persenjataan yang berupa meriam dan persenjataan lainnya.Kekalahan Belanda dalam ekspedisinya yang pertama ke Bali benar-benar di luar dugaan, Belandamenjadi marah dengan diundurkannya serangan balasan pada tahun 1848. Seorang perwira Belanda bernama
Rochussen
menulis kepada
Jenderal Van der Wijck
, bahwa jika ia diharuskan menjabatterus pangkatnya yang sekarang, ia tidak mau beristirahat sebelum dapat memusnahkan Jagaraga.Dengan gugurnya Patih Jelantik maka berhenti pulalah perlawanan Jagaraga terhadap pasukan Belanda.Dalam serangan ini, dengan mengadakan pertempuran selama sehari, Belanda telah berhasil memukulhancur pusat pertahanan dari laskar Jagaraga, sehingga secara politis benteng Jagaraga secarakeseluruhan telah jatuh ke tangan pemerintah Kolonial Belanda pada tanggal
19 April 1849
, dengan jumlah korban di pihak Jagaraga kurang lebih sekitar 2200 orang, termasuk 38 orang pedanda dan pemangku, lebih 80 orang Gusti, serta 83 pemekel, sedang di pihak Belanda menderita korbansebanyak kurang lebih 264 orang serdadu bawahan maupun tingkat yang lebih tinggi.
BENDERA BELANDA BERKIBAR.
Dengan kemenangan di pihak Belanda itu berarti akan dibangun pemerintahan baru yaitu pemerintahan di bawah kekuasaan Belanda. Mulai saat itu peta politik berputar kearah yang laindan ini membuka iklim yang baru bagi masyarakat yang terlibat dalam proses pemerintahandibawah pemerintah Belanda.
BELANDA MENGANGKAT RAJA BULELENG.
Tahun 1849, Belanda mengangkat I Gusti Made Rai asal dari Puri Sukasada sebagai punggawa diSangsit untuk menstabilkan situasi di wilayah yang habis dilanda perang. Sementara itu pihak Belanda"menitipkan" daerah Buleleng dibawah kekuasaan raja Bangli I Dewa Tangkeban. KebijaksanaanBelanda membuat I Gusti Made Rai sangat tersinggung, Tidak perlu menitipkan wilayah Bulelengkepada siapapun. Memang hubungan antara kerajaan Buleleng dengan Bangli sebelumnya tidak berjalan secara harmonis karena pernah bertikai.Beberapa waktu berselang yaitu tahun 1850 pemerintah Belanda akhirnya menetapkan I Gusti MadeRai sebagai penguasa atau raja di Buleleng. Berhubungan dengan jabatan tersebut beliau pindah dariPuri Sukasada ke Puri Gde Singaraja. Puri Gde yang mengalami kerusakan berat waktu serangan dantembakan meriam kapal perang Belanda pada tahun 1846 sebagian sempat diperbaiki oleh I GustiMade Rai.
DARI PURI TUKADMUNGGA KE PURI KANGINAN.
I Gusti Putu Batan yang juga disebut dengan nama I Gusti Putu Singaraja dari Puri Tukadmunggamemangku jabatan Sedahan Agung sewaktu raja I Gusti Made Karangasem dengan patihnya I GustiKetut Jlantik berkuasa. Sebagai yang tertua, I Gusti Putu Batan Singaraja dianggap sebagai putramahkota oleh keluarga besar dinasti Panji Sakti.
KEKUASAAN PEMERINTAH BELANDA.
Tahun 1853. Setelah beberapa lama pihak Belanda merasa terancam dan dianggap membahayakan pemerintahan Belanda karena ulah raja I Gusti Made Rai yang dilihatnya cukup ambisius. I Gusti Made