Sekolah Pasca Sarjana -
Soal & Jawaban Ujian UTS KOMSOSBANG
JAWABAN UTS KOMSOSBANG :1. Pendahuluan:
Sejarah mencatat bahwa usai Perang Dunia ke II, banyak negara – negara duniaketiga yang mengalami perang / korban perang pada akhirnya mengalami krisis pascaperang, baik itu krisis ekonomi, politik, hubungan internasional, pangan, keuangan,teknologi, kultur budaya, pembangunan dll. Dan seperti kita tahu juga, negara – negaraini yang notabenenya baru saja melepaskan diri dari kolonialisme negara – negaraEropa, perlu banyak sekali membenahi dirinya dari semua sisi, seperti: menata ulangsistem & struktur ekonomi yang luluh lantak akibat penjajahan sebelumnya. Danpekerjaan rumah bagi negara – negara yang baru merdeka ini (negara dunia ketiga),untuk mengembalikan rekondisi kultural, dan mengembalikan mental masyarakatnyauntuk terlepas dari trauma akibat perang, serta memulihkan perasaan “mental” sebagaisi-terjajah.Pasca perang dunia kedua, dengan dalih untuk mengembalikan kondisi duniamenjadi lebih baik, Pemenang perang dunia kedua, yaitu Amerika Serikat berinisiatif memunculkan projek bantuan ekonomi yang bertajuk “
Marshall Plan
” dimana secarasingkat bertujuan untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi negara – negarapenerima bantuan, dengan catatan semua strategi pembangunan disesuaikan denganusulan negara donor (ini sebagai upaya awal Amerika Serikat untuk mendirikan negara-negara satelit Amerika Serikat, dan mengintervensi program – program sosial negarayang dibantu / “Upaya Ketergantungan tergantung”). Bantuan ini mencakup transfer teknologi, Penyaluran tenaga ahli, kucuran modal awal, strategi perencanaan program – program pembangunan, dan mengembalikan tingkat pertumbuhan ekonomi negara –negara penerima bantuan.Pasca “
Marshall Plan
” yang mendapat respon positif dari banyak negara didunia, termasuk Indonesia waktu itu, maka mulai diberlakukanlah penerapanparadigma pembangunan yang bersifat “
vertical : top – down
”. Dimana secara singkatpola pembangunan, kebijakan negara, kebijakan pembangunan komunikasi seolah –olah “harus ditelan bulat – bulat oleh negara penerima bantuan” dan berkiblat padanegara donor / projek negara - negara maju. Serta mulai diberlakukannya “
Theory trickle – down effect
/ teori efek tetesan kebawah”. Dimana asumsinya intervensi setiapprogram sosial di negara dunia ketiga akan menetes kebawah sampai kepada semuaorang, mulai dari lapisan paling atas (Jajaran penentu kebijakan & pemerintah), lapisantengah (pengusaha dan pelaku bisnis), sampai akhirnya lapisan bawah (dalam hal inimasyarakat luas), akan mampu mengakses pesan – pesan kemajuan secarabertingkat, dan merasakan dampak ekonomi yang telah diberikan oleh negarapendonor (Nasution. 1998).
1. Analisa (isi):
Terkait dengan pendahuluan diatas, dalam konteks indonesia, pembangunanyang bersifat “
Vertical top-down
&
Theory trickle – down effect
/ Teori efek tetesankebawah”. Pada kenyataannya tidak semulus yang diprediksi oleh negara pendonor,karena model pembangunan tersebut diatas, nyatanya menimbulkan banyakpermasalahan saat eksekusi di lapangan, diantaranya konflik kepentingan di bidangpolitik, ekonomi, budaya, teknologi, komunikasi, dll (untuk ditingkat atas: dalam hal ini
Komunikasi Sosial Pembangunan - 2009
Created by: ericcasavany@yahoo.com