Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
31Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Peristiwa Tj Priok

Peristiwa Tj Priok

Ratings: (0)|Views: 2,079 |Likes:
Published by naksintink

More info:

Published by: naksintink on Feb 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2013

pdf

text

original

 
PERISTIWA TANJUNG PRIOK PERISTIWA TANJUNG PRIOK PERISTIWA TANJUNG PRIOK PERISTIWA TANJUNG PRIOK 
Tragedi Tanjung Priok, Jakarta, 1984Ditulis pada Februari 28, 2008 oleh Roemahcerdaz
Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan di tanjung Priok, tentu tidak akanpernah melupakan peristiwa tragis dan berdarah ini. Beberapa teman, tetanggadan seorang ustadz keturunan bugis, yang juga tetangga, turut menjadi korbanatas kebiadaban dan kerakusan akan kekuasaan Orde baru. Semoga tidak akanpernah terulang lagi di masa datang………Senin, 10 September 1984. Seorang oknum
 ABRI 
beragama
Katholik 
,
Sertu Hermanu 
, mendatangi
mushala As-Sa’adah 
untuk menyita pamfletberbau ‘SARA’. Namun tindakan Sertu Hermanu sangat menyinggung perasaanummat Islam. Ia
masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an 
. Wargamarah dan motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurusmushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapatrespon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkansalah seorang ikhwan yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibatsiksaan.
Rabu, 12 September 1984 
. Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuatpernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di JalanSindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengansemangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko,Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yangditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengansuara bergetar, “Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahanitu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darahdi Priok ini”. Mubaligh lain, Ustdaz Yayan, bertanya pada jamaah, “Man anshoriilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?” Dijawab oleh massa, “NahnuAnshorullah ! Kami siap menolong agama Allah !” Sampai jam sebelas malamtidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan kekawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerakmenuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma’ Allah dan Al-Qur’an. Amir Bikiberpesan, “Yang merusak bukan teman kita !”Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisisatupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani(dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnyaoleh tentara). Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanyaduduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur darikomandan tentara. Mereka mundur dua langkah, lalu … astaghfirullah ! Tanpaperingatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerakmaju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyianmalam. Aliran listrik yang sudah dipadamkan sebelumnya membuat kilatan apidari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan. Satu demi satu parasyuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi.
 
2
Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang danmelindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragamhijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk keperkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjirdarah.Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, JenderalL. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas ‘hanya’ 18 orang dan luka-luka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK(SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan sekitar 400orang tewas, belum terhirung yang luka-luka dan cacat. Sampai dua tahunsetelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam.Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak ataukerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat.Sebenarnya sejak beberapa bulan sebelum tragedi, suasana Tanjung Priokmemang terasa panas. Tokoh-tokoh Islam menduga keras bahwa suasanapanas itu memang sengaja direkayasa oleh oknum-oknum tertentudipemerintahan yang memusuhi Islam. Terlebih lagi bila melihat yang menjadiPanglima ABRI saat itu, Jenderal Leonardus Benny Moerdani, adalah seorangKatholik yang sudah dikenal permusuhannya terhadap Islam. Suasanarekayasa ini terutama sekali dirasakan oleh ulama-ulama di luar tanjung Priok.Sebab, di kawasan lain kota Jakarta sensor bagi para mubaligh sangat ketat.Namun entah kenapa, di Tanjung Priok yang merupakan basis Islam itu paramubaligh dapat bebas berbicara bahkan mengkritik pemerintah, sampaimenolak azas tunggal Pancasila. Adanya rekayasa dan provokasi untukmemancing ummat Islam dapat diketahui dari beberapa peristiwa lain sebelumitu, misalnya dari pembangunan bioskop Tugu yang banyak memutar filmmaksiat diseberang Masjid Al-Hidayah. Tokoh senior seperti M. Natsir danSyafrudin Prawiranegara sebenarnya telah melarang ulama untuk datang ke Tanjung Priok agar tidak masuk ke dalam perangkap. Namun seruan inirupanya tidak sampai kepada para mubaligh Priok. Dari cerita Syarifin Maloko,ketua SONTAK dan mubaligh yang terlibat langsung peristiwa 12 September, iabaru mendengar adanya larangan tersebut setelah berada di dalam penjara.Rekayasa dan pancingan ini tujuannya tak lain untuk memojokkan Islam danummatnya di Indonesia.
Diringkas dan diedit ulang dari Majalah Sabili dan Tabloid Hikmah 
www.ummah.net/
 
Kronolog Kronolog Kronolog Kronologi Peristiwa Tanjung Priok i Peristiwa Tanjung Priok i Peristiwa Tanjung Priok i Peristiwa Tanjung Priok Versi Abdul Qadir Djaelani Versi Abdul Qadir Djaelani Versi Abdul Qadir Djaelani Versi Abdul Qadir Djaelani 
Abdul Qadir Djaelani adalah salah seorang ulama yang dituduh oleh aparatkeamanan sebagai salah seorang dalang peristiwa Tanjung Priok. Karenanya, iaditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Sebagai seorang ulama dan tokohmasyarakat Tanjung Priok, sedikit banyak ia mengetahui kronologi peristiwa Tanjung Priok. Berikut adalah petikan kesaksian Abdul Qadir Djaelani terhadap
 peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984 
, yang tertulis dalam eksepsipembelaannya berjudul “
Musuh-musuh Islam Melakukan Ofensif terhadap Umat Islam Indonesia 
”.
Sabtu, 8 September 1984
Dua orang petugas Koramil (Babinsa) tanpa membuka sepatu, memasukiMushala as-Sa'adah di gang IV Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Merekamenyiram pengumuman yang tertempel di tembok mushala dengan air got(comberan). Pengumuman tadi hanya berupa undangan pengajian remaja Islam(masjid) di Jalan Sindang.
Ahad, 9 September 1984
Peristiwa hari Sabtu (8 September 1984) di Mushala as-Sa'adah menjadipembicaran masyarakat tanpa ada usaha dari pihak yang berwajib untukmenawarkan penyelesaan kepada jamaah kaum muslimin.
Senin, 10 September 1984
Beberapa anggota jamaah Mushala As - Sa'adah berpapasan dengan salahseorang petugas Koramil yang mengotori mushala mereka. Terjadilahpertengkaran mulut yang akhirnya dilerai oleh dua orang dari jamaah MasjidBaitul Makmur yang kebetulan lewat. Usul mereka supaya semua pihak mintapenengahan ketua RW, diterima.Sementara usaha penegahan sedang.berlangsung, orang-orang yang tidakbertanggung jawab dan tidak ada urusannya dengan permasalahan itu,membakar sepeda motor petugas Koramil itu. Kodim, yang diminta bantuanoleh Koramil, mengirim sejumlah tentara dan segera melakukan penangkapan.Ikut tertangkap 4 orang jamaah, di antaranya termasuk Ketua Mushala as-Sa'adah.
Selasa, 11 September 1984
Amir Biki menghubungi pihak-pihak yang berwajib untuk meminta pembebasanempat orang jamaah yang ditahan oleh Kodim, yang diyakininya tidak bersalah.Peran Amir Biki ini tidak perlu mengherankan, karena sebagai salah seorangpimpinan Posko 66, dialah orang yang dipercaya semua pihak yangbersangkutan untuk menjadi penengah jika ada masalah antara penguasa(militer) dan masyarakat. Usaha Amir Biki untuk meminta keadilan ternyatasia-sia.

Activity (31)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Novia Sinta liked this
Murliadi Palham liked this
Dea Iskandar liked this
Dirham Jayadi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->