Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
30Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
FIQIH MUAMALAH

FIQIH MUAMALAH

Ratings: (0)|Views: 2,844 |Likes:
Published by syamradityazains
STAI LA ROIBA
STAI LA ROIBA

More info:

Published by: syamradityazains on Feb 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/05/2013

pdf

text

original

 
FIQIH MUAMALAHDiajukan sebagai syarat untuk menikuti mata kuliahPendidikan Agama Islam (PAI)DISUSUN OLEH :Nama : SamlaniMata Kuliah: PAIDosen : PUDIN SAEPUDINSEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) LAA-ROIBAUPT. PARUNGPANJANG – BOGOR C-2010
1
 
FIQIH MUAMALAH
A. SEWA-MENYEWA DAN UPAH (IJARAH
)
Ijarah menurut syara' adalah perjanjian atau perikatan mengenai pemakaian dan pemungutan hasil dari manusia, benda atau binatang. Dalam bahasa arab ijarahadalah sewa-menyewa.Ijarah merupakan perjanjian yang bersifat kosensual, mempunyai kekuatanhukum yaitu pada saat sewa-menyewa berlangsung, setiap yang dapat di ambilmanfaatnya serta setiap keadaannya adalah sah untuk di persewakan. Dalamkehidupan sehari-hari yang demikian ini merupakan pengetahuan bagi manusiadalam melakukan hal tersebut yang secara muthlak persewaan itu adalah bayar dimuka, kecuali disyaratkan bayar belakang. Dan dalam peristilahan sehari-hari pihak yang menggadaikan di sebut dengan "pemberi gadai" dan yang menerimagadai dinamakan "penerima atau pemegang gadai" maka dari itu pengertiangadai yang ada dalam syari'at Islam agak berbeda dengan pengertian gadai yangada dalam hukum positif kita sekarang ini, sebab pengertian gadai dalam hukum positif kita sekarang ini, cenderung dengan pengertian yang ada dalam kitabUndang-Undang Hukum Perdata (KUH. Perdata).a. PengertianSebelum dijelaskan arti sewa-menyewa dan upah atau ijarah, terlebih dahuluakan dikemukakan mengenai makna operasional ijarah itu sendiri. Idris ahmaddalam bukunya yang berjudul Fiqih Syafi'i berpendapat bahwa ijarah adalahupah-mengupah. Hal ini terlihat ketika beliau menerangkan rukun dan syaratupah-mengupah, yaitu mu'jir dan musta'jir (yang memberikan upah dan yangmenerima upah), sedangkan Kamaluddin A. Marzuki sebagai penerjemah FiqhSunnah karya Sayyid Sabiq menjelaskan makna ijarah dengan sewa menyewa.2
 
Dari dua buku tersebut ada perbedaan terjemahan kata ijarah dari bahasa Arabkedalam bahasa Indonesia. Antara sewa dengan upah ada perbedaan maknaoperasional, sewa biasanya digukan untuk benda, seperti "seorang mahasiswamenyewa kamar untuk tempat tinggal selama kuliah", sedangkan upahdigunakan untuk tenaga, seperti "para karyawan bekerja di pabrik dibayagajinya (upahnya) satu kali dalam seminggu. Dalam bahasa Arab upah dan sewadi sebut ijarah. Al-Ijarah berasal dari kata al-ajru yang arti menurut bahasa ialahal-'iwadh yang arti bahasa Indonesianya ialah ganti dan upah.B. ISTIHSANIstihsanOrang yang menetapkan hukum berdasarkan istihsan tidak boleh berdasarkanrasa dan keinginannyya semata, akan tetapi haruslah berdasarkan hal-hal yangdiketahui bahwa hukum itu sesuai dengan tujuan Allah SWT menciptakan syara'dan sesuai pula dengan kaidah-kaidah syara' yang umum"1. PengertianIstihsan menurut bahasa berarti menganggap baik atau mencari yang baik.Menurut ulama ushul fiqh, ialah meninggalkan hukum yang telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar dalil syara', menuju(menetapkan) hukum lain dari peristiwa atau kejadian itu juga, karena ada suatudalil syara' yang mengharuskan untuk meninggalkannya. Dalil yang terakhir disebut sandaran istihsan.Qiyas berbeda dengan istihsan. Pada qiyas ada dua peristiwa atau kejadian.Peristiwa atau kejadian pertama belum ditetapkan hukumnya karena tidak adanash yang dapat dijadikan dasarnya. Untuk menetapkan hukumnya dicari peristiwa atau kejadian yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkannash dan mempunyai persamaan 'illat dengan peristiwa pertama. Berdasarkan persamaan 'illat itu ditetapkanlah hukum peristiwa pertama sama dengan hukum peristiwa kedua. Sedang pada istihsan hanya ada satu peristiwa atau kejadian.3

Activity (30)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Isep Ali Sandi liked this
Arief Setiawan liked this
ECo Ryd Dk liked this
Dwy Octaviany liked this
Margareth Maya liked this
Aris King Luther liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->