Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
140Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Askep Ca. Nasofaring

Askep Ca. Nasofaring

Ratings: (0)|Views: 4,926 |Likes:
Published by Whie Ella

More info:

Published by: Whie Ella on Mar 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2013

pdf

text

original

LAPORAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
CARSINOMA NASOFARING

LAPORAN PENDAHULUAN
CARSINOMA NASOFARING
Anatomi Nasofaring.

Nasofaring letaknya tertinggi di antara bagian-bagian lain dari faring, tepatnya di sebelah do sal dari cavum nasi dan dihubungkan dengan cavum nasi oleh koane. Nasofaring tidak bergerak, berfungsi dalam proses pernafasan dan ikut menentukan kualitas suara yang dihasilkan oleh laring. Nasofaring merupakan rongga yang mempunyai batas-batas sebagai berikut :

Atas
: Basis kranii.
Bawah
: Palatum mole
Belakang
: Vertebra servikalis
Depan
: Koane
Lateral
: Ostium tubae Eustachii, torus tubarius, fossa rosenmuler
(resesus faringeus).
Pada atap dan dinding belakang Nasofaring terdapat adenoid atau tonsila faringika.
Pengertian Carsinoma Nasofaring
Karsinoma Nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari epitel mukosa

nasofaring atau kelenjar yang terdapat di nasofaring.
Carsinoma Nasofaring merupakan karsinoma yang paling banyak di THT.
Sebagian besar kien datang ke THT dalam keadaan terlambat atau stadium lanjut.

Didapatkan lebih banyak pada pria dari pada wanita, dengan perbandingan 3 : 1 pada
usia / umur rata-rata 30 \u201350 th.
Etiologi

Penyebab timbulnya Karsinoma Nasofaring masih belum jelas. Namun banyak yang berpendapat bahwa berdasarkan penelitian-penelitian epidemiologik dan eksperimental, ada 5 faktor yang mempengaruhi yakni :

1. Faktor Genetik (Banyak pada suku bangsa Tionghoa/ras mongolid).
2. Faktor Virus (Virus EIPSTEIN BARR)
3. Faktor lingkungan (polusi asap kayu bakar, atau bahan karsinogenik misalnya

asap rokok dll).
4. Iritasi menahun : nasofaringitis kronis disertai rangsangan oleh asap, alkohol dll.
5. Hormonal : adanya estrogen yang tinggi dalam tubuh.

Pembagian Karsinoma Nasofaring
Menurut Histopatologi :
\ue000Well differentiated epidermoid carcinoma.
-
Keratinizing
-
Non Keratinizing.
\ue000Undiffeentiated epidermoid carcinoma = anaplastic carcinoma
-
Transitional
-
Lymphoepithelioma.
\ue000Adenocystic carcinoma
11By : Mahfud sunandar AKPER GRESIK Angkatan 9
Menurut bentuk dan cara tumbuh

\ue000Ulseratif
\ue000Eksofilik : Tumbuh keluar seperti polip.
\ue000Endofilik : Tumbuh di bawah mukosa, agar sedikit lebih tinggi dari jaringan

sekitar (creeping tumor)
Klasifikasi Histopatologi menurut WHO (1982)
Tipe WHO 1
-
Karsinoma sel skuamosa (KSS)
-
Deferensiasi baik sampai sedang.
-

Sering eksofilik (tumbuh dipermukaan).
Tipe WHO 2
-

Karsinoma non keratinisasi (KNK).
-
Paling banyak pariasinya.
-

Menyerupai karsinoma transisional
Tipe WHO 3
-

Karsinoma tanpa diferensiasi (KTD).
-
Seperti antara lain limfoepitelioma, Karsinoma anaplastik, \u201cClear Cell
Carsinoma\u201d, varian sel spindel.
-
Lebih radiosensitif, prognosis lebih baik.
Indonesia
Cina
Tipe WHO
1
29%
35%
2
14%
23%
3
57%
42%
Klasifikasi TNM
Menurut UICC (1987) pembagian TNM adalah sebagai berikut :
T1
= Tumor terbatas pada satu sisi nasofaring
T2
= Tumor terdapat lebih dari satu bagian nasofaring.
T3
= Tumor menyebar ke rongga hidung atau orofaring.
T4
= Tumor menyebar ke endokranium atau mengenai syaraf otak.
N1
= Metastasis ke kelenjar getah bening pada sisi yang sama, mobil, soliter dan
berukuran kurang/sama dengan 3 cm.
N2

= Metastasis pada satu kelenjar pada sisi yang sama dengan ukuran lebih dari 3 cm tetapi kurang dari 6 cm, atau multipel dengan ukuran besar kurang dari 6 cm, atau bilateral/kontralateral dengan ukuran terbesar kurang dari 6 cm.

N3
= Metastasis ke kelenjar getah bening ukuran lebih besar dari 6 cm.
M0
= Tidak ada metastasis jauh.
M1
= Didapatkan metastasis jauh.
Penentuan Stadium
Stadium I
T1
N0
M0
Stadium II
T2
N0
M0
Stadium III
T3
N0
M0
T1 \u2013 3 N1
M0
Stadium IV T4
N0 \u2013 1 M0
Semua T
N2 \u2013 3 M0
22By : Mahfud sunandar AKPER GRESIK Angkatan 9
Semua T
Semua N
M1
Lokasi :
1 Fossa Rosenmulleri.
2 Sekitar tuba Eustachius.
3 Dinding belakang nasofaring.
4 Atap nasofaring.
Gejala Klinik
1. Gejala Setempat :
Gejala Hidung :

Pilek dari satu atau kedua lubang hidung yang terus-menerus/kronik.
Lendir dapat bercampur darah atau nanah yang berbau.
Epistaksis dapat sedikit atau banyak dan berulang.
Dapat juga hanya berupa riak campur darah.
Obstruksio nasi unilateral atau bilateral bila tumor tumbuh secara eksofilik

Gejala Telinga :

\ue001Kurang, pendengaran.
\ue001Tinitus
\ue001OMP.

2. Gejala karena tumbuh dan menyebarnya tumor
Merupakan gejala yang timbul oleh penyebaran tumor secara ekspansif,
infiltratif dan metastasis.
a. Ekspansif
A
Ke muka, tumor tumbuh ke depan mengisi nasofaring dan menutuk koane
sehingga timbul gejala obstruksi nasi/hidung buntu.
A
Ke bawah, tumor mendesak palatum mole sehingga terjadi \u201cbombans
palatum mole\u201d sehingga timbul gangguan menelan/sesak.
b. Infiltratif
A
Ke atas :

Melalui foramen ovale masuk ke endokranium, maka terkena dura dan timbul sefalgia/sakit kepala hebat, Kemudian akan terkena N VI, timbul diplopia, strabismus. Bila terkena N V, terjadi Trigeminal neuralgi dengan gejala nyeri kepala hebat pada daerah muka, sekitar mata, hidung, rahang atas, rahang bawah dan lidah. Bila terkena N III dan IV terjadi ptosis dan oftalmoplegi. Bila lebih lanjut lagi akan terkena N IX, X, XI dan XII.

A
Ke samping :
Masuk spatium parafaringikum akan menekan N IX dan X

: Terjadi Paresis palatum mole, faring dan laring dengan gejala regurgitasi makan- minum ke kavum nasi, rinolalia aperta dan suara parau.

Menekan N XI
: Gangguan fungsi otot sternokleido mastoideus dan
otot trapezius.
Menekan N XII
: Terjadi Deviasi lidah ke samping/gangguan menelan
c. Gejala karena metastasis melalui aliran getah bening :

Terjadi pembesaran kelenjar leher yang terletak di bawah ujung planum mastoid, di belakang ungulus mandibula, medial dari ujung bagian atas muskulus sternokleidomastoideum, bisa unilateal dan bilateral. Pembesaran ini di sebut tumor colli.

d. Gejala karena metastasis melalui aliran darah :
Akan terjadi metastasis jauh yaitu paru-paru, ginjal, limpa, tulang dan
sebagainya.
33By : Mahfud sunandar AKPER GRESIK Angkatan 9

Activity (140)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
asripl liked this
yasin liked this
Marham liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->