Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
30Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Landasan Psikologi Pendidikan Kecerdasan Moral

Landasan Psikologi Pendidikan Kecerdasan Moral

Ratings: (0)|Views: 1,668 |Likes:
Published by awaskopil

More info:

Published by: awaskopil on Feb 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2013

pdf

text

original

 
Friday, January 30, 2009
BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang
Sejak zaman pencerahan (renaissance). Ilmu pengetahuan sangat diagungkansebagai lambang kemajuan peradaban, inteligensi naik daun dan dianggap sebagai prediktor utama kesuksesan dalam hidup. Seseorang dianggap cerdas jika memilikiintelligence quotient (IQ) yang tinggiSekolah sebagai salah satu institusi pendidikan, memegang peranan penting dalammengembangkan kecerdasan intelektual tersebut, kurikulum sebagai perangkat pengajaran sangat memfokuskan pada peningkatan kecerdasan ini. Kecerdasan lainseperti kecerdasan emosi (EQ), kecerdasan moral (MQ), kecerdasan spiritual (SQ) kurangdiperhatikan bahkan hanya sebagai pelengkap. Sebagai contoh, pelajaran matematika,fisika ( ilmu pengetahuan sain), biologi, bahasa Inggris diberikan 4 – 5 kali jam pelajarandalam seminggu sedangkan pelajaran agama, moral hanya 2.Hasilnya, terjadilah ketimpangan kepribadian : cerdas, pintar dalam sain danteknologi namun buta dalam perkara ibadah kepada Tuhan, hubungan dengan manusiadan lingkungan. Penemuan- penemuan bukannya menjadi alat untuk mensejahterakanumat manusia namun sebaliknya menjadi perusak bahkan pemusnah. Ini hanyalah salahsatu akibat dari pengahambaan pada peningkatan IQ.“Bila IQ yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya berbuat demikian.Dan bila kita membiarkannya berkuasa, kita telah memiliki penguasa yang buruk”. ( Robert Stenberg).Manusia adalah makhluk dua dimensi yang memerlukan penyelarasan jasmanidan ruhani, otak dan hati.“Engkau berpikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahaldi dalam dirimu tersimpan kekuatan tak terbatas”
 
Ali bin Abi ThalibTuhan tidak hanya menganugerahkan otak pada manusia, namun juga emosi, dan batin. Kecerdasan Otak (IQ) berperan sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, namunkecerdasan emosilah (EQ) yang sesungguhnya menghantarkan seseorang menuju puncak  prestasi . Fakta membuktikan seorang Andrie Wongso yang pendidikan hanya sekolahdasar itupun tidak lulus, mampu meraih sukses dengan menjadi seorang motivator yangmampu mempengaruhi emosi dan mengubah tingkah laku banyak orang. Sangat ironisdengan seseorang yang berpendidikan tinggi namun tidak bisa memberi kebaikan padaorang lain justru yamg terjadi adalah ketidakadilan, kerusakan dan lain-lain. di sinilahkecerdasan emosi (EQ) membuktikan keberadaannya dan peranannya. Namun, ketika seseorang dengan kemampuan IQ adan EQ yang cemerlang berhasil meraih kesuksesan, seringkali ia merasa kosong dan hampa dalam batin (hati).Hal ini terjadi karena tidak adanya spirit dari dalam diri yang memperkuat vitalitas hidupdan ini bisa membuat seseorang terjerumus pada hal-hal yang negatif. Di sinilah perlunyakecerdasan spiritual (SQ).Pendidikan yang semata-mata hanya menekankan pada otak, dengan sendirinyamenjadi bumerang bagi kita : siswa,orang tua, pendidik dan masyarakat, Bukan hal yang baru lagi ketika kita mendengar perkelahian pelajar, kekerasan, bahkan pembunuhanyang dilakukan oleh anak-anak, remaja. Sungguh menyedihkan !! Ini terjadi karena kitamelewatkan sisi moral dalam kehidupan anak-anak didik kita. Pelajaran moraldikesampingkan, hanya sebatas hapalan, teori, tidak memberikan dampak kebajikanmoral. Satu lagi yang hilang dari pendidikan dan hidup kita : Kecerdasan Moral (MQ).Kecerdasan Moral dan Kecerdasan Spiritual, dua hal ini yang akan kita bahas.
BAB IIPEMBAHASANA.1.Pengertian Kecerdasan Moral (MQ)
“Kecerdasan moral adalah kemampuan memahami hal yang benar dan yang salah:artinya, memiliki keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinantersebut”
Michele Borba
Kecerdasan yang sangat penting ini mencakup karakter utama seperti kemampuanmemahami penderitaan orang lain dan tidak bertindak jahat; mampu mengendalikandorongan dan menunda pemuasan; mendengarkan dari berbagai pihak sebelum memberi penilaian; menerima dan menghargai perbedaan; bisa memahami pilihan yang tidak etis;dapat berempati; memperjuangkan keadilan dan menunjukan kasih sayang dan rasahormat terhadap orang lain.Ada krisis yang nyata dan mengkhawatirkan dalam masyarakat kita saat ini danmelibatkan milik kita yang paling berharga yaitu anak-anak kita. Semua orang sepakat
 
kita menghadapi persoalan; para pembuat kebijakan, dokter, pemuka agama, pengusaha, pendidik, orang tua, dan masyarakat umum, semuanya mensuarakan kekhawatiran yangsama. Kita memang harus khawatir. Setiap hari berita-berita berisi tragedi yangmengejutkan dan statistik mengenai anak-anak membuat kita tercengang, khawatir, dan berusaha mencari jawaban atas persoalan tersebut. Tak terhitung kasus-kasus kejahatan,kekerasan, dan tindak kriminal lain yang pelakunya adalah anak-anak.Demikianlah yang terjadi, anak-anak semakin tenggelam dalam persoalan yangserius karena mereka tidak pernah mempelajari kecerdasan moral. Penyebab merosotnyamoralitas sangatlah kompleks, dapat disimpulkan ada dua faktor.
Pertama,
sejumlahfaktor sosial kritis yang membentuk karakter bermoral secara perlahan mulai runtuh,yaitu pengawasan orang tua, teladan perilaku bermoral, pendidikan spiritual dan agama,hubungan akrab dengan orang dewasa, sekolah khusus, norma-norma sosial yang jelas,dukungan masyarakat, stabilitas dan pola asuh yang benar.
Kedua,
anak-anak secaraterus-menerus menerima masukan dari luar yang bertentangan dengan norma-norma yangkita sedang tumbuhkan.Tantangan semakin besar karena pengaruh buruk tersebut muncul dari berbagaisumber yang mudah didapat. Televisi, film, video, permainan, musik pop, dan iklanmemberikan pengaruh terburuk bagi moral mereka karena mensodorkan sinisme, pelecehan, materialisme, seks bebas, kekasaran, dan pengagungan kekerasan, ditambahlagi dengan dunia internet yang memudahkan anak-anak mengakses hal-hal negatif seperti pornografi, penyiksaan dll.Membangun kecerdasan moral sangat penting dilakukan agar suara hati anak bisamembedakan yang benar dan mana yang salah, sehingga mereka dapat menangkis pengaruh buruk dari luar. Kecerdasan moral dapat dipelajari dan kita bisa mulaimengajarkannya sejak balita, sekolah juga tidak boleh lepas dari peran ini. Karena,seorang anak yang sudah duduk di bangku sekolah, akan menghabiskan sebagian dariwaktunya di sekolah, berinteraksi dengan guru –guru yang berperan sebagai pengajar dan pendidik dan teman-teman yang dapat memberikan pengaruh positif dan juga negatif.
Michele Borba
dalam bukunya
Membangun Kecerdasan Moral
menguraikancara-cara membanguan kecerdasan moral sejak usia dini dan tentunya juga berguna jikaditerapkan disekolah. Kecerdasan Moral terbangun dari tujuh kebajikan utama yaitu:
1. Empati
, merupakan inti emosi moral yang dapat membantu anak memahami perasaan orang lain. Kebajikan ini membuat anak menjadi peka terhadapkebutuhan dan perasaan orang lain, dan mendorongnya menolong orang yangmemerlukan bantuan, serta memperlakukan orang dengan kasih sayang.
2. Hati Nurani
adalah suara hati yang membantu anak memilih jalan yang benar serta tetap berada di jalur yang bermoral; membuat dirinya merasa bersalah ketikamenyimpang. Kebijakan ini merupakan fondasi bagi sifat jujur, tanggung jawab,dan integritas diri yang tinggi.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->