Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
32Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Potensi Industri Karet Kabupaten Batanghari Jambi 1

Potensi Industri Karet Kabupaten Batanghari Jambi 1

Ratings: (0)|Views: 1,648 |Likes:
Published by Hidayatullah

More info:

Published by: Hidayatullah on Mar 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/25/2012

pdf

text

original

 
BAB IPOTENSI INDUSTRI KARET KABUPATEN BATANGHARI JAMBIA.PENDAHULUAN
Kabupaten Batang Hari dengan mottonya “ Serentak Bak Regam” salahsatu dari 10 kabupaten/Kota dalam Provinsi Jambi, yang usianya ternyata lebihtua dari provinsi Jambi yang bersemboyan “Bumi Sepucuk Jambi SembilanLurah”, Propinsi Jambi dibentuk pada tahun 1957 dengan Undang-undangDarurat Nomor 19 tahun 1957, bersamaan dengan pembentukan Provinsi Dati IRiau. Sedangkan Kabupaten Batang Hari dibentuk 1 Desember 1948 melaluiPeraturan Komisaris Pemerintah Pusat di Bukit Tinggi Nomor 81/Kom/U, tanggal30 Nopember 1948 dengan Pusat Pemerintahannya di Kota Jambi, sekarangKodya Jambi. Tahun 1963 kedudukan pusat pemerintahan daerah ini pindah keKenali Asam, 10 Km dari kota Jambi, kemudian tahun 1979 berdasarkan PP. No12 Tahun 1979 ibukota kabupaten yang terkenal kaya akan sumber daya alamini pindah dari Kenali Asam Ke Muara Bulian 64 Km dari Kota Jambi sampai saatini. Kabupaten Batang Hari Terdiri dari 8 Kecamatan.Secara geografis Kabupaten Batang Hari terletak di pantai timurSumatera dan di bagian timur Provinsi Jambi, dengan batas wilayah meliputiKabupaten Muaro Jambi di sebelah timur dan utara, Kabupaten Tebo danSarolangun di bagian barat, serta Kabupaten Musi Banyuasin, di bagian selatan.Secara topografis daerah ini terdiri dari dataran rendah yang dibelah olehSungai Batang Hari dengan rawa yang menggenang air sepanjangtahun.Menurut elevasinya, wilayah Batang Hari terdiri ketinggian 11 -100 meter(92,67 %), sisanya 7,33 % berada pada ketinggian 101 -500 meter daripermukaan laut. Adapun ikiimnya termasuk iklim tropis dengan suhu udaraberkisar antara 25,8° C - 27,6° C. Curah hujan rata-rata pertahun antara 185,8mm - 213,33 mm dengan kelembaban antara 76 % - 95 % serta penyinaranberkisar antara 89,3 % s/d 133,9 %.
 
Pada tahun 2004, jumlah penduduk kabupaten Batanghari berjumlah210.561 jiwa yang tersebar di 8 kecamatan
1
. Sebagaian besar dari penduduktersebut bermata pencaharian sebagai petani, baik itu yang bergerak dibidangpertanian maupun perkebunan karena dilihat dari Kondisi alam kabupaten yangmerupakan daerah dataran rendah yang sebagian besar merupakan daerahperbukitan dan berawa dan memiliki curah hujan yang cukup tinggi sepanjangtahunnya sehingga sangat cocok untuk dikembangkan usaha dibidangperkebunan pertanian, secara garis besar usaha dibidang perkebunandidominasi oleh 2 komoditi unggulan kabupaten Batanghari yaitu usahaperkebunan karet dan usaha perkebunan sawit sedangkan komoditi bidangpertanian yaitu padi,palawija dan buah-buahan.Menurut data statistic perkebunan Indonesia tahun 2006-2008 luasperkebunan karet dikabupaten Batanghari berjumlah 108.296 hektar dan hanya6.862 hektar dikelola oleh pemerintah yaitu PTP Nusantara VI denganproduktivitas antara 700-730 kg per hektar sedangkan selebihnya berstatussebagai perkebunan rakyat yang dikelola dengan sangat sederhana dantradisional sehingga produktivitasnya sangat rendah dan memiliki mutu yangkurang bagus. sedangkan unit usaha yang bergerak dibidang industry karetdikabupaten Batanghari pada tahun 2004 terdapat 2 unit pengolahan industrykaret crumb rubber dengan kapasitas produksi 49.500 ton pertahun (
sumber;Dinas Perindag Provinsi Jambi
)
.
B.LATAR BELAKANG
Karet (termasuk karet alam) merupakan kebutuhan yang vital bagikehidupan manusia sehari-hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia danbarang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti bankendaraan,
conveyor belt 
, sabuk transmisi,
dock fende
, sepatu dan sandalkaret. Kebutuhan karet alam maupun karet sintetik terus meningkat sejalandengan meningkatnya standar hidup manusia. Kebutuhan karet sintetik relativelebih mudah dipenuhi karena sumber bahan baku relatif tersedia walaupun
1 Pusat statistic kabupaten Batanghari,2004
 
harganya mahal, akan tetapi karet alam dikonsumsi sebagai bahan bakuindustry tetapi diproduksi sebagai komoditi perkebunan.Komoditas karet memegang peranan utama dalam perekonomianmasyarakat di semua kabupaten dalam provinsi Jambi, dan telah menjadisumber pendapatan yang sangat dominan bagi sebagian besar petani. Menurutdata di Dinas Perkebunan Provinsi Jambi pada tahun 2005, total volume eksporkaret provinsi Jambi mencapai 365.786 ton dengan nilai sebesar Rp3,97 triliun,meningkat dibandingkan dengan posisi tahun 2004 yaitu total volume sebesar235.287 ton dengan nilai sebesar Rp2,98 triliun. Menteri Pertanian danKetahanan Pangan Republik Indonesia pada saat kunjungan kerja ke Provinsi Jambi pada pertengahan tahun 2006, mengatakan bahwa pengembanganperkebunan karet termasuk salah satu agenda revitalisasi pertanian diIndonesia. Urgensi utama memasukkan perkebunan karet sebagai prioritasutama nasional karena karet terbukti mempunyai peranan yang sangat pentingbagi perekonomian nasional. Dalam kurun waktu 6 tahun terakhir, ekspor karetmenunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Jika pada tahun 2000 totalvolume ekspor sebanyak 1,38 juta ton dengan nilai USD 889 juta meningkatmenjadi 2,02 juta ton dengan nilai USD 2.854 juta dolar pada tahun 2005. Inimerupakan peningkatan yang signifikan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata23% per tahun. Perkembangan produksi karet nasional juga diikuti pula olehpeningkatan penyerapan tenaga kerja yaitu sekitar 1,4 juta tenaga kerjalangsung, belum lagi termasuk penyerapan tenaga kerja tidak langsung yangturut mendukung perkembangan karet Indonesia.Sampai tahun 2005 luas areal tanaman karet di provinsi Jambi mencapai567.042 hektar yang tersebar pada 9 kabupaten, yakni menurut urutannyaSarolangun seluas 111.581 Ha, disusul oleh Merangin seluas 108.038 Ha, danyang terkecil adalah kabupaten Kerinci seluas 303 Ha. Adapun kondisi luaslahan perkebunan karet yang ada terdiri dari 105.566 Ha adalah tanamanbelum menghasilkan (TBM), 330.820 Ha adalah tanaman menghasilkan dan130.656 Ha adalah tanaman tua dan rusak. Kondisi ini menyebabkan rendahnyatingkat produktivitas lahan yang rata-rata sebesar 709 kg/Ha/th, dengan

Activity (32)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Bambang Dwi P liked this
Tia Windari liked this
Lapa Ra liked this
Lily Purwanti liked this
M Ornas Yunandys liked this
Rini Dwi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->