Untuk mengarahkan penonton memahami suatu maksud, seorang kameramen perlumengontrol subyek yang ada dengan memanfaatkan semua elemen-elemen fotografis sepertigaris, bentuk-bentuk, bayangan, kontras, warna, angle, gerakan, komposisi., simbol-simbolvisual lain , untuk memunculkan suatu kesan tertentu. Kameramen “menangkap” sebuah realitasmenurut sudut pandangnya dan kemudian memperlihathannya kepada penonton. Kemudian penonton mencoba mengerti atau memahami berdasarkan pengalamannya.Sebagai contoh; di suatu tempat terjadi bentrokkan fisik antara sekelompok mahasiswayang sedang berdemonstrasi dengan sekelompok polisi. Andaikan saja kita ingin menyajikan peristiwa tersebut kepada penonton televisi dengan merekamnya dalam format MSL (mediumlong shot) yang memperlihatkan hampir seluruh kejadian tersebut selama 2 menit. Dari rekamantersebut meskipun banyak orang mengerti apa isinya, namun masih banyak juga informasi yangtidak bisa diketahui. Barangkali muncul pertanyaan-pertanyaan apa penyebabnya? Siapa yangmemulai?, Berapa korbanya? dan sebagainya. Kemudian berdasarkan pengalaman hidup masing-masing, penpnton akan mencoba memahami rekaman tersebut dengan pikirannya. Bagi merekayang mempunyai pengalaman buruk terhadap mahasiswa akan mengatakan bahwa mahasiswaanarkis. Sedangkan yang mempunyai pengalaman buruk terhadap polisi akan mengatakan polisirepresif dan kejam. Atau barangkali juga akan ada yang mengatakan kedua-duanya brutal.Berdasarkan realitas di atas, seorang kameramen bisa menyampaikan pesan berdasarkansudut pandangnya. Jika ia ingin menyampaikan pesan bahwa polisi itu memang kejam. Makadengan teknik fotografi seperti angle, framing, komposisi dan sebagainya ia akan lebih banyak memunculkan bagian-bagian peristiwa yang menunjukkan kekejaman polisi dan tidak mengambil sudut pandang yang bisa menampakkan di bagian lain di mana mahasiswa sedangmelempar bom molotov dan mengenai polisi hingga terbakar. Maka penonton yang menyaksikanrekaman tersebut pasti akan membangkitkan kebencian mereka terhadap polisi. Demikian jugasebaliknya kalau kamera lebih banyak diarahkan pada aksi mahasiswa yang anarkis kesan penonton tentu saja berbeda.
Belajar “membaca” (menganalisa) gambar untuk belajar “menulis” dengan gambar.
Kamera foto maupun video adalah media rekam. Untuk menyampaikan pesan, pikiran,maksud, informasi dan sebagainya, seorang kameramen harus mampu “menuliskan” apa yangingin disampaikan ke dalam gambar dengan menggunakan elemen-elemen visual agar penonton bisa “membaca” dan kemudian mengerti maksudnya. Agar bisa “menulis” dengan baik seyogyanya mengerti lebih dahulu bagaimana “membaca” gambar. Untuk mempertajam kejeliandan membiasakan diri berfikir secara visual baik kiranya berlatih menganalisis berbagai gambar karya orang lain terutama gambar-gambar karya kameramen ternama. Salah satu caramenganalisis gambar adalah dengan melalkukan 3 langkah yaitu;
Inventarisasi, diskripsi danverbalisasi.
1.INVENTARISASI
Apabila melihat gambar, semua orang tentu mengerti tentang yang dilihatnya.Kemudian lakukanlah pengamatan secara seksama seluruh elemen-elemen yang adadi dalam gambar. Di dalam gambar barangkali terdapat orang, bunga, pohon, gunung,langit, mobil, rumah dan sebagainya bahkan mungkin pula terkandung unsur-unsur garis, bentuk, kegelapan, terang, warna dan sebagainya. Coba rasakan beberapaelemen sering menyiratkan sesuatu. Misalnya bunga alang-alang bisa jadimenyiratkan keliaran atau kebebasan. Warna biru memberi kesan dingin dan warnamerah memberi kesan panas. Garis diagonal untuk jalan memberikesan dinamis dan