kadang cukup satu meja atau empat meja didempetkan dengan net penggaris kayu panjang dua buahdan pemukul dari tripleks dengan bentuk tak beraturan, yang penting ada gagangnya. Di waktu laindibuat juga pemukulnya yang lebih rapi, biasanya menggunakan kayu lapis tripleks dengan ketebalan5mm, ini juga susah dicari sebab kebanyakan rongsokan tripleks yang ditemukan punya ketebalan3mm, dipotong oval dan diberi gagang kayu yang diserut supaya enak dipegang, kadang-kadangtripleksnya dilapis karet ban dalam mobil –untung saat itu belum ada ban
tubeless
– supaya miripdengan
bat
pingpong resmi dan bisa membuat efek
spin
, memukul bola hingga menyintir ke arahtertentu.Yang lebih mengasyikkan adalah saat bola pingpong penyok (belum sampai pecah), dicelupkan ke air panas supaya tidak penyok lagi. Kalau tidak salah saat itu harga bola pingpong sekitar Rp150, saatmakanan ringan Chiki mulai muncul dengan harga yang sama, terasa mahal karena dengan uangsejumlah tersebut bisa membeli Cilok beberapa tusuk (biasanya satu tusuk 3 butir, dapat bonus jikamenemukan
céngék
atau cabe rawit di dalamnya). Kreativitas terhadap bola pingpong tidak hanyasampai sebatas itu, kadang dilempar ke lantai supaya memantul balik masuk ke rok perempuan – bwahahaha, ini mah bukan kreativitas– bahkan jika bola pingpong pecah masih menjadi mainan yangterdengar membahayakan, yaitu dijadikan bom asap.Bola pingpong digunting kecil-kecil lalu dibungkus –tepatnya digulung– kertas pelapis rokok (berlapisaluminium), kedua ujungnya dipilin seperti bungkus permen sampai tertutup rapat kecuali salah satudiganjal sebatang korek api. Satu bola pingpong cukup untuk satu kertas rokok tersebut asalkanmengguntingnya tidak terlalu runcing-runcing karena malah bisa menusuk kertas rokok. Ujung satudipegang tangan kiri kemudian tangan kanan menyulut sebatang korek api dan membakar bagiantengah gulungan kertas rokok. Kertas dan guntingan bola pingpong akan memanas hingga dirasa cukup –lupa parameternya, sesaat setelah api mulai muncul– ganjalan batang korek api di ujung satu lagisegera dicabut dan menghembuslah asap putih tebal dan banyak yang bisa mengisi sebuah ruangankelas dan kadang sampai tidak terlihat apa-apa (kelas ukuran SD Inpres tentunya). Asap tersebut cukup berbau menyengat, dulu saya tak tahu apakah asap itu berbahaya atau tidak –sekarang pun belum tahu– tapi tentunya setelah asap keluar dari mainan-bom tersebut segera dilempar dan saya pun lari ke luar ruangan kelas. Bodohnya, kenapa tidak disulut di luar kelas lalu dilempar ke dalam kelas, ya?