Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
19Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Apa Itu Skripsi?

Apa Itu Skripsi?

Ratings: (0)|Views: 1,660 |Likes:
Published by ruth_surya
Apa itu Skripsi?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar "lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi". skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendap
Apa itu Skripsi?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar "lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi". skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendap

More info:

Published by: ruth_surya on Mar 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/24/2013

pdf

text

original

 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang diwajibkansebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatuyang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantuidan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar "lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi".skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1).Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma(D3).Ada beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis skripsi. Tiapuniversitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harusdipenuhi hampir sama. Misalnya, mahasiswa harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai Datau E, IP Kumulatif semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum "berhak"untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segalanya sejak awal.Skripsi tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen pembimbing. Setelah itu, Andaharus mempertahankan skripsi Anda di hadapan penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisabervariasi, dan terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus).Skripsi juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi, mahasiswa S3 memang diharuskanuntuk menemukan danmenjelaskan teori baru. Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau memverikasiteori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara untuk mahasiswa S1,skripsi adalah "belajar meneliti".Jadi, skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu disikapi sebagai mimpiburuk atau beban yang maha berat.
Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya "ditujukan" untuk mahasiswa-mahasiswa dengankecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan,kerja keras, dan relationships yang baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengantingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi mahasiswadengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa yang di atasrata-rata.Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor ngidul danmembawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalahbelajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukanuntuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk mahasiswa S1sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua pendekatanyang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach)
 
biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga menolak groundedtheory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyakmenggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory.Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatanlain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacupada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlukuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripadamenggunakan pendekatan yang lain.
Belajar merupakan proses kontinu/berkesinambungan yang merupakan kombinasi antara: menguasaisesuatu yang baru, menggunakan sesuatu yang sudah dikuasai, dan mengajarkan sesuatu yang sudahdikuasai pada orang lain.Semua manusia pada dasarnya melakukan tiga hal di atas selama hidupnya (belajar berjalan, membaca,berbicara, dll). Tinggal ganti `sesuatu’ dengan fisika/topik fisika/bidang ilmu yang kita minati. Itu menurutsaya langkah yang paling alamiah dan wajar untuk menjadi fisikawan. Hal di atas juga tidak didikte oleh latar belakang (umur, agama, kelamin, pendidikan, dll).Ini beberapa point penjabaran:* Fisika (atau ilmu apa saja) itu luaassss sekali. Orang sepintar apa pun tidak akan pernah bisa menguasaifisika (atau bidang ilmu lainnya) semuanya. Bahkan bagian pokoknya saja masih luas. Jadi jangan pernahkhawatir kalau tidak tahu sesuatu.* Belajar itu proses kumulatif (akumulasi) sedikit demi sedikit. Yang sering sekali dilupakan adalah karenamempelajari sesuatu yang kecil, lantas tidak dianggap serius. Sekecil atau semudah apa pun yang maudipelajari, sebaiknya dipelajari dengan baik.* Tujuan utama BUKAN menyelesaikan problem/topik besar (saya mau buat teori kuantum gravitasi ! Sayamau jago fisika sampai nguasai segala macam teori medan kuantum dan kosmologi ! Nah loh !), tapibagaimana untuk selalu bisa menggunakan ilmu/pengetahuan yang sudah dikuasai. Tidak perlu malu atauminder kalau pengetahuan belum banyak. Hampir selalu ada hal-hal (kadang penting) yang bisa dilakukandengan pengetahuan, sesedikit apa pun.* Belajar mandiri merupakan kemampuan yang harus dimiliki. Definisi belajar mandiri bukan berartisendirian (single-fighter/alone): sambil pegang buku setumpuk coba di baca semua dan diselesaikansoalnya ! Tetapi bagaimana bisa memperoleh pengetahuan atas inisiatif sendiri. Perhatikan kata kuncinya:inisiatif sendiri ! Sumber pengetahuan banyak: buku, jurnal, internet, paper, tanya orang lain pun termasuk,eksperimen, coba-coba, iseng-iseng, denger kebetulan di tengah kumpul-kumpul, melihat seminar! Jadibagaimana dengan inisiatif sendiri kita menggunakan semua sumber pengetahuan untuk mendapatkanilmu.* Baca-baca-baca-baca ! Banyak sekali pengetahuan yang sudah tertulis di buku/paper dan kita tinggal
 
membaca. Bagaimana mencari buku/paper/jurnal/webpage yang tepat dimana tertulis sesuatu yang kitabutuhkan, adalah seni dan teknik yang tidak mudah tapi bisa dipelajari. Tools seperti Google saja bisasangat membantu untuk belajar. (Terus terang, Google adalah tempat bertanya saya yang pertama kaliumumnya kalau saya ada masalah, masalah apa saja)* Tanya-tanya-tanya-tanya ! Kuliah itu diadakan untuk bertanya. Bahan yang dicatat di papan tulis sebagianbesar disalin dari buku (kecuali kalau yang ngasih kuliah jago banget dan punya ilmu baru).o Kenapa kita harus bertanya ? Karena tidak akan pernah dosen/pengajar bisa memberikan semuanyapada murid kalau cuman dosen/pengajar sendiri yang ngomong di kelas. Mungkin dosen/pengajar menganggap mahasiswa tahu X, padahal mahasiswa belum tahu. Mungkin dosen/pengajar tanpa sengajamelewatkan materi Y, padahal materi Y penting, dan baru setelah ada yang tanya tentang materi Y, sangdosen/pengajar sadar (Oh iya, saya lupa tentang Y, kuliah berikut kita bahas). Mungkin … tanya saja,adalah hak anda untuk bertanya, meski belum tentu dijawab.o Di Indonesia, yang satu ini sudah budaya mengakar: orang sulit bertanya. That’s really bad. Akibat yangpaling buruk karena orang jarang/tidak pernah bertanya: orang tidak tahu bagaimana cara bertanya !Padalah pertanyaan adalah kunci mencari pengetahuan, baik pengetahuan baru atau lama.o Komunikasi dan interaksi adalah kunci pengajaran, pembelajaran, dan penyebaran ilmu.* Terkait soal sebelumnya: karena orang tidak tahu bagaimana bertanya, orang tidak bisa membedakanantara bertanya dan meminta orang lain untuk mengerjakan perkerjaannya. Itu 2 hal yang berbeda, tapitipis. Mula-mula kalau anda baru belajar untuk bertanya (iya, tidak tahu bagaimana memformulasipertanyaan, jadi belajar bertanya), anda mungkin tidak tahu bedanya. Tapi kalau sudah biasa bertanya (danmenjawab pertanyaan orang lain tentunya), anda akan tahu, bedanya di mana. Anda bisa mengenali: Oh siA itu cuman malas doank, dia nggak mau kerja. Oh si B itu dia ingin tahu, kalau sudah diberitahu dia akancoba dan kerjakan sendiri.Ketidakbisaan membedakan 2 hal di atas itu buruk sekali. Itu memicu kemalasan di satu pihak yangpemalas (merasa dia bertanya, padahal dia minta orang lain ngerjakan kerjaanya), dan juga memicukeseganan untuk bertanya di pihak yang rajin (merasa takut kalau pertanyaan dia dianggap malas, padahaldia memang ingin bertanya). Dua-duanya kontraproduktif untuk perkembangan ilmu.* Tulis-tulis-tulis. Dulu saya malas nyatat dan nulis, tapi itu ternyata salah. Otak saya terbatas kapasitasnyadan gampang lupa, jadi mendingan ditulis. Kalau anda punya ide/pikiran atau apa, tulis. Tidak perlu rapisekali asal jelas, tapi tulis. Sebab siapa tahu ide/pikiran anda ternyata berguna kemudian. Kalau adamasalah, tulis masalahnya. Kalau nemu buku/paper bagus, tulis siapa pengarangnya. Kalau ketemu orangatau siapa yang kira-kira pintar dan baik dan bisa ditanya, tulis email/alamatnya. Tulis-simpan-baca-lagi.* Jangan dikira hanya ada 1 metode atau cara dalam fisika/ilmu. Ada kisah tentang seorang dosen yangngasih PR tentang medan magnet dari suatu rangkaian listrik. Dari seluruh anak di kelas, hanya ada 1 yangbisa mengerjakan. Kok bisa ? Ternyata problem itu tidak mudah untuk diselesaikan secara analitik(diturunkan atau pakai integral atau apa), tapi rangkaian listrik itu bisa dibikin di lab elektronik, dan medanmagnetnya bisa diukur ! Satu anak yang dapet jawaban adalah orang yang pergi ke lab dan membuatrangkaiannya di lab, lalu mengukur.Fisikawan menggunakan segala macam cara dalam riset: cara-cara yang mungkin tidak terbayang kalaukita masih baru, tapi ternyata sahih dari segi prinsip ilmiah.* Jebakan/pitfall/trap dalam belajar atau kerja di fisika (serta bidang ilmu lainnya) itu banyak. Tidak semuatextbook/paper (seterkenal apa pun pengarangnya) itu bagus dan benar. Tidak semua orang yang kerja difisika itu tahu fisika dengan benar (ini fakta - but life goes on). Dan hanya anda sendiri yang bisa mencegah

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->