Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
33Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tugas Bahasa Idonesia “menganalisis Cerpen”

Tugas Bahasa Idonesia “menganalisis Cerpen”

Ratings: (0)|Views: 4,077 |Likes:
Published by Kanaganet
Tugas
Tugas

More info:

Published by: Kanaganet on Feb 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

 
TUGAS BAHASA IDONESIA
“MENGANALISIS CERPEN”
Disusun Oleh :
Nama: Tutur PrabowoNo: 38Kelas: X
C
Tahun Ajaran 2009 / 2010
SMAN 1 SRAGEN
 
It’s Me, Uki!
Oleh : RF. Dhonna
“Uki pulang!teriak Uki kenceng, lalu menggeletakkan sepedanya di garasi denganserampangan.“GRUBYAK!bunyi suara yang ditimbulkannya. Mami yang mendengar suara keras itulangsung ngomel-ngomel.“Ki, hati-hati, dong! Pelan sedikit kan bias!”“Uki haus, Mi,” timpalnya lalu segera mengambil sebotol coca-cola dari lemari es.“Mbak Naya datang, tuh!” lanjut Mami kemudian.“Hah, Mbak Naya? Mana?”“Di kamar kamu, lagi bersih-bersih.”Mendengar itu, Uki segera berlari ke kamarnya, takut Mbak Naya mengubah letak benda-bendakoleksinya.“Baru datang, Ki?” sapa Mbak Naya ketika Uki melongokkan kepalanya di pintu. Mbak Nayaadalah saudara kandung Uki satu-satunya yang sekarang jadi sekretaris di sebuah perusahaan konfeksi diJakarta.“Dari mana aja seharian?” lanjutnya sembari tetap asyik beres-beres. Tampaknya Mbak Nayakurang memedulikan kehadiran Uki.“kamu selalu ninggalin kamar dalam keadaan berantakan seperti ini, Ki?” lanjutnya lagi.Uki Cuma tersenyum sambil garuk-garuk kepala, nggak nyangka kalo kakaknya yang cantik ituakan menyambutnya dengan pertanyaan yang membuatnya merasa malu dan kikuk.“Lagi liburan ya, Mbak?”“Nggak. Ada tugas dari kantor. Biasa, kunjungan ke peragaan busana,” jelas Mbak Naya. Kaliini seraya merapikan buku-buku Uki yang berserakan di lantai.“Berapa hari dirumah?”“Besok pagi Mbak sudah harus balik ke Jakarta. Ntar malem temenin Mbak, ya?”“Nggak ah, males! Emangnya, peragaan busana apa sih Mbak?”“Kebaya,” jawab Mbak Naya pendek.” Oh, iya,” tiba-tiba Mbak Naya teringat sesuatu. “Ini oleh-oleh buat kamu.”Uki menerima bungkusan dari Mbak Naya, lalu mengeluarka satu-persatu. Ada sebuah
lipgloss
warna pink yang lucu dan satu set kosmetik untuk remaja putri lainnya, sebuah rok jins biru tua, serta stelkebaya motif renda dari bahan organdi berwarna pastel lembut.“Kata Mami, sebentar lagi sekolah kamu mau ngerayain hari kartini. Makannya, Mbak comotinaja satu stel kebaya buat kamu. Bagus, kan? Ini desain pertama lho…,”Uki tak berkomentar. Ia hanya geli membayangkan dirinya memakai kebaya itu dihari kartininanti.“Sekarang, ABG di sana lagi gandrung sama rok ini, Ki. Nah mumpung rok jins model terbaruini belum sampai sini, Mbak pengen kamu jadi
trend setter 
-nya,” ujar Mbak Naya sambil mengepaskan ke pinggang Uki yang kebetulan sedang berdiri. “dipakai ya, Ki? Mbak Naya keliling Jakarta lo, nyari rok ini. Semua mall Mbak masukin, eh, ktemunya di Kelapa Gading.”
Siapa suruh? Emang Uki peduli?
Batin Uki tidak senang. Uki tahu, Mbak Naya cerita panjanglebar begitu biar Uki mau memakai rok itu.“Kenapa, Ki? Kamu nggak suka?” rupanya Mbak Naya menangkap ketidak-senangan Uki.Mbak Naya menghela napas panjang. “Uki, kamu sekarang udah enam belas tahun. Mba pengen melihat kamu berubah.”Uki menunduk, memilin-milin ujung kaos oblongnya seperti anak kecil yang tertangkap basamencuri mangga. Uki memang berbeda dengan kakaknya yang feminism. Sejak kecil, Uki sangat dekatdengan sang Papi. Setiap akhir pekan, Papi selalu mengajak Uki jalan-jalan, memancing ikan di sungai,latian memanah, dan sebagainya. Kadang Uki juga sering ikut ke tempat Papinya mengantar karate.Bahkan setiap kali ada genteng yang bocor, Uki selalu ikut naik ke atap. Mungkin kedekatan dengan sang
 
 papi inilah yang membuat Uki sulit bersikap lemah lembut seperti layaknya seorang cewek. Apalagiteman-temannya kebanyakan cowok.“Mbak pengen, sekali ini aja Uki kmu nyenengin Mbak,” pinta Mbak Naya memelas. “Ya udah,Mbak ga maksa. Yang penting, Mbak udah ngasih kamu semua ini. Mau dipakai apa nggak, terserahkamu!” cetus Mbak Naya kemudian sembari meninggalkan kamar Uki. Uki segera membuntutinya.Mbak Naya mengepaskan tubuhnya ke sofa, meraih
remote
TV, lalu menekan tombol
 power 
.Uki duduk di sebelahnya.“Mbak, kenapa sih, cewek itu harus dandan? Padahal, nggak dandan pun, namanya cewek itu pasti cantik kan?” Uki melirik Mbak Naya dengan ekor matanya. Mbak Naya bergeming. “Sebenarnyacewek itu dandan buat apa dan buat siapa sih, Mbak?” lanjutnya.Uki menarik napas panjang. “Uki nggak pengen dandan kalau ujung-ujungnya hanya untuk menarik perhatian cowok,” sambung Uki, seolah-olah sedang berbicara sendiri. “Selama ini, temen-temencewek Uki di sekolah heboh beli produk pemutih, pake pelembab wajah, nge-
rebonding 
dan ngiteminrambut, ngeborong segala jenis parfum, karena mereka pengen cowok 
 gebetan
mereka ngasih perhatian kemereka. Uki belum pernah nemuin, temen Uki mempercantik diri untuk dirinya sendiri. Uki yakin, Mbak  Naya juga nggak jauh beda dengan mereka. Mbak mempercantik diri biar Mas Bayu nggak ninggalinMbak. Ya, kan?”Kini Mbak Naya beralih menatap Uki, lama kemudian ia beranjak dari sofa. Mungkin ia sebaldengan kata-kata Uki yang blak-blakan.“Mbak, Uki Cuma pengen ngejelasin kenapa Uki nggak mau pake rok…” mendengar perkataanUki barusan, Mbak Naya sontak menghentikan langkahnya. Dipandanginya Uki lekat-lekat.“Uki nggak 
 pobia
rok atau kosmetik seperti perkiraan Mbak sama Mami. Jadi, Mbak Naya samaMami nggak perlu membawa Uki ke psikiater segala. Selama ini menurut Uki, pake rok itu
ribet 
, nggak  praktis. Uki ngerasa nggak bebas dan nggak aman kalo pake rok. Di mata Uki, cewek pake rok ituterkesan lemah banget. Beda kalo pake celana. Celana bikin cewek kelihatan enerjik dan lebih
macho
.Dengan begitu, cowok-cowok jadi mikir dua kali kalo mau ngusilin cewek.”“Ki,Mbak Naya mulai buka suara, “cowok ngusilin cewek itu nggak karena kegenitan, nggak kecentilan, mereka nggak bakal gitu. Lalu dengan penampilan kamu yang tetap seperti ini, apa kamunggak takut seandainya cowok-cowok nggak ada yang mau jadi pacar kamu?”“Ngapain takut? Yang penting Uki ngerasa nyaman dengan penampilan seperti ini. Uki ngerasa pede dengan hanya jadi diri sendiri,” ucapnya mantap, seolah yakin kalau kelak prinsipnya ini nggak akan berubah.“Uki….,”“Mbak, pake rok itu bisa memancing terjadinya pemerkosaan. Uki nggak mau diperkosa,” potongnya cepat sambil
ngeloyor 
 pergi.Mbak Naya tercengan mendengarnya. Kini ia semakin yakin bahwa adiknya memang perludibawa ke psikiater secepatnya.
 Dikutip dari : Bahasa dan Sastra Indonesia X 

Activity (33)

You've already reviewed this. Edit your review.
Adinda Michelle liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
Ryan Suryaman liked this
Husni Bertahlil liked this
Ratna Love Lenge liked this
Ridho Geonesa liked this
Winniie Thepooh liked this
M Dwi Arya P liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->