Untuk sampai kepada status hukum imunisasi model di atas, kami memandang penting untuk memberikan jembatan terlebih dahulu dengan memahami beberapa masalah dan kaidah berikut,setelah itu kita akan mengambil suatu kesimpulan hukum.51.Masalah IstihalahMaksud Istihalah di sini adalah berubahnya suatu benda yang najis atau haram menjadi bendalain yang berbeda nama dan sifatnya. Seperti khamr berubah menjadi cuka, bai menjadi garam,minyak menjadi sabun, dan sebagainya.9Apakah benda najis yang telah berubah nama dan sifatnya tadi bisa menjadi suci? Masalah inidiperselisihkan ulama, hanya saya pendapat yang kuat menurut kami bahwa perubahan tersebut bisa menjadikannya suci, dengan dalil-dalil berikut :a.Ijma’ (kesepakatan) ahli ilmu bahwa khomr apabila berubah menjadi cuka maka menjadi suci. b.Pendapat mayoritas ulama bahwa kulit bangkai bisa suci dengan disamak, berdasarkan sabda Nabi “
Kulit bangkai jika disamak maka ia menjadi suci.
” ( Lihat Shohihul-Jami’ : 2711)c.Benda-benda baru tersebut – setelah perubahan – hukum asalnya adalah suci dan halal, tidak ada dalil yang menajiskan dan mengharamkannya.Pendapat ini merupakan madzhab Hanafiyyah dan Zhohiriyyah10, salah satu pendapat dalahmadzhab Malik dan Ahmad11. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah12,Inul Qoyyim, asy-Syaukani13, dan lain-lain.14Alangkah bagusnya ucapan Imam Ibnul-Qoyyim : “Sesungguhnya benda suci apabila berubahmenjadi najis maka hukumnya najis, seperti air dan makanan apabila telah berubah menjadi air seni dan kotoran. Kalau benda suci bisa berubah najis, lantas bagaimana mungkin benda najistidak bisa berubah menjadi suci? Allah telah mengeluarkan benda suci dari kotoran dan bendakotor dari suci. Benda asal bukanlah patokan. Akan tetapi, yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang. Mustahil benda tetap dihukumi najis padahal nama dan sifatnya telahtidak ada, padahal hukum itu mengikuti nama dan sifatnya.”152.Masalah Istihlak Maksud Istihlak di sini adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lainnya yangsuci dan hal yang lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis dan keharamannya, baik rasa,warna, dan baunya.Apabila benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut bisa menjadi suci? Pendapat yang benar adalah bisa menjadi suci, berdasarkan dalil berikut :“
Air itu suci, tidak ada yang menajiskannya sesuatu pun.
” (Shohih. Lihat Irwa’ul-Gholil:14)
“Apabila air telah mencapai dua qullah maka tidak najis
.”(Shohih. Lihat Irwa’ul-Gholil:23).Dua hadits di atas menunjukkan bahwa benda yang najis atau haram apabila bercampur denganair suci yang banyak, sehingga najis tersebut lebur tak menyisakn warna atau baunya maka diamenjadi suci. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Barang siapa yang memperhatikan dalil-dalil yang disepakati dan memahami rahasia hukum syari’at, niscaya akan jelas baginya bahwa pendapat ini paling benar, sebab najisnya air dan cairan tanpa bisa berubah, sangat jauh dari