P. 1
OCB Dan Stres Terhadap Kinerja

OCB Dan Stres Terhadap Kinerja

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 2,928 |Likes:
Published by Joko Widodo

More info:

Published by: Joko Widodo on Mar 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

1
ABSTRAKSI

Stres dalam pekerjaan merupakan sebuah konsep penting dalam kaitannya dengan perilaku organisasional. Stres dapat ditimbulkan dari semakin banyaknya tekanan yang dia hadapi oleh auditor seperti keharusan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, waktu penyelesaian tugas yang terbatas, tekanan dari pimpinan, maupun tekanan yang berasal dari klien.

Penelitian ini dilakukan pada Kantor Akuntan Publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhorganizational citizenship behavior dan stres kerja terhadap kinerja auditor. Jumlah sampel yang ditetapkan sebanyak 40 responden dengan menggunakan metodepurposive sampling. Sebagai variabel independen, yaituorganizational citizenship behavior dan stres kerja, sedangkan variabel dependennya adalah kinerja auditor. Analisis yang digunakan meliputi uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, analisis regresi linier berganda dan pengujian hipotesis yang meliputi uji t, uji F dan koefisien Determinasi (

2
R).
Hasil analisis menggunakan regresi dapat diketahui bahwa variabel
organizational citizenship behaviorberpengaruh positif terhadap kinerja auditor,

dan variabel stres kerja berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor. Hasil analisis menggunakan uji t dapat diketahuiorganizational citizenship behavior dan stres kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor. Hasil analisis menggunakan koefisien determinasi diketahui bahwa 36,4 persen variasi dari kinerja auditor dapat dijelaskan oleh variabel bebas yang diteliti dalam penelitian ini dan 63.6 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar model

Kata kunci:Organizational Citizenship Behavior, Stres Kerja, Kinerja Auditor
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah

Organisasi pada umumnya percaya bahwa untuk mencapai keberhasilan harus mengusahakan kinerja individu yang setinggi-tingginya, karena pada dasarnya kinerja individual mempengaruhi kinerja tim atau kelompok kerja dan pada akhirnya mempengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan. Namun dalam kenyataan sehari-hari, kinerja tinggi bagi pegawai bukanlah hal mudah untuk dicapai. Banyak hal yang menghalangi seorang pegawai mencapai kinerja tinggi tersebut.

Untuk mencapai kinerja yang setinggi-tingginya dituntut "perilaku sesuai" karyawan dengan harapan organisasi. Oleh karena itu ada deskripsi formal tentang perilaku yang harus dikerjakan (perilakuintra-role). Realitas yang ada adalah banyak perilaku yang tidak terdeskripsi secara formal yang dilakukan oleh karyawan, misalnya membantu rekan kerja menyelesaikan tugas, kesungguhan dalam mengikuti rapat-rapat perusahaan, sedikit mengeluh banyak bekerja, dan lain-lain. Perilaku-perilaku ini disebut sebagai perilakuextra-role (Hardaningtyas, 2004).Perilakuextra-role dalam organisasi juga dikenal dengan istilah

organizational citizenship behavior (OCB), dan orang yang menampilkan perilaku
OCB disebut sebagai karyawan yang baik (good citizen). Contoh perilaku yang
3

termasuk kelompokOCB adalah membantu rekan kerja, sukarela melakukan kegiatan ekstra di tempat kerja, menghindari konflik dengan rekan kerja, melindungi properti organisasi, menghargai peraturan yang berlaku di organisasi, toleransi pada situasi yang kurang ideal/menyenangkan di tempat kerja, memberi saran-saran yang membangun di tempat kerja, serta tidak membuang-buang waktu di tempat kerja (Robbins dalam Elfina P, 2004: 105-106).

OCB merupakan istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi perilaku karyawan sehinggadia dapat disebut sebagai \u201cangota yang baik\u201d (Sloat dalam Novliadi, 2007). Perilaku ini cenderung melihat seseorang (karyawan) sebagai makhluk sosial (menjadi anggota organisasi), dibandingkan sebagai makhluk individual yang mementingkan diri sendiri. Sebagai makhluk sosial, manusia mempunyai kemampuan untuk memiliki empati kepada orang lain dan lingkunganya dan menyelaraskan nilai-nilai yang dianutnya dengan nilai-nilai yang dimiliki lingkungannya untuk melakukan segala sesuatu yang baik manusia tidak selalu digerakkan oleh hal-hal yang menguntungkan dirinya, misalnya seseorang mau membantu orang lain jika ada imbalan tertentu. Jika karyawan dalam organisasi memiliki OCB, maka usaha untuk mengendalikan karyawan menurun, karena karyawan dapat mengendalikan perilaku sendiri atau mampu memilih perilaku terbaik untuk kepentingan organisasinya. (Novliadi, 2007)

Di dalam Kantor Akuntan Publik, perilakuextra-role ini sering terjadi, untuk melakukan sesuatu yang baik, seseorang (karyawan) memang tidak selalu digerakkan oleh hal-hal yang hanya mementingkan dirinya. Dengan kemampuan berempati seseorang (karyawan) dapat memahami orang lain dan lingkungannya

Activity (66)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Elroza Oja added this note
terima kasih atas tulisannya.....semoga bisa bermanfaat bagi yang mengunakannya
jangumay liked this
Chipster OS liked this
Chipster OS liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->