Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
24Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
i Gusti Ketut Jelantik

i Gusti Ketut Jelantik

Ratings: (0)|Views: 14,338|Likes:
Published by zakky

More info:

Published by: zakky on Mar 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/29/2013

pdf

text

original

 
biografiI Gusti Ketut Jelantik 
(??? -1849) adalahpahlawan nasional Indonesiayang  berasal dariKarangasem, Bali.Ia merupakan patihKerajaan Buleleng. Ia  berperan dalamPerang Jagaragayang terjadi di Bali pada tahun1849. Perlawanan ini bermula karena pemerintah kolonialHindia Belandainginmenghapuskanhak tawan karangyang berlaku di Bali, yaitu hak bagi raja-rajayang berkuasa di Bali untuk mengambil kapal yang kandas di perairannya beserta seluruh isinya.Ucapannya yang terkenal ketika itu ialah "Apapun tidak akan terjadi. Selama aku hidup aku tidak akanmangakui kekuasaanBelandadi negeri ini". Perang ini berakhir sebagai suatu 
, seluruh anggotakerajaan dan rakyatnya bertarung mempertahankan daerahnya sampai titik darah penghabisan. Namunakhirnya ia harus mundur keGunung Batur ,Kintamani. Pada saat inilah beliau gugur 
Perlawanan I gusti ketut jelantik Perang Jagaraga
Jatuhnya pusat kerajaan Buleleng ke tangan Belanda pada tanggal
28 Juni 1846
, belumlah berartisemangat dan jiwa kepahlawanan raja dan rakyat Buleleng telah memudar. Bersamaan dengan jatuhnya pusat kerajaan Buleleng ke tangan Belanda, hal ini telah menyebabkan laskar Buleleng terdesak, danatas desakan
Patih Jelantik 
raja Buleleng telah mengambil keputusan untuk mengundurkan pasukannya ke Buleleng Timur memasuki
desa Jagaraga
serta menetapkan untuk menggunakanJagaraga sebagai benteng konsolidasi kekuatan dan sebagai ibukota kerajaan yang baru.Ada beberapa alternatif yang telah mendesak Patih Jelantik untuk mengambil keputusan. Alternatif ituantara lain : Jelantik menyadari bahwa, konsolidasi persenjataan pasukannya tidak seimbang dengankekuatan persenjataan Belanda, sehingga akan sia-sia melanjutkan pertempurannya. Untuk menghindari hal inilah akhirnya Patih Jelantik memerintahkan kepada sisa-sisa laskar dan rakyat yangmasih setia terhadapnya untuk mengundurkan diri ke desa Jagaraga.Sebab pokok yang menjadi dasar persengketaan Buleleng dengan Belanda adalah : karena rajaBuleleng tidak pernah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam perjanjian. RakyatBuleleng dengan terang-terangan telah menggagalkan pembangunan benteng di Pabean.
Jalannya Perlawanan
Pada tanggal
8 Juni 1848
, Belanda mulai mengadakan serangan terhadap daerah Jagaraga denganmenghujankan tembakan-tembakan meriam dari
pantai Sangsit
. Bagi Belanda pantai Sangsit harusdikuasai dan dipertahankan sebab Sangsit merupakan salah satu pantai yang masih bisa digunakansebagai penghubung antara Bali dengan Batavia. Disamping itu penduduk Sangsit dengan mudah dapatdibina agar membantu pemerintah Belanda. Dalam ekspedisi Belanda yang kedua ini, Belanda telahmempersiapkan pasukannya secara matang. Dalam ekspedisi ini, pasukan militer Belanda diangkutoleh kapal-kapal perang sebanyak 22 buah seperti : kapal perang Merapi, Agro, Etna, Hekla, Anna,A.R. Falck, Ambonia dan Galen dan sebagainya. Masing-masing kapal perang itu dilengkapi dengan
 
 persenjataan yang berupa meriam dan persenjataan lainnya.Kekalahan Belanda dalam ekspedisinya yang pertama ke Bali benar-benar di luar dugaan, Belandamenjadi marah dengan diundurkannya serangan balasan pada tahun 1848. Seorang perwira Belanda bernama
Rochussen
menulis kepada
Jenderal Van der Wijck 
, bahwa jika ia diharuskan menjabatterus pangkatnya yang sekarang, ia tidak mau beristirahat sebelum dapat memusnahkan Jagaraga.Dengan gugurnya Patih Jelantik maka berhenti pulalah perlawanan Jagaraga terhadap pasukan Belanda.Dalam serangan ini, dengan mengadakan pertempuran selama sehari, Belanda telah berhasil memukulhancur pusat pertahanan dari laskar Jagaraga, sehingga secara politis benteng Jagaraga secarakeseluruhan telah jatuh ke tangan pemerintah Kolonial Belanda pada tanggal
19 April 1849
, dengan jumlah korban di pihak Jagaraga kurang lebih sekitar 2200 orang, termasuk 38 orang pedanda dan pemangku, lebih 80 orang Gusti, serta 83 pemekel, sedang di pihak Belanda menderita korbansebanyak kurang lebih 264 orang serdadu bawahan maupun tingkat yang lebih tinggi.
BENDERA BELANDA BERKIBAR.
Dengan kemenangan di pihak Belanda itu berarti akan dibangun pemerintahan baru yaitu pemerintahan di bawah kekuasaan Belanda. Mulai saat itu peta politik berputar kearah yang laindan ini membuka iklim yang baru bagi masyarakat yang terlibat dalam proses pemerintahandibawah pemerintah Belanda. 
BELANDA MENGANGKAT RAJA BULELENG.
Tahun 1849, Belanda mengangkat I Gusti Made Rai asal dari Puri Sukasada sebagai punggawa diSangsit untuk menstabilkan situasi di wilayah yang habis dilanda perang. Sementara itu pihak Belanda"menitipkan" daerah Buleleng dibawah kekuasaan raja Bangli I Dewa Tangkeban. KebijaksanaanBelanda membuat I Gusti Made Rai sangat tersinggung, Tidak perlu menitipkan wilayah Bulelengkepada siapapun. Memang hubungan antara kerajaan Buleleng dengan Bangli sebelumnya tidak  berjalan secara harmonis karena pernah bertikai.Beberapa waktu berselang yaitu tahun 1850 pemerintah Belanda akhirnya menetapkan I Gusti MadeRai sebagai penguasa atau raja di Buleleng. Berhubungan dengan jabatan tersebut beliau pindah dariPuri Sukasada ke Puri Gde Singaraja. Puri Gde yang mengalami kerusakan berat waktu serangan dantembakan meriam kapal perang Belanda pada tahun 1846 sebagian sempat diperbaiki oleh I GustiMade Rai. 
DARI PURI TUKADMUNGGA KE PURI KANGINAN.
I Gusti Putu Batan yang juga disebut dengan nama I Gusti Putu Singaraja dari Puri Tukadmunggamemangku jabatan Sedahan Agung sewaktu raja I Gusti Made Karangasem dengan patihnya I GustiKetut Jlantik berkuasa. Sebagai yang tertua, I Gusti Putu Batan Singaraja dianggap sebagai putramahkota oleh keluarga besar dinasti Panji Sakti. 
KEKUASAAN PEMERINTAH BELANDA.
Tahun 1853. Setelah beberapa lama pihak Belanda merasa terancam dan dianggap membahayakan pemerintahan Belanda karena ulah raja I Gusti Made Rai yang dilihatnya cukup ambisius. I Gusti Made
 
Rai sering mencari pengaruh di kalangan rakyat dan tidak sepenuhnya menjalankan aturan yangditetapkan pemerintah kolonial Belanda. Kemudian pemerintah Belanda mencopot I Gusti Made Raidari jabatan sebagai raja Buleleng dan menghukumnya dengan diasingkan ke Banyuwangi. Selanjutnya pemerintah Belanda mencari calon penguasa lokal atau regent untuk Buleleng. Sedangkan permintaanmasyarakat bermunculan masing-masing dengan calon raja yang diunggulkan yang dianggap masihmemiliki garis keturunan raja Buleleng. Tahun 1954. I Gusti Putu Kari punggawa Kubutambahan memimpin pasukan Buleleng keTampaksiring atas permintaan Raja Bangli I Dewa Tangkeban untuk ikut berperang melawan Gianyar.Buleleng waktu itu dibawah kekuasaan Bangli. Dengan setengah hati mereka berangkat ke medan perang. Dengan pihak Gianyar yang memang tidak pernah berniat bermusuhan dengan Bulelengmereka hanya berpura-pura berperang.Rakyat Buleleng rupanya semakin tidak suka dengan kekuasaan raja Bangli I Dewa Tangkeban.Hubungan antara kedua kerajaan ini sejak dahulu memang tidak bisa bergandengan tangan. Maka ditahun 1854 itu wilayah Buleleng dikembalikan oleh Raja Bangli I Dewa Tangkeban kepada pemerintahBelanda. Agar tidak terjadi kekosongan pimpinan lokal maka pemerintah kolonial Belanda berusaha kerasmelalui pendapat rakyat umum kembali mencari calon penguasa untuk wilayah Buleleng. Disinilahsebenarnya permulaan dari kegoncangan politik yang melanda daerah Buleleng, Sebenarnya dasarnyasederhana saja. Rakyat yang masih tetap berpikiran tardisional menginginkan pemimpin dari keturunanraja Buleleng. Tetapi rupanya masih sulit untuk menyimpulkan yang mana dan siapa yang pantasdiantara mereka untuk menduduki pimpinan tertinggi di Buleleng. Karena diantara warganyamempunyai keterpautan dengan masa-masa pemerintahan yang lalu, baik pada jaman kekuasaanMengwi maupun waktu pemerintahan raja asal Karangasem.Pemerintah Belanda sangat berhati-hati dalam menyimak permasalahan politik yang cukup pelik. Disatu pihak ada yang ingin untuk mendapatkan jabatan dalam pemerintahan yang baru namundisangsikan oleh pihak Belanda karena keterkaitan hubungan dengan I Gusti Ketut Jlantik PatihBuleleng yang melawan Belanda dalam Perang Jagaraga. Dari sinilah mulainya penolakan mereka atasadanya unsur-unsur yang terkait dengan Patih I Gusti Ketut Jlantik, terutama mereka yang mempunyaikepentingan politik. Mereka itu buru-buru menyangkal adanya pertautan darah dengan Patih I GustiKetut Jlantik. Bahkan mereka melempar tuduhan bahwa I Gusti Ketut Jlantik itu manusia congkak  penuh ambisi.Pada suatu waktu pernah terjadi stagnasi dalam pemerintahan Belanda, karena tepatnya 31 Maret 1855Mads J. Lange yang selama ini menjadi wakil pemerintah kolonial Belanda berkantor di Kuta,digantikan oleh P. L. van Bloetnenwaanders - dan berkantor di Singaraja. Ternyata pejabat tinggiBelanda yang masih baru ini kurang sekali memahami adat budaya orang Bali. Hal ini menjadikan pemerintahan berjalan sangat alot, karena beliau harus minta penjelasan sampai hal kecil agar sampai beliau itu bisa mengerti dan bisa mengambil keputusan. Itulah sebabnya kadangkala urusan penting bisa memakan waktu yang lama.Hal itu membuka peluang bagi mereka yang tidak suka sistem pemerintahan Belanda itu dan membuatancang-ancang untuk beraksi. 

Activity (24)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
adrihastanto liked this
Ulfah Hanifah liked this
Iinnaa Avril liked this
Brandon Saga liked this
Tia Nurjanah liked this
baehaqi_alanawa liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->