Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
12Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Strategi Waktu dalam Narasi Injil Yohanes

Strategi Waktu dalam Narasi Injil Yohanes

Ratings: (0)|Views: 777 |Likes:
Published by Chung Yen
In Indonesian language, "Temporal strategy in the narration of the Gospel of John", originally a paper presented by Martin Suhartono, S.J. to the members of both Faculties of Theology of University of Sanata Dharma and University of Duta Wacana, Yogyakarta, March 1997. It is based on his unpublished PhD Dissertation submitted to the Faculty of Divinity, University of Cambridge, 1994, A Quest for Time in the Gospel of John, under the supervision of Dr. Andrew N. Chester.
In Indonesian language, "Temporal strategy in the narration of the Gospel of John", originally a paper presented by Martin Suhartono, S.J. to the members of both Faculties of Theology of University of Sanata Dharma and University of Duta Wacana, Yogyakarta, March 1997. It is based on his unpublished PhD Dissertation submitted to the Faculty of Divinity, University of Cambridge, 1994, A Quest for Time in the Gospel of John, under the supervision of Dr. Andrew N. Chester.

More info:

Published by: Chung Yen on Mar 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2012

pdf

text

original

 
 
STRATEGI WAKTU DALAM NARASI YOHANES
Martin Suhartono, SJ.
 PENGANTAR:
Uraian di bawah ini didasarkan pada hasil studi penulis yang tak diterbitkan,
 A Quest for Time inthe Gospel of John
, disertasi PhD pada Fakultas Ketuhanan, Universitas Cambridge, 1994.Akan diulas lebih dahulu dasar-dasar metodologis yang melatar belakangi pendekatan penulis,kemudian bagaimana masalah waktu dalam Injil Yoh itu
telah
dan
akan
didekati, dan akhirnyabagaimana waktu itu ditampilkan dalam strategi Yoh. Hanya beberapa aspek studi itu yang bisadihadirkan di sini dan bukan keseluruhan studi tersebut, baik dalam hal jangkauan maupunargumen-argumen yang diajukan.
I. LATAR BELAKANG METODOLOGIS1. Berbagai pendekatan terhadap teks:
Dalam kegiatan baca-membaca, orang pada umumnya beranggapan ada kontak langsung antarapembaca kisah dengan pengarang kisah. Seakan dengan membaca kisah itu pembaca dapatlangsung “melongok” bagaikan lewat sebuah “jendela” ke dunia pengarang kisah. Tampaknyafaham inilah yang berada di balik penyelidikan kritis historis terhadap KS. Teks KS dijadikansarana untuk mendapatkan informasi tentang dunia Yahudi kuno (PL) atau pun dunia danmasyarakat Laut Tengah pada abad pertama Masehi (PB). Selain realitas sosio-historis yangmau dicapai lewat teks itu, teks dianggap juga merujuk secara langsung pada realitas obyektif didunia teologis (realitas tentang Tuhan) maupun moral (norma tingkah laku) pada masa PL/PB.Dalam pendekatan ini, dunia pengarang di balik/belakang teks itulah yang diperhatikan.Pendekatan naratif terhadap teks menyadarkan orang bahwa ternyata ada suatu dunia lainselain “dunia pengarang” dan “dunia pembaca”, yaitu “dunia tekstual”. Dunia tekstual ini tak selalu mengungkapkan dunia pengarang secara langsung, seakan sebuah jendela, karena selaindipertanyakan adanya hubungan langsung antara bahasa dan realitas, makin disadari jugaperanan kreatif pengarang dalam mengolah bahan tulisannya, selain tentu saja maksud-maksudkomunikatif atau retoris pengarang terhadap pembacanya. Dalam pendekatan ini, teks dilihatsebagai “cermin” yang mengungkapkan kehidupan sang pembaca teks di depan teks; lewat teks,orang belajar mengenal diri dan kehidupannya sendiri.Pendekatan ekstrem analisa naratif terhadap suatu kisah memotong sama sekali “duniatekstual” itu dari dunia pengarang maupun dunia pembaca. Dunia tekstual dianggap berdirisendiri dengan hubungan relasional yang ada antar tokoh, latar, narrator dan elemen-elemen
 
Martin/Waktu dalam Yoh/hal. 2narasi lainnya, atau lebih ekstem lagi (Kritik Formalis), dengan sistem-sistem “bawah sadar”yang mengatur narasi sebagaimana tercermin dalam unsur-unsur linguistik kisah (Kritik Strukturalis). Tidak dipersoalkan lagi di sini intensi pengarang maupun reaksi pembaca.Pendekatan analisa tanggapan pembaca (
 Reader Response Criticism
) mendekati kisahdari sudut reaksi pembaca. Sebagaimana dibedakan dunia real dari dunia tekstual, di sinidibedakan pula pembaca real dari pembaca tersirat (
implied reader 
). Berbeda dengan pembacareal, manusia konkret terdiri dari daging dan darah, pembaca tersirat adalah abstrak, perludikonstruksi berdasarkan kisah itu sendiri. Konsep itu menjawab pertanyaan: Pembaca macamapakah yang diandaikan oleh pengarang? Pengarang di sini pun bukanlah pengarang real yangbisa mati, melainkan pengarang yang diandaikan oleh kisah itu, jadi tak bisa mati, ataupengarang tersirat (
implied author 
). Dalam bentuk ekstrem, pendekatan ini memotong duniapembaca (yang tak real) dari dunia tekstual maupun dunia pengarang (real).
2. Waktu dan Narasi:
Ricoeur menghindari bentuk-bentuk ekstrem pendekatan terhadap teks. Ia berpendapat(menuruti A. -J. Greimas) bahwa narativitas adalah prinsip pengatur segala wacana (entah narasiatau bukan): sesuatu dikisahkan tentang sesuatu. Narasi memiliki peranan mediatif, menjadipengantara dari sesuatu kepada sesuatu. Terhadap realitas yang digambarkannya, narasi punyafungsi konstitusional maupun transformasional, bukan sekedar “jiplakan
 plek 
persis” realitas.Dengan demikian mau tak mau harus diamati tiga pihak tersebut yaitu: yang diperantarakan,yang menjadi perantara, dan yang dituju oleh perantaraan itu.Menurut Ricoeur, yang dimediasikan oleh teks adalah suatu pengalaman keberadaanmanusia di dunia, jadi suatu pengalaman temporal; di sini ia merujuk pada Heidegger (
Sein und 
Zeit). Ia berpendapat bahwa hanya narasilah yang dapat memecahkan teka-teki (
aporia
) tentangwaktu sebagaimana dialami dan direnungkan oleh manusia. Ada tiga
aporia
yang disebutRicoeur: konflik antara waktu eksternal (kosmologis) dan waktu internal (psikologis),keberagaman dan kesatuan waktu (masa lalu, sekarang, akan datang), dan ketakterungkapanwaktu. Menurut Ricoeur, narasi memecahkan problem waktu itu bukan secara teoretis,melainkan secara poetis. Secara poetis, maksudnya sebagaimana dikatakan oleh Aristoteles,yaitu dengan merujuk pada kemampuan bahasa untuk mencipta dan menciptakan kembali. Jadiproblem waktu diselesaikan dengan dikonfigurasikan dalam narasi.Ricoeur mengulas teorinya dengan mengajukan tiga model pemahaman terhadap waktudan narasi (lihat
Temps et récit 
, tiga volume, 1983-1985). Yang pertama,
 Mimesis I 
(
time prefigured 
): bidang kehidupan/pengalaman manusia yang “menjerit” untuk dikisahkan. Yangkedua,
 Mimesis II 
(
time configured 
), teks yang lewat
emplotment 
(pengaluran) berfungsi sebagaiperantara (mediasi) antara bidang kehidupan sebelum dan sesudah teks. Yang ketiga,
 Mimesis III 
 (
time refigured 
), yang diambil alih oleh pembaca. Penulis akan bicara tentang “timetransfigured”, dalam arti yang terjadi bukanlah pengambilalihan pasif terhadap Mimesis I,melainkan sudah merupakan hasil interaksi antara Mimesis II dan pembaca, jadi seakan-akan
 
Martin/Waktu dalam Yoh/hal. 3diubah secara kreatif dan mengubah juga “waktu” sang pembaca. Waktu diubah dari sisisebelum teks ke sisi sesudah teks lewat daya konfigurasi teks/kisah. Istilah “mimetik” di sini janganlah diartikan secara pasif, seperti imitasi atau ‘copy’, ‘replika identik’, melainkan secaradinamis dalam arti “menghadirkan”.Meminjam kategori A.A. Mendilow (
Time and the Novel
, 1952), Ricoeur menganggapsemua narasi sebagai “kisah waktu” (
tales of time
) karena perubahan situasi dan tokoh terjadi didalam waktu, memerlukan waktu. Tetapi ada juga “kisah tentang waktu” (
tales about time
)karena dalam kisah itu pengalaman temporal itulah yang justru dipersoalkan. Ricoeur mengulaskarya-karya Virginia Woolf (
 Mrs. Dalloway
, 1925), Thomas Mann (
 Der Zauberberg
, 1924;terjem. Ing.,
The Magic Mountain
, 1927), Marcel Proust (
 À la recherche du temps perdu
, 1914-1927; terjem. Ing.,
 Remembrance of Things Past 
, 1922-1930). Novel-novel tentang waktu inimengkonfigurasikan pengalaman tentang waktu yang ditawarkan kepada pembaca sebagai caraberada di dunia. Ia berharap,
opus magnum
-nya tentang narasi dan waktu itu bisa berguna dalammerenungkan “keabadian” dan “kematian”.Kerangka pemikiran Ricoeur tentang hubungan narasi dan waktu amat berguna untuk mendalami masalah waktu dalam narasi Yohanes. Ia sendiri tidak memberikan suatu metodeyang siap pakai bagi tafsir Kitab Suci itu sendiri, melainkan faham-faham dasar yang dapatdijadikan batu pijakan maupun perspektif penelitian. Dalam penelitian itu sendiri, unsur-unsurkritik narasi (plot, tokoh, narator, latar, waktu, ironi dll.) dapat menjadi alat pembantu dalammemahami fenomen waktu dalam narasi Yohanes. Untuk memperoleh pemahaman menyeluruh,teori tentang narasi dan teks Yohanes selayaknya dipandang sebagai mitra sejajar, yang salingmenantang, dan bukannya satu (di)tunduk(kan) kepada yang lain.
II. WAKTU DALAM YOHANES
 1.
“Waktu” sebagai tema dalam penafsiran Injil Yohanes:
Waktu menjadi inti pokok persoalan yang digeluti pengarang Yoh. Hoskyns dalam tafsir InjilYohanes (1940) mengatakan bahwa problem Yohanes bukanlah sekedar “a problem” melainkan“the Problem of all problems” karena menyangkut hubungan antara waktu dan keabadian.Sampai saat ini telah banyak usaha dijalankan untuk mendalami masalah waktu dalam Yoh.Disertasi G. Ferraro menyoroti masalah “saat” atau “jam” (
hôra
) (
 L’«ora» di Cristo nelquarto vangelo
, 1974). Ada juga artikel tentang konsep tujuh hari dalam Yoh (T. Barrosse,dalam
CBQ
21/1959; L.P. Trudinger, dalam
EvQ
44/1972), cara menghitung jam dalam Yoh (N.Walker, dalam
 NT 
4/1960), selain juga penggunaan konsep waktu dalam Yoh (J.E. Bruns, dalam
 NTS
13/1966; J.O. Tuñi, dalam
EstEcl
57/1982; R. Kiefer, dalam
 NTS
31/1985) sertahubungannya dengan eskatologi (S. Pancaro, dalam
 Biblica
50/1969). Bahwa keprihatinantentang waktu dalam Yohanes bukan hanya obsesi modern dapat dilihat dari tafsir Krisostomus,Sirilus dari Alexandria, Agustinus, dan Albertus Magnus tentang
hôra
dalam Yohanes (G.

Activity (12)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Irhandi Ludiarto liked this
Samuel Abdihu liked this
noel_2600 liked this
michael386209 liked this
Irlan Iriantoro liked this
Belimbing Ku liked this
vedarianto liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->