Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
29Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
makalah ZAT ADIKTIF

makalah ZAT ADIKTIF

Ratings: (0)|Views: 1,779 |Likes:
Published by dahidzahidah

More info:

Published by: dahidzahidah on Mar 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/15/2013

pdf

text

original

 
ZAT ADIKTIF
Masalah penatalaksanaan ketergantungan zat adiktif hanyalah sebagian kecil darikeseluruhan permasalahan yang lebih besar, yaitu penanggulangan atau pencegahan penyalahgunaan zat adiktif. Namun agar pengobatan ketergantungan zat adiktif dapatdilaksanakan yang mengarah kepada mendukung ikhtiar memperkecil masalah penyalahgunaannya, kita harus memahami terlebih dahulu jangkauan atau cakupan permasalahannya secara keseluruhan. Kemudian kita dapat memahami dimana harus berperan, bukan dalam arti memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi ataukelompok, melainkan dalam upaya menolong para korban pengguna zat adktif itu. Tanpamemahami kepentingan menyeluruh dari aspek pencegahan. Kita dapat terlibat dalamlingkaran yang merupakan bagian dari permasalahan itu sendiri. Dalam kontek keseluruhan, kita dapat justru memberatkan masyarakat. Mungkin dalam penanganankasus individual, hal tersebut dapat memberi hasil (walaupun terbatas). Seringkali terjadi bahwa dalam ikhtiar pengobatan ata rehabilitasi tidak dikemukaan data sebenarnya,melainkan hanya data keberhasilan yang dipapakan.Penyalahgunaan zat adiktif lebih merupakan masalah sosial. Pencegahannya harusditangani secara terpadu, khususnya antara aspek tatanan kehidupan sosial, hukum dan penegakannya, administrasi dan pengawasan obat, pendidikan, serta terapi danrehabilitasi ‘korban’ ketergantungan zat adiktif tersebut. Dengan demikian aspek terapidan rehabilitasi sebenarnya, sekali lagi, hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhanikhtiar penanggulangan, meskipun saat ini merupakan hal yang ramai dipermasalahkan.Ketergantungan zat adiktif adalah penyakit yang dibuat oleh manusia sendiri. Terapi danrehabilitasinya bergantung kepada manusia itu sendiri pula. Berbeda dengan masalah penanggulangan masalah zat adiktif yang lebih merupakan masalah sosial, masalah penanganan ‘pasien” ketergantungan zat merupakan masalah medikososial. Dengandemikian penanganan tersebut pun bergantung kepada aspek bio-psiko-sosial,memerlukan pendekatan menyeluruh yang didukung oleh suatu tim yang terdiri atas berbagai cabang ilmu kedokteran.
Zat Psikoaktif (Zat Adiktif)
Zat psikoaktif ialah zat atau bahan yang apabila masuk ke dalam tubuh manusia akanmempengaruhi tubuh, terutama susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan perubahanaktivitas mental-emosional dan perilaku. Apabila digunakan terus menerus akanmenimbulkan ketergantungan (oleh karena itu disebut juga sebagai zat adiktif).Walaupun zat psikoaktif tertentu bermanfaat bagi pengobatan, tetapi apabiladisalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan, akan sangatmerugikan yang menggunakan. Kerugian juga akan dialami keluarga dan masyarakat bahkan dapat menimbulkan bahaya yang lebih besar bagi kehidupan dan nilai-nilai budaya bangsa, yang pada akhirnya dapat melemahkan ketahanan nasional. Untuk mencegah dan menanggulangi hal tersebut, penggunaan dan peredaran zat adiktif diatur 
 
dalam Undang-Undang, yaitu UU No. 22 tahun 1997 tentang narkotika, dan UU No.5tahun 1997 tentang Psikotropika.Menurut UU RI No.22/1997 tentang narkotika, yang dimaksud dengan narkotika ialah zatatau obat, baik yang berasal dari tanaman maupun bukan tanaman, baik sintetik maupunsemi sintetik, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnyarasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungandan kecanduan. Tiga golongan zat yang termasuk kategori ini ialah
opioda tanaman ganja
, dan
kokain
. Menurut UU R.I No. 5/1997 tentang Psikotropika, yang dimaksuddengan psikotropika ialah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetik, bukan narkotika,yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yangmenyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.UU Narkotika (pasal 45) dan UU Psikotropika (pasal 37) menyebutkan bahwa pecandu/pengguna narkotika dan psikotropika wajib menjalani pengobatan dan/atau perawatan.Dalam Ilmu Kedokteran Forensik, narkotika dan obat pada umumnya digolongkansebagai racun, sebab bila zat tersebut masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan reaksi biokimia yang dapat menyebabkan penyakit atau kematian. Penyakit atau kematian itutentunya bergantung pada takaran (dosis), cara pemberian, bentuk fisik dan struktur kimiazat, serta kepekaan korban. Kepekaan korban dipengaruhi pula pada usia, penyakitterdahulu atau yang bersamaan, kebiasaan, keadaan hipersensitif tertentu, dansebagainya. Narkotika masuk ke dalam tubuh koban dapat akibat unsur kesengajaan ataupunkebetulan. Kesengajaan dapat akibat ulah orang lain (penganiayaaan atau pembunuhan)maupun akibat ulah diri sendiri (penyalahgunaan atau usaha bunuh diri). Sedang unsur kebetulan dapat terjadi akibat kecelakaan industri, keteledoran dalam rumah tangga,kesalahan pengobatan, dan lain-lain.Opidia mempunyai potensi menimbulkan ketergantungan yang paling kuat biladibandingkan dengan jenis narkotika lainnya. Golongan opidia terdiri dari turunan opiumdan zat sintetiknya, seperti misalnya
morpin, diasetilmorfin
atau
diamorfin
(dikenalsebagai heroin, smack, horse, dope),
metadon, kodein, oksikodon
(percodan, percocet),
hidromorfin
(dilaidid, levodromoran),
 pentazosin
(talwin),
meferidin
(demerol, petidin),dan
 propoksipen
(darvon). Turunan opium menjadi sangat beragam dan luas pemakaiannya karena penggunaan medik dan kemajuan ilmu farmakologi. Jenis-jenisopidia yang digunakan dalam dunia kedokteran jarang sekali disalahgunakan karenaketatnya pengendalian dan pemantauan berdasarkan peraturan legal.Heroin adalah opidia yang paling sering disalahgunakan di dunia dengan penggunaanmelalui suntikan. Praktek suntikan ilegal tersebut telah tersebar di lebih dari 80 negara,secara mantap jumlah penggunaan dengan cara suntikan tetap bertahan di negara maju,dan maikn menyebar pada negara-negara berkembang di Asia, Amerika Selatan danAfrika. Meskipun kematian akibat suntikan heroin relatif kecil, namun perannya dalam penyebaran AIDS sangat menghawatirkan. Di Indonesia heroin dikenal dengan sebutan
 
 putaw atau pt. Heroin berbentuk bubuk kristal yang larut dalam air, diperjual belikansecara gelap dalam bentuk paket-paket kecil atau gram-graman.
Faktor Predisposisi Ketergantungan Obat
Alasan atau latar belakang penggunaan zat adiktif berbeda-beda namun biasanya akibatinteraksi beberapa faktor. Beberapa orang mempunyai risiko lebih besar menggunakannya karena sifat atau latar belakangnya yang disebut faktor risiko tinggiatau faktor kontributif, yang dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu faktor individudan faktor lingkungan.
Faktor individu meliputi :
a. Faktor konstitusi 
(a.l kerentanan sistem neurotransmitter, temperamen bawaan) ataufaktor biologik dan genetik. Secara biologik, mekanisme kerja opioid didalam susunansaraf pusat akan diterangkan di bagian lain buku ini. Peran faktor genetik padaketergantungan opioid belum dapat dibuktikan.
b. Faktor kepribadian
, yang mempunyai ciri-ciri tertentu, yaitu :- impulsif, diekspresikan dalam bentuk tidak dapat menunda keinginan- tidak mampu mengatasi perasaan-perasaan tidak enak (painful affect; misalnya amarah,rasa bersalah, kecemasan, ketakutan), takut akan kegagalan.- perasaan rendah diri, tidak mempunyai keyakinan diri yang mantap, kesulitan dalammengungkapkan perasaan.- toleransi terhadap frustasi yang rendah- menghindar dari tanggungjawab tetapi menuntut hak.- mengalami depresi, baik yang jelas maupun yang terselubung, yang sering disertaikecemasan dan perilaku agitatif yang didasari agresi yang terpendam.Ciri-ciri itu bercampur dalam variasi yang berbeda antar individu. Bentuk kepribadiantersebut berkembang dan berbentuk melalui gabungan antara pola asuh orang tua padamasa pra-remaja dan faktor konstitusi. Pola asuh dan kehidupan keluarga berpengaruhterhadap pencapaian kematangan pribadi seorang anak sebagai modal untuk memasukidunia remaja dan dewasa. Kematangan kepribadian dicerminkan oleh taraf kemandirianyang telah dicapai seseorang; taraf kemandirian ini menentukan apakah seorang remajaatau dewasa muda mampu menghadapi tantangan pengaruh globalisasi, tekanan pengaruhteman sebaya, serta apakah mampu mengisi waktu luang secara konstruktif.Beberapa bentuk pola asuh yang tampaknya berpengaruh negatif terhadap perkembangankemandirian itu:- pola asuh yang diwarnai kritik, dominansi dan otoritas yang berlebihan.- pola asuh yang terlalu melindungi (over protective)- pola asuh yang konsistenCiri-ciri individu penyalah guna zat ialah :- rasa ingin tahu yang kuat dan ingin mencoba- tidak bersikap tegas terhadap tawaran/pengaruh teman sebaya.- penilaian diri yang negatif (low self-esteem) seperti merasa kurang mampu dalam pelajaran, pergaulan penampilan diri atau tingkat/ status sosial ekonomi yang rendah.

Activity (29)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Bundanya Shella liked this
Siti Moenawaroh liked this
Vikram Raj liked this
miftahol liked this
Rumput Liar liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->