Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
32Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Ekofeminisme

Ekofeminisme

Ratings: (0)|Views: 1,907 |Likes:
Published by bijinangkapace

More info:

Categories:Types, Maps
Published by: bijinangkapace on Mar 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/24/2013

pdf

text

original

 
PendahuluanLingkungan dan pemasalahannya tidak netral gender. Ketika terjadi kerusakan lingkungan, perempuan menjadi pihak yang paling beresiko. Bukan hanya karena perempuan dekat dengan alam, tetapi karena alam itu sendiri memiliki dimensi gender (gendered nature). Konsep ekofeminisme (ecofeminism) berusaha menjelaskan hubunganantara feminisme dan ekologi. Paham yang berkembang awal tahun 1970-an ini menggabungkan elemen feminisme dan gerakan hijau (green movement). Ekofeminisme melihat semua manusia dan segala aktivitasnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam ekosistem lokal dan global, sedangkan gerakan hijau didasari pada prisip dasar ekologi yang melihat semua organisme dalam kaitannya dengan lingkungan alam.Dalam kerangka pemikiran demikian, menurut Mc Kibben (1990) kegagalan manusia untuk menghormati keterbatasan ekologis telah menyebabkan terjadinya krisis ekologi pada masa sekarang ini. Ekofeminisme ingin menjelaskan bagaimana ketidakadilan yang ada dalam komunitas manusia direfeksikan dalam hubungan yang destruktif antara kemanusiaan dan dunia alamiah yang bukan manusia. Lebih lanjut, konsep inimenaruh perhatian pada kerusakan ekologis yang disebabkan oleh sistem sosial-ekonomi dan militer kontemporer serta menganalisa beban, biaya, tanggung jawab danperan yang harus dijalankan perempuan akibat kerusakan ekologis.Dr. Wangari Muta Maathai seorang wanita asal Nairobi Kenya dijuluki sebagai “Ibu Pohon” berkat perjuangannya Di tahun 90-an, ia menjadi sorotan publik.Pengabdiannya bagi lingkungan dan hak asasi manusia menyebabkannya menjadi musuhbekas Presiden Kenya Daniel Arap Moi. Ia berhasil menggerakan Ibu-ibu Kenya untuk mengangkat martabatnay dan membuktikan bahwa mampu member kontribusi bagi dunia. Wangari Muta Maathai terus keluar masuk penjara. Tahun 2004 ia memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian atas keterlibatannya dalam pembangunan, perdamaian dan demokrasi. "Maathai berdiri di barisan depan untuk memperjuangkan lingkungan,pembangunan budaya, dan ekonomi di Kenya dan Afrika. Dia menerapkan pendekatan holistik yang sekaligus dapat merangkul demokrasi, hak-hak asasi manusia, khususnya hak-hak perempuan. Ia berpikir lokal, tetapi bertindak global. Ia hidup ditengah rezim penguasa represif yang melihat sumber daya alam hanya sebatas komoditas untuk meraup keuntungan tanpa memperhatikan adanya keterkaitan yang erat antara lingkungan hidup, demokrasi dan perdamaian.EKOFEMINISMEEkofeminisme salah satu cabang feminis gelombang ketiga yang mencoba menjelaskanketerkaitan alam dan perempuan terutama yang menjadi titik fokusnya adalah kerusakan alam yang mempunyai keterkaitan langsung dengan penindasan perempuan. Dalam Ekofeminisme perempuan ditempatkan sebagai “sosok yang lain” sejajar dengan sosok yang lainnya yang diabaikan dalam patriarkhi seperti kelompok ras berwarna,anak-anak, kelompok miskin dan alam. Budaya Patriarkhi menyebabkan adanya dominasi terhadap perempuan, kelompok ras berwarna, anak-anak, kelompok miskin dan alam, dan menempatkan mereka sebagai subordinate dibawah laki-laki yang mempunyai sifat yang unggul, netral, pengelola “sah” bumi dan seisinya.Dalam menggali keterkaitan antara penindasan “sosok yang lain” (perempuan, kelompok ras berwarna, anak-anak, kelompok miskin), kerusakan alam dan dominasi patrarkhi, ekofeminisme menggunakan pendekatan analisis gender dan lebih memfokuskanketerkaitan ini pada penindasan perempuan, kerusakan alam serta dominasi patriarki sebagai penyebabnya. Hal tersebut disebabkan Pertama, Ekofeminis melihat yangpaling dirugikan dari kerusakan alam adalah perempuan. Kedua, Peranan gender perempuan (sebagai pengatur dari economi domestik) bertindihan (overlap) dengan permasalahan kerusakan alam dan lingkungan. Ketiga, beberapa ideologi barat berisikan konsep-konsep pendominasian alam oleh gender laki-laki.Pergerakan ekofeminis yang pertama dimulai sekitar tahun 1974 oleh sekelompok perempuan di utara India, mereka menamakan dirinya ”chipko Movement”. Mereka memprotes penebangan hutan yang dilakukan oleh kolonial Inggris. Gerakan Chipko merupakan manivestasi dari filsafat Gandhian Satyagrahas yang mencoba menyelamatkan dan melestarikan hutan tradisional atau ”forest culture”. Hutan tradisional menjadi begitu penting bagi masyarakat india karena dari dalamnya mengandung tanah, a
 
ir dan oksigen yang sangat diperlukan bagi keberlangsungan hidup seluruh makhlukhidup terutama sangat berkaitan erat dengan keberlangsungan hidup perempuan, mengapa? Alasan yang pertama karena sebagian besar perempuan timur dalam kehidupannya sangat bergantung pada pohon-pohonan dan hasil hutan. Tingkat ketergantunganmereka terhadap alam sangat tinggi yaitu tercatat 60 % di 32 negara di Afrika,80% di 18 negara di Asia dan 40% di Amerika Latin dan kepulauan Karibia. Ketikapara laki-laki menghabiskan waktunya di ladang atau berburu, para perempuan tinggal bersama anak-anaknya di hutan, mereka mengandalkan pohon-pohonan serta hasilhutan untuk keberlangsungan hidup mereka. Pohon-pohonan dan hasil hutan tidak hanya berguna untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka tetapi dapat memenuhi hampirsemua kebutuhan di ranah domestik. Yang kedua, Ada sejumlah kebiasaan, hal yangtabu dan sah dan waktu yang menghambat yang dihadapi perempuan sedang kan laki-laki tidak menghadapinya. Hal tersebut seperti perempuan dan laki-laki memilikiakses yang berbeda atas sebidang tanah. Di Tanzania, perempuan tidak memiliki hak sama sekali untuk mendiami sebidang tanah, mereka harus meminta izin kepada suami mereka atau laki-laki lain untuk mengolah sebidang tanah. Perempuan di sebagian besar negara berkembang tidak memiliki dukungan hukum untuk berpartisipasi dan ikut mengelola lingkungan lokal mereka.Di daerah rural (pedesaan), perempuan sebagai buruh upah yang sangat miskin-menyiangi, mengangkut air dan kayu, dan melakukan pekerjaan rumah tangganya. Merekahidup tanpa pendidikan, status, organisasi untuk melindungi atau hak kepemilikantanah yang dapat menjadikan mereka turut serta dalam pengontrolan lingkungan.Yang ketiga, pendapat dari pendatang khususnya pengelola hutan dari barat mengenai ketidak beruntungan perempuan di dunia ketiga, sangat berbeda.mereka menganjurkan beberapa teknik untuk menghadapi kekurangan pohon-pohonan. Akan tetapi haltersebut tidaklah benar sebab mereka hanyalah pendatang, perempuan-perempuan itusendiri yang mengetahui bagaimana cara mempertahankan hidupnya dalam alam dan lingkungan yang sudah ia kenal dengan baik. Sejak produksi berskala kecil yang menjadi prioritas lokal banyak dilakukan, peranan perempuan sangatlah penting untuk menyokong itu semua, namun jika kehidupan alam terancam akibat munculnya komersialisasi perambahan hutan, maka dengan demikian kehidupan perempuan akan terganggu dan implikasinya juga akan mengakibatkan punahnya perempuan secara tidak langsungPermasalahan lainnya yang mengancam kehidupan perempuan, adalah kekeringan ataukebanjiran. Kekeringan dan banjir merupakan bencana alam (natural disaster) yangdapat terjadi secara alami ataupun merupakan dampak atas kerusakan alam oleh manusia. Seperti kekeringan diakibatkan tidak adanya cadangan air tanah atau pemerintah yang tidak membuat bendungan sebagai sarana untuk menapung air hujan agardapat dimanfaatkan pada musim kemarau. Banjir dapat disebabakan karena penebangan hutan secara liar yang mengakibatkan semakin berkurangnya tanaman yang berfungsi untuk menyerap air dan menyimpannya dalam waktu tertentu. Dampak dari dua jenis bencana ini sangat fatal yaitu dapat merusak ekosistem dan dapat memusnahkanseluruh makhluk hidup, tak terkecuali manusia terutama masyarakat yang miskin yang sebagian besarnya adalah perempuan dan anak-anak. Hal demikian dapat terjadikarena sebagian besar perempuan tdi dunia ketiga menjadi buruh dengan penghasilan sangat kecil bahkan sebagian besar diantaranya tidak memiliki penghasilan samasekali, hidupnya digantungkan pada suami dan alam. Oleh karena itu tidak heranbahwa telah terjadi fenomena yaitu 80-90% keluarga miskin di dunia merupakan keluarga yang dikepalai oleh perempuan.Terjadinya fenomena yang demikian disebabkankarena sulitnya perempuan memiliki akses ekonomi yang lebih luas, jika alam saja yang akrab oleh keseharian perempuan di kelola dan diatur oleh laki-laki hingga menimbulkan berbagai bencana alam, apalagi ranah publik yang semuanya di dominasi oleh laki-laki.Perempuan tidak hanya mendapat dampak dari bencana alam, kerusakan hutan atau polusi air saja, tetapi penderitaan perempuan khususnya perempuan di dunia ketigaterus berlangsung terutama para perempuan yang mempunyai mata pencaharian sebagai petani baik petani ladang maupun petani di sawah.Pada kenyataannya, petani perempuan jam bekerja lebih lama, mempunyai lebih sedikit aset dan upah yang lebih rendah daripada petani laki-laki, dan mempunyai ketergantungan yang paling tinggi. sebagian besar mereka tidak memiliki pendidikan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->