Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
30Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terjadinya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terjadinya

Ratings: (0)|Views: 5,569|Likes:
Published by Rizdy_Haydar_1049

More info:

Published by: Rizdy_Haydar_1049 on Mar 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/25/2012

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang
Terjadinya pergantian orde pemerintahan dari orde baru kepada orde reformasi,
1 
telah melahirkan sejumlah perubahan penting dalam tata pemerintahan Indonesia.Salah satu hal penting yang menandai adanya perubahan pada orde reformasi iniadalah adanya pergeseran pola dari negara berstruktur sentralistis hierarkis menjadinegara terdesentralisasi. Perubahan ini menyiratkan sebuah sketsa baru bahwa negaratidak hanya menjadi aktor dan subjek pembangunan, melainkan juga menjadi objek dari pembangunan dan reformasi.Berbagai fenomena politik baru bermunculan sebagai implikasi logis dari iklim politik yang semakin terbuka. Kondisi ini dapat dilihat dari beberapa hal, misalnya jumlah angka pemilih yang mengalami peningkatan, bertambahnya jumlah partai politik peserta pemilu, semakin beragamnya bentuk partisipasi politik masyarakat,hingga pada dinamika konflik politik yang muncul di lingkup daerah. Sederhananya,desentralisasi di Indonesia yang dituangkan dalam kebijakan otonomi daerah, telahmenghasilkan nuansa baru dalam dinamika demokrasi prosedural yang dilakukan diIndonesia.Lahir dari sebuah keinginan untuk menciptakan tatanan demokrasi yang ideal,maka kemunculan kebijakan otonomi daerah adalah hal yang tidak bisa dielakkan.Adanya otonomi daerah adalah sebuah upaya pemerintah pusat dalam memberikanruang politik yang lebih luas bagi setiap daerah yang ada di Indonesia. Dengandemikian partisipasi politik di masyarakat pun akan meningkat. Harapannya, ketika
1
Presiden Soeharto menyatakan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. Jatuhya pemerintahanSoeharto melahirkan pemerintahan baru yang disebut dengan era reformasi, masa peralihan dari pemerintahan otoriter ke arah demokrasi ini sering pula disebut sebagai era transisi. Lihat, MunafrizalManan,
Gerakan Rakyat Melawan Elite
(Yogyakarta : Resist Book, 2005), hal. 71.
1
 
ada ruang politik yang luas bagi masyarakat melalui kebijakan otonomi daerah, makaakan turut memberikan pengaruh pada pembangunan di sektor lainnya.Selain untuk meningkatkan partisipasi politik masyarakat, kebijakan otonomidaerah juga memiliki tujuan-tujuan lain yang sangat luas. Hal ini meliputi, adanyakonsolidasi dan dorongan bagi proses demokratisasi; stimulus bagi pembangunanekonomi; penahan arus urbanisasi; pemenuhan kepuasan sosial, kultural, dan religius;serta guna meningkatkan efisiensi dan efektifitas.Karakter otonomi yang dimiliki oleh setiap daerah di Indonesia, bisa dikatakan berbeda dengan karakter otonomi yang berada di negara federal. Otonomi yangdimiliki oleh pemerintahan daerah di Indonesia adalah otonomi yang diberikan oleh pusat dan dibentuk melalui undang-undang yang dibuat oleh pusat. Sehingga pemerintahan daerah yang ada adalah pemerintahan bentukan pusat. Berdasarkan halitulah, pemerintahan daerah di Indonesia tidak memiliki karakter 
“state”
, yang berarti pula tidak memiliki kedaulatan. Otonomi yang dimiliki oleh pemerintahan daerah diIndonesia adalah kewenangan dasar yang diberikan oleh pusat untuk mengatur danmengurus beberapa kewenangan pemerintahan yang diberikan. Sifat pengelolaannya berada pada ruang lokal yang oleh sebab itu implementasi penerapan otonomi daerahdi Indonesia tak lepas dari sebuah konsep dasar mengenai pemerintahan lokal.Dilihat dari aspek sejarah, eksistensi pemerintahan lokal ataupun pemerintahandaerah yang kita ketahui saat ini, perkembangannya tidak lepas dari pengalaman pemerintahan di daratan Eropa. Pengalaman di Eropa menggambarkan bahwakemunculan satuan-satuan wilayah berjalan secara alamiah, yang dalam perkembangannya satuan wilayah tersebut melembaga menjadi sebuah pemerintahan.Satuan wilayah tersebut diberi nama
muncipal 
(kota),
county
(kabupaten),2
 
commune/gementee
(desa).
2
Biasanya, ikatan dasar yang menyatukan satuan wilayahtersebut ialah berdasar pada hubungan yang sudah saling mengenal dan salingmembantu dalam ikatan geneologis ataupun teritorial.Demi menjaga eksistensi dan keberlangsungan hidupnya, satuan komunaltersebut kemudian membutuhkan lembaga. Pembentukan lembaga tersebutmelingkupi lembaga politik, lembaga ekonomi, lembaga sosial, budaya pertahanandan keamanan. Tentunya keragaman lembaga tersebut tergantung pada pola adatistiadat masyarakat yang bersangkutan.Keberadaan lembaga-lembaga yang telah dibentuk tersebut kemudiandiintegrasikan dengan sistem administrasi negara dari suatu negara yang berdaulat.Dari sini, diklasifikasikanlah satuan wilayah yang ada berdasarkan batas geografisnya,kewenangannya, dan bentuk kelembagaannya. Satuan komunitas tersebut kemudiandiformalkan dalam sistem administrasi pada tingkat lokal.
3
Berdasarkan pengalamandi Eropa, organisasi pemerintahan lokal yang ada dibagi menjadi dua, yakni satuanorganisasi perantara dan satuan organisasi dasar. Sebagai contoh di Perancis, satuanorganisasi perantaranya adalah
department 
dan satuan dasarnya adalah
commune
. DiIndonesia, satuan organisasi perantaranya adalah provinsi dan satuan dasarnya adalahkota, kabupaten, dan desa.
4
Perkembangan pemerintahan daerah yang semakin modern, menurut Stoker,kaitannya tak terlepas dari fenomena industrilisasi yang terjadi di Inggris.Industrialisasi yang terjadi di Inggris memunculkan efek arus urbanisasi besar- besaran. Terjadilah lonjakan penduduk dari desa ke kota, yang tentunya juga
2
Hanif Nurcholis,
Teori dan Praktik Pemerintahan Dan Otonomi Daerah
( Jakarta: PT GramediaWidiasarana Indonesia, 2007), hal.1.
3
Dalam konteks keterwakilan parlemen, pengurus atau wakil rakyat harus benar-benar mewakilidengan mempertimbangkan penduduk setempat, sehingga dalam hal ini diperlukan perubahan sistem politik, sehingga dalam setiap sistem politik yang baru, massa – rakyat menjadi lebih dimungkinkanmemiliki perwakilan di parlemen, dan tidak golongan elite saja. Lihat, Sohartono,
 Politik Lokal 
( Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama, 2000), hal. 140.
4
 
 Ibid.
hal.2.
3

Activity (30)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Elvina Togalami liked this
Chii Chi Citra liked this
Redo Syahputra liked this
Risdian liked this
Pegy Muhonis liked this
Kamal Munansah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->