Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
20Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
(8) Soca Valeriana Benih Hortikultura(1)

(8) Soca Valeriana Benih Hortikultura(1)

Ratings: (0)|Views: 4,253|Likes:
Published by 061089

More info:

Published by: 061089 on Mar 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/17/2012

pdf

text

original

 
KERAGAAN BENIH HORTIKULTURA DI TINGKAT PRODUSENDAN KONSUMEN(Studi kasus : Bawang merah, Cabai merah, Kubis dan Kentang)
VALERIANA DARWIS, BAMBANG IRAWAN DAN CHAERUL MUSLIM
*)
 
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi PertanianBadan Litbang Pertanian, Bogor
ABSTRACT
Seed and seedling is one of main factors in determining the product of horticultural crops. Theuse seed production on horticultural crops, could be produced by government institution orprivate sector. In the last 21 years (1980 – 2001) the government has released 183 improvedvariety of vegetables, including 26 red onion, red chili, cabbage and potato. These number ismuch Owen compared to number of improved variety of crops. For instance 105 newimproved varieties for rice, 50 varieties for corn and 33 varieties for soybean. The role of private sectors on the horticultural seed is much more dominant to the high demandcommodities and cannot be produced by the farmers it can be seen on the production of redchili seed compared to three other commodities. The performance of seed on the levelconsumer, represented by the farmers in the area production central, namely red onion, redchili in the central Java Province, and potato and cabbage in North Sumatera Province. Thefindings of the study are : the farmers are influencing by the group on the selection of seed tobe use, the role of field extension worker is very limited, the seed has been use by the farmersbefore introducing by government, at any planting time the farmers not always use a newseed, even there are some farmers never used improved variety of potato.
Keywords: Horticultural Seed, Producer and Consumer 
PENDAHULUAN
Komoditi hortikultura khususnya sayuran dan buah-buahan, termasuk komoditistrategis dalam perekonomian nasional (
Prajogo U. Hadi, dkk. 2000
). Untuk meningkatanproduktivitas dan produksi hortikultura diperlukan benih yang berkualitas dan berdayaproduksi tinggi (Sumarno, 2001a), (
 Irawan, et al. 2000
). Pengalaman pada revolusi hijautelah membuktikan hal tersebut dimana melalui rekayasa genetika produktifitas usahatani padidapat meningkat secara tajam sebagai dampak ditemukannya varietas unggul padi yangberdaya produksi tinggi. Bagi Indonesia dimana kondisi agroekosistemnya menurut daerahcukup beragam kebutuhan akan benih yang sesuai dan mampu beradaptasi dengan kondisiagroekosistem setempat terasa cukup besar. Dengan demikian masalah perbenihan nasionaltidak hanya terkait dengan kemampuan dalam menyediakan benih berkualitas dalam jumlahyang cukup, tetapi juga terkait dengan masalah keragaman karakteristik genetik benih yangdihasilkan agar dapat dipenuhi kebutuhan benih untuk berbagai kondisi agroekosistem yangberbeda.*)
Masing-masing peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.
 
2
Untuk mengembangkan perbenihan nasional berbagai lembaga pemerintah dan nonpemerintah telah dilibatkan. Badan Benih Nasional (BBN) yang dibentuk pemerintah padatahun 1971 merupakan lembaga non struktural yang bertanggungjawab kepada MenteriPertanian dan bertugas untuk mengembangkan perbenihan nasional. Lembaga tersebutbertugas untuk merencanakan dan merumuskan peraturan mengenai pembinaan produksi danpemasaran benih serta mengajukan pertimbangan dan persetujuan tentang layak tidaknyasuatu varitas benih untuk dipasarkan kepada para petani. Dalam melaksanakannya aspek penelitian dan pemuliaan benih hingga dihasilkan suatu varitas baru secara umum dilakukandan menjadi tanggungjawab Badan Litbang Pertanian. Sementara itu sertifikasi benih yangmerupakan suatu pendekatan untuk mengawasi mutu benih yang dipasarkan, dilakukan olehBalai/Loka Pengawasan dan sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. Sedangkanproduksi dan pemasaran benih dapat dilakukan oleh perusahaan pemerintah (BUMN) atauswasta.Adanya kelembagaan dalam pengembangan perbenihan nasional seperti disebutkandiatas menggambarkan bahwa pemerintah menaruh perhatian cukup besar terhadap masalahperbenihan sehingga aspek yang terkait dengan masalah benih diserahkan kepada pihak-pihak yang dinilai profesional dan memiliki kemampuan untuk menangani aspek-aspek bersangkutan. Varitas unggul yang dihasilkan oleh para peneliti sebelum diedarkan harusdilepas secara resmi oleh Menteri Pertanian. Penilaian kelayakan varietas yang akan dilepasdilakukan oleh BBN melalui Tim Penilai Pelepasan Varitas. Penelitian dan pengembanganvarietas yang tergolong ‘public variety” seperti padi umumnya ditangani oleh Badan LitbangPertanian, sementara sektor swasta hanya terlibat dalam pengembangan “commercial variety”seperti jagung hibrida dan sayuran. Dalam produksi dan pemasaran benih, perusahaanpemerintah (BUMN) lebih berperan dibanding sektor swasta.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat adopsi petani dan kinerjaindustri benih tanaman hortikultura di Indonesia.
METODOLOGI
Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian “ Studi KebijaksanaanPengembangan Agribisnis Komoditi Unggulan Hortikultura ” yang dilaksanakan oleh PusatPenelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Badan Litbang Pertanian pada tahunanggran 2001. Adapun komoditi yang diteliti adalah bawang merah, cabe merah, kentang dankubis. Kajian untuk bawang merah dan cabe merah dilakukan di Propinsi Jawa Tengah yangdiwakili oleh Kabupaten Brebes dan Mageleng, sedangkan untuk kentang dan kubis di
 
3
Propinsi Sumatera Utara yang diwakili oleh Kabupaten Karo dan Simalungun. Dari kabupatentersebut selanjutnya dipilih kecamatan utama dan desa yang merupakan sentra produksi jenissayuran yang dianalisis. Dari kriteria tersebut maka terpilih :-
 
Kecamatan Wanasari (Brebes), yang diwakili oleh Desa Wanasari, Keboledan, Kupu,Dumeling.-
 
Kecamatan Dukun (Magelang), yang diwakili oleh Desa Banyudono, Banyubiru,Sewukan dan Ngadipuro.-
 
Kecamatan Merek (Karo), yang diwakili oleh Desa Garingging, Pangambatan,Partibilama. Kecamatan Simpang Empat (Karo) yang diwakili oleh Desa Sada Pararihdan Ujung Teran.-
 
Kecamatan Silimakuta (Simalungun), diwakili oleh desa Silimakuta Barat dan KecamatanPurba dengan Desa Tigarunggu.Data dikelompokan kedalam data primer dan data sekunder. Data primer didapat darihasil wawancara dengan 30 – 40 petani untuk masing – masing komoditi dan 2 pedagangtingkat desa, kecamatan dan pedagang besar/eksportir. Data sekunder diperoleh dari DinasPertanian Dati I dan II, BPS, Direktorat Perbenihan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan,Penyuluh dan beberapa instansi terkait lainnya. Data yang terkumpul kemudian dianalisisdengan mengunakan analisa deskriptif.

Activity (20)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ahmad Lalu liked this
annajelek576 liked this
roelviani liked this
Sugiary Gerry liked this
Lalan Sukmaya liked this
Lalan Sukmaya liked this
You D Nurjan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->