Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
22Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
E-Book - Rekonstruksi Paradigma Fikih Islam

E-Book - Rekonstruksi Paradigma Fikih Islam

Ratings: (0)|Views: 972 |Likes:
Published by call me a-ris

More info:

Published by: call me a-ris on Mar 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2013

pdf

text

original

 
REKONSTRUKSI PARADIGMAFIKIH ISLAM
*
Irwan Masduqi
**
© 2006
[
Disunting, & dikonversi ke format PDF oleh
frozen
| 2008 ~ Indonesia
]
 
"Jika kita berpendapat bahwa Fikih Islam yang ada pada kita merupakan genrepembacaan pertama, maka tidak ada lagi pilihan bagi kita kecuali melakukan pembacaan yangkedua."
Muhammad Syahrur, Martin Luther-nya dunia Islam
[1]
"Untuk menciptakan kehidupan yang diridhai Allah –sesuai dengan persoalan dan kebutuhanlingkungannyamanusia menciptakan konsep-konsep, ide-ide, dan simbol-simbol. Semuanyaadalah hasil ijtihad yang meliputi macam-macam aspek kehidupan. Konsep-konsep, ide-ideatau simbol-simbol tadi kadang diberi atribut Islam, walau sudah jelas tidak abadisebagaimana abadinya Islam.Berlainan dengan wahyu Islam yang sakral, konsep-konsep ini setiap saat bisa diragukan.(Namun kemudian) konsep-konsep dari manusia Muslim telah disamakan dengan wahyuIslam. Perubahan konsep dianggap perubahan agama.Kekeliruan umum di atas mungkin sekali disebabkan oleh kebiasaan memasang atribut Islampada konsepsi-konsepsi manusia Muslim yang temporer tersebut."
Petikan kalam Ahmad Wahib (w. 1973)
Pemikir progresif bumi pertiwi yang saya gandrungi, tapi sayang ia mati muda. Saat hampir berumur 31, iakembali dari tiada ke tiada dan berbahagia dalam ketiadaannya
[2]
 
Prolog
SETIAP peradaban memiliki karakteristik spesifik. Jika perabadaban Yunani adalahperadaban filsafat, sementara peradaban Eropa modern adalah peradaban ilmupengetahuan dan teknik, maka peradaban Islam adalah peradaban Fikih. Fikih merupakannomologi (hukum—ed.) murni produk nalar Arab yang muncul dan berkembang dalamperadaban Islam. Statemen apologetik (pembelaan—ed.) guna mengukuhkan orisinalitasFikih ini tentunya memiliki kaki-pijak referensial yang mengakar dalam pengalamanhistoris perundang-undangan umat Islam. Absurd dan
impossible
bila kalangan orientalismengklaim Fikih hanyalah sekedar
copy-paste
dari undang-undang Romawi. Para penelitiBarat (outsiders) berasumsi bahwa undang-undang Romawi telah menjadi tradisikehukuman kawasan Timur, kemudian pada pasca ekspansi Islam terserap danmengendap dalam palung khazanah hukum Islam.Untuk membentengi klaim itu, G. E. V. Grunebaum dalam
 Medieval Islam: A Studyin Cultural Orientation
, Adam Mez dalam Die Renaissance des Islams, Sherman dalam
 Roman Law in the Modern World 
, Amos dalam Roman Law, dan Goldziher dalam
 Principles of Law in Islam in Historians History of the World 
, menyodorkan hipotesa-hipotesa bahwa fiqh sepadan dengan jurisprudentia dalam tradisi hukum Romawi yangterdefinisikan dengan ilmu pengetahuan tentang hukum Tuhan dan kemanusiaan (
renumdivinatum atque humanarum notitia
).
 Faqîh
semakna dengan juris,
ra`yu
satu artidengan
opinio
,
 Ijma
' sepadan dengan
concensus prudentum
, dan
mufti 
searti dengan
 jurisconsult 
.
[3]
 Selaras dengan diskursus ini, De Santillana, orientalis asal Itali, adalah pionir yangmenegaskan keterpengaruhan Fikih oleh tradisi kehukuman Romawi. Namun, setelahmeyakini kelemahan hipotesa-hipotesa di atas dan tidak menemukan argumen tendensius,akhirnya ia berikrar:"
 Percuma kami berusaha mencari titik temu antara hukum Islam dengan undang-undang Ramawi... Syari'at Islam memang memiliki karakteristik spesifik dan dasar-dasar konstan yang tidak mungkin disamakan dengan undang-undang kita, karenasyari'at Islam adalah syari'at keagamaan yang sama sekali berbeda dengan pemikirankita
."
[4]
Dengan statemen seperti ini, De Santillana jelas-jelas mengakui absurditas(kemustahilan—ed.) klaim-klaim orientalis tentang keterpengaruhan Fikih oleh tradisikehukuman di luar Islam. Fikih, sebagai produk murni nalar Arab Islam seperti diakuioleh De Santillana, merupakan zona ijtihad yang terkonstruk dengan menggandeng multipisau bedah analisis, baik pra atau pasca periode kodifikasi. H.A.R. Gibb, orientaliskenamaan, memandang Fikih sebagai "
tradisi inferensi hukum yang telah melibatkankerja ilmiah para ahli selama berabad-abad 
". Pakar-pakar yang telah menyumbangkandaya pikir untuk memformulasikan (merumuskan—ed.) Fikih tidak hanya dilakukan olehpara yurispruden, melainkan melibatkan pula pendayagunaan konsepsi para teolog, ahlihadits, administrator, linguis, sejarawan, sastrawan, dan lainnya. Fikih telah terbentuk melalui bantuan semua disiplin ilmu keislaman; Ulum al-Quran, Ulum al-Hadits,leksikologi ('ilm al-lughah), morfologi (sharaf), teologi, arithmatiks ('ilm al-hisâb) yangdiaplikasikan dalam
chapter
warisan (farâidh), dan sebagainya.
[5]

Activity (22)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Gocap Merdeka added this note
Muhammad Syahrur, Martin Luther-nya dunia Islam, siapa ini? org indonesia? sekolah dimana? anak siapa? rajin sholat nggak? apa yang sdh dirubah dari Islam? aneh2 saja
Mazhab Filosofy added this note
para pembaca muslim yang mulia, artikel diatas merupakan fitnah yang tidak ada dasar kebenaran sedikitpun. penulis tidak lebih dari orientalis yang menghancurkan islam dari dalam. sadarlah pembaca yang dirahmati Allah. imam syafi'i merupakan salah satu imam yang sangat valid keilmuannya. beliau adalah ikutan agama orang kita dahulu.
sblackto12 liked this
Welly Febriani added this note
waw pantastic.
Ai Shonhaji liked this
Lukman Jamaludin liked this
Nadia Edelwais liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->