riset sendiri bertahun-tahun, dengan pelbagai cara.Cakupannya luas: sejak seni rupa yang murni sampai yang berkait dengan kepentinganlain. Di sini pembaca dapat menemukan para ilmuwan penting seperti Rumphius (1628-1702) dan Junghuhn (1809-64), yang membuat sendiri ilustrasi untuk buku mereka. Juga beberapa perupa (dengan karya etsa, litografi, cat minyak) yang menggambarkan situasidi kota atau pedalaman pada awal kolonialisme Belanda.Haks dan Maris memasukkan juga kartun satir sosial, sampul buku, gambar dinding, poster pariwisata, iklan tembakau, kalender, propaganda, desain prangko dan mata uang,serta sedikit patung. Juga gambar amatir yang dibikin oleh mereka yang ditahan di kampJepang selama 1942-1945. Rupanya banyak pelukis terkemuka di akhir abad ke-19 danawal abad ke-20 bekerja sebagai desainer dan ilustrator.Keluasan cakupan itu menunjukkan “tradisi” seni rupa yang luas dan sinambung yangmenyatu dengan kolonialisme dan orientalisme, tapi yang sebagian fasetnya berhasilmeloloskan diri sebagai seni- sebagai-ekspresi.Dalam hal ini penting dicatat kehadiran pelukis asal Belgia AAJ Payen (1792-1853),sahabat Raden Saleh. Ia menjelajahi Hindia Belanda dan berkarya untuk Komisi Ilmu-ilmu Alam. Jelas, lukisan- lukisannya seperti Sebuah Pasar Dekat Bogor dan UpacaraPerkawinan, mengandung nilai obyektif (ilmiah), namun di lain pihak juga menggayakankenyataan. Payen, bersama Raden Saleh, yang tumbuh dalam asuhan Romantisisme, tak pelak merupakan pengawal tradisi seni rupa tinggi (high art) di Hindia Belanda. Tradisiyang sebuah cabangnya kelak dikecam Sudjojono: Mooi Indie.Tapi, Mooi Indie bukan aliran resmi. Di awal abad ini, Hindia Belanda juga menampungkaum modernis dari segala penjuru. Misalnya, Pieter Ouburg (Belanda), MiguelCovarrubias (Meksiko) dan Emil Nolde (Jerman); mereka ini perupa modernis terkemukadi negeri masing- masing. Juga si petualang berbakat besar, Walter Spies, yang tak puasdengan lingkungan seni avant-garde di Jerman, yang kemudian merangsang pertumbuhanseni rupa Bali. Bahkan Bataviasche Kunstkring juga menaja beberapa pelukis “realisme pahit” Belanda seperti Joanna de Bruijn, Frans Anchoni Cleton, dan Wolff-Schoemaker.***TENTU, buku tebal ini dihantui juga oleh nama-nama yang menjadi incaran kolektor: LeMayeur, Willem Dooyewaard, Roland Strasser, Ernest Dezentje, WJF Imandt, misalnya.Tapi bukan hanya itu. Bahkan Rembrandt, Toulouse-Lautrec, Paul Gauguin dan KarelAppel yang tak pernah berkunjung kemari, menghasilkan karya bertema Indonesia. Yangmencolok adalah karya Gauguin berjudul Annah Orang Jawa: seorang wanita telanjang,duduk di kursi, menghadap ke depan. Juga Appel, yang di tahun 1940-an melukis seriDarah Kampung untuk mengecam Aksi Militer Belanda.Indeks Lexicon mestinya bukan hanya indeks nama artis yang ilustrasinya disertakan.Demi penelitian yang lebih luas dan mendalam, mestilah ada indeks yang meluasmencakup museum, lembaga seni, akademi seni, media, dan hal-ihwal lain yang erat bersangkutan dengan produksi dan penyebaran seni rupa. Agar kumpulan data dasar initak cuma berguna bagi kaum kolektor, pedagang seni dan pecinta buku-seni.Layaklah buku ini menantang para peneliti seni rupa Indonesia membuat data dasar mutakhir yang lebih luas lagi, yang menyangkut kegiatan seni rupa dalam negeri maupun