Journal of Political Economy is currently published by The University of Chicago Press.
Resume tersebut merupakan saduran dari jurnal internasional yang berjudul "Formal and Real Authority in Organizations", oleh
Philippe Aghion dan Jean Tirole, yang diterbitkan dalam The Journal of Political Economy, Vol. 105, No. 1. (Feb., 1997), pp. 1-29.
Stable URL:
http://links.jstor.org/sici?sici=0022-3808%28199702%29105%3A1%3C1%3AFARAIO%3E2.0.CO%3B2-K
The Journal of Political Economy is currently published by The University of Chicago Press.

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: HANDIK ZUSEN on Feb 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2013

pdf

text

original

 
WEWENANG FORMAL DAN WEWENANG NYATADALAM ORGANISASI
(Resume)
 
I. PENDAHULUAN
1.Latar BelakangPenggunaan wewenang formal (hak pembuatan keputusan) danwewenang yang nyata
1
(kontrol/kendali efektif terhadap keputusan) dalamorganisasi memerlukan ketersediaan informasi yang cukup sehingga tidak terjadi hal yang kontra produktif dalam hal pembuatan keputusan maupun pendelegasian sebuah wewenang oleh pimpinan organisasi. Dalam penggunaan kedua wewenang tersebut oleh seorang pimpinan sangatdipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas ketersediaan informasi yangdimilikinya, baik yang berasal dari diri pribadi pimpinan tersebut maupunyang berasal/didapat dari luar dirinya, khususnya sebagai hasil darikomunikasinya dengan para wakil maupun bawahan lainnya
-yang merupakan agen informasi
. Jika seorang pimpinan organisasi melakukan pengambilan keputusan atau pendelegasian wewenang tidak didasarkanatas ketersediaan informasi yang cukup, maka kemungkinan besakeputusan yang diambil tidak tepat atau wewenang didelegasikan kepadaorang yang tidak tepat pula. Demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu,dalam penggunaan kedua wewenang dimaksud, seorang pimpinanorganisasi selayaknya memiliki dasar berupa pertimbangan-pertimbangantertentu, sehingga tidak terjadi kesalahan, baik dalam hal pengambilankeputusan maupun pendelegasian wewenang.Hal kontra produktif lainnya yaitu ketika tidak terjadi alokasi yangseimbang dalam penggunaan kedua wewenang tersebut. Ketika seorang pimpinan organisasi cenderung menggunakan wewenang yang nyata (real
1
Sebagai padanan dalam istilah Bahasa Indonesia, “real authority” dapat juga disebut sebagaiwewenang tidak tertulis. Namun untuk keperluan akademik, penulis menggunakan istilah“wewenang nyata” sebagai terjemaahan langsung dari istilah “real authority”.
 
authority) dalam mengelola oegansisai, maka pengendalian atas kinerjaorganisasi akan berkurang keefektifannya bahkan dapat menyebabkanhilangnya fungsi pengendalian/kontrol itu sendiri. Oleh karena itu pengalokasian kedua wewenang dimaksud oleh seorang pimpinanorganisasi memerlukan pertimbangan-pertimbangan yang memadai/layak sebelum memilih menggunakan wewenang formal atau wewenang nyatayang dimilikinya guna mengambil suatu keputusan maupunmendelegasikan wewenang.Sekitar 40 tahun yang lalu, Herbert Simon mendefinisikan wewenangsebagai suatu hak untuk memilih tindakan tertentu guna mempengaruhisebagian maupun keseluruhan organisasi. Hal ini sesuai dengan penekanandari Grossman dan Hart (1986) serta Hart dan Moore (1990), bahwawewenang dapat juga dikatakan terkait dengan kepemilikan suatu aset,yang memberikan suatu hak terhadap pemilik aset untuk membuat suatukeputusan terkait dengan penggunaan aset dimaksud. Suatu wewenang,secara umum dapat diperoleh, baik secara implisit maupun eksplisit, padasuatu kontrak/perjanjian yang menentukan pengalokasian hak dari seoranganggota kelompok dalam suatu organisasi dalam pembuatan keputusanatas suatu permasalahan.Wewenang yang pengalokasiannya sesuai dengan kontrak/perjanjiantersebut merupakan contoh dari wewenang formal (formal authority).Dalam penggunaan wewenang formal tersebut tidak memerlukan pertimbangan dengan berdasarkan wewenang nyata yang dimiliki oleh pemilik wewenang
2
dimaksud. Sebagai contohnya, sebagaimana diketahuisecara umum bahwa para pemegang saham memiliki kontrol/kendali yangterbatas terhadap jajaran direksi suatu perusahaan, hal ini menunjukkantentang
dominasi
 para pemegang saham tersebut terhadap jajaraneksekutif tingkat atas (direksi) perusahaan tersebut yang pada gilirannyaseringkali harus memberikan persetujuan tanpa dasar/pertimbangan yanglayak terhadap proyek-proyek tertentu.
2
Maksudnya adalah pemilik wewenang formal maupun wewenang nyata, sebagai contohnya para pihak yang terlibat dalam suatu kontrak/perjanjian.
2
 
Contoh lain dari pengalokasian wewenang formal dan nyata yangtidak tepat, yaitu ketika seorang pimpinan memiliki beban kerja yang berlebihan terkait wewenang formal yang dimiliknya sehinggamengakibatkan waktu yang dimilikinya menjadi sedikit untumendapatkan informasi yang relevan maka akan mengakibatkan pimpinantersebut kehilangan kontrol terhadap berbagai aktivitas organisasi sertamenjadikan berbagai proyek yang ada tidak mencapai hasil yang optimal.Informasi yang tidak relevan tersebut dapat berasal dari para bawahan pimpinan organisasi dimaksud. Sehingga akibatnya pimpinan organisasimelakukan kesalahan dengan memilih masukan berupa informasi yangtidak akurat dengan menyetujui begitu saja usulan yang diberikan bawahannya. Sebaliknya, jika pengalokasian wewenang formal maupunnyata dilakukan secara tepat maka akan menghasilkan keputusan yangtepat pula sehingga hasil kinerja yang dicapai organisasi pun dapatoptimal, contohnya yaitu ketika seorang pimpinan organisasi-
 yang memiliki ketersediaan informasi yang layak 
-menerima usulan proyek dari bawahannya, maka ia akan meneliti dengan baik usulan itu disertai dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu karena terkadang proyek yangdiajikan tersebut kurang bermutu dan dalam pengajuan usulan proyek tersebut bawahan memiliki motivasi tersendiri, antara lain yaitu, bahwa proyek tersebut akan menghasilkan keuntungan (benefit) secara pribadi,dapat meningkatkan karirnya di masa depan dan memerlukan usaha yanglebih sedikit (kecil) daripada mengajukan proyek bermutu yang hasilnyaoptimal. Dengan ketersediaan informasi yang cukup yang dimiliki pimpinan organisasi, maka pimpinan organisasi tidak akan memilih ataumenyetujuai proyek tersebut begitu saja, namun akan memilih proyek lainyang sesuai pertimbangannya akan membawa hasil optimal bagiorganisasi.Antara wewenang formal dan wewenang nyata terdapatinterdependensi satu sama lain. Wewenang nyata ditentukan oleh struktur informasi yang ada/tersedia, yang pada gilirannya tergantung juga kepada3

Activity (49)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Rahayu Ayu liked this
Muhammad Yamani liked this
Ony Dan liked this
nabilabee liked this
tikusbiru liked this
Bios Cell liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->