“terima kasih, kau sangat baik” terdengar tulus, dan sangat merdu ditelingaku, aku jadi tersipu,Dan kitapun lupa sedang berada di ruangan yang penuh dengan orang-orang, kita asyik saja membicarakan bunga-bunga, tentang spesiesmawar yang kutemukan sendiri setelah beberapa kali melakukanpercobaan mengawinsilangkan mawar liar dengan beberapa spesiesmawar import, dan kau begitu asyik mendengarkan ceritaku tentangbunga-bunga itu, akupun semakin bersemangat, meskipun tak pernahberani kutatap matamu,Waktu terasa begitu sempit, tiba-tiba ada yang memanggilmu, kaupunbergegas, sebelum beranjak kau hanya sempat mengajukan sepotongpertanyaan“oh ya nama kamu siapa?”“saka” jawabku pendekDan akhirnya aku harus merelakan keindahan itu menguap begitu sajasebelum dapat benar-benar kusadari, mungkin kaupun merasakan halyang sama, Tanpa alamat dan nomor kontak, kemanakah akan kucari engkau, devinasri eka mulyana, di daftar hadir seminar tak ada nama seperti itu, adakahkau memberikan nama samaran padaku, atau kau menyamarkannamamu pada daftar hadir itu, akh…entahlah, kau membuatku berharaptanpa mengetahui harapan itu,Kadang aku sengaja berkeliling menyambangi florist-florist, flowers house,dan tempat-tempat lainnya yang berbunga kecuali bank, hanya untukmencari, siapa tahu kau ada disana, meskipun aku tahu itu akan sia-siasaja, dan memang benar selama empat tahun ini aku tak pernahmenemukanmu, maka aku berhenti mencari,jika tak dapat dicari, maka kau layak untuk ditunggu, dan akhirnya akumenunggu, meski menunggu bukan hal yang menyenangkan bagisiapapun, termasuk akuaku menghabiskan waktu seharian di kebun, merawat dan menatasemuanya, mawar-mawar menghuni rumah plastik berbaris rapi, anggrekasyik bergelantungan di pohon-pohon nangka, pohon jambu, dan pohonbuah lainnya, yang memenuhi pekarangan rumahku,di satu sudut dekat rumah plastik, kubuat kolam kecil tempat ikan-ikan koiberwarna-warni bermain-main di bawah naungan bunga teratai, sebelum