Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
6Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Antologi Tesis

Antologi Tesis

Ratings: (0)|Views: 1,722|Likes:
Published by Ahmad Ghifari

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Ahmad Ghifari on Mar 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/18/2013

pdf

text

original

 
 Antologi Tesis
1
PARADIGMA TEOLOGI PEMBEBASAN:SUATU UPAYA REFORMULASI TEOLOGI ISLAM
Fawaizul Umam
 
 A. Pendahuluan
 Adalah fakta bahwa kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan,ketertindasan, ketidakadilan, dan semacamnya hingga tingkat tertentu masihmerupakan realitas keseharian sebagian besar umat Islam di banyak belahandunia, tak terkecuali di Indonesia. Banyak hal bisa dituding sebagai sebab, baik berupa anasir absolut maupun struktural-sistemik. Namun, terlepas apapun
 prime cause 
dari realitas dimaksud, impotensi umat Islam menghadapi kenyataanitu tentu ironis demi menyadari betapa sesungguhnya Islam sarat akan
spirit 
 revolusioner, nilai-nilai moral yang membebaskan, yang mendorong ke arahterciptanya tatanan hidup yang lebih baik, layak, dan manusiawi.Banyak alasan yang bisa disebut mengapa ketakberdayaan itu tak kunjung usai. Salah satunya ialah ketiadaan motivasi religius. Sejauh menyangkut
élan- vital 
ajaran Islam sendiri, fakta ketakberdayaan umat itu memang berkait rekatdengan ketiadaan motivasi religius yang mampu berperan sebagai motivatorperubahan, yang berperan transformatif dan menggerakkan mereka untuk membebaskan diri dari serimpung realitas sosial tak mengenakkan. Di situkuncinya. Ketiadaan motivasi religius itu membuat apa yang disebuttransformasi sosial
1
nyaris tak pernah berlangsung secara signifikan di duniaIslam, termasuk Indonesia!Dalam kerangka itulah studi ini bermaksud menggagas suatu reformulasiparadigmatik dari apa yang dikehendaki di sini sebagai teologi Islamtransformatif-membebaskan. Studi ini sendiri merupakan sebuah
library research 
 (penelitian kepustakaan). Ia dilangsungkan dengan desain
library research 
 (penelitian kepustakaan). Data
critically 
dipulung dari berbagai sumber, antaralain teks-teks al-Qur’an dan al-Sunnah yang mengandung spirit pembebasan,literatur yang berkait langsung dengan wacana teologi pembebasan Amerika
Penulis adalah dosen fakultas Dakwah IAIN Mataram
1
Pengertian ‘transformasi sosial’ yang digunakan untuk menyemangati tulisan ini ialahperubahan sosial yang terencana ( 
 planned social change 
 ), yakni proses perubahan yang didesainsecara sengaja, ada penentuan strategi dan penetapan tujuan. Less dan Presley menyebutrekayasa sosial ( 
social engineering 
 ), perencanaan sosial ( 
social planning 
 ) oleh M.N. Ross, bahkansecara agak berbeda Ira Kaufman mengistilahkannya manajemen perubahan ( 
change management 
 ). Lihat Jalaluddin Rakhmat,
Rekayasa Sosial: Reformasi atau Revolusi? 
(Bandung:Remaja Rosdakarya, 1999), 45-6.
 
 
Reformulasi Teologi Islam
2Latin,
2
aneka buku/kitab yang mengungkap realitas teologi Islam klasik ( 
‘ilm al- kalâm 
 ), dan yang mengulas beragam
discourse 
seputar sosialisme, kapitalisme,dan marxisme. Proses akumulasi data dilakukan dengan penggunaan
content analysis 
(analisis isi) untuk selanjutnya, setelah terhimpun, didekati secara kritisdengan metode hermeneutik 
3
dan deskriptik.
B. Mencari Motivasi Religius
Kebutuhan akan motivasi religius dimaksud secara khusus menunjuk pada eksistensi teologi-teologi anutan umat―yang merupakan manifestasiajaran dasar Islam hasil derivasi para
mutakallimûn 
dari teks-teks suci (al-Qur’andan al-Sunnah), yang sebagai wacana historis telah mengeras menjadi “ilmu”tersendiri,
‘ilm al-kalâm 
(atau
‘ilm al-tawhîd, ‘ilm ushûl al-dîn, ‘ilm al-‘aqâ’id 
 ).Penunjukan itu bukan hanya lantaran teologi (baca:
tawhîd 
 ) merupakan alasfundamental seluruh ajaran Islam, tapi lebih jauh karena konstruk-paradigmatik suatu teologi anutan pada dasarnya menentukan cara pandang dan pola pemahaman umat atas realitas sekaligus juga pembacaan akan pesan-pesan ajaran. Dan itu artinya secara langsung bakal memberi
impact 
padapilihan performa penyikapan mereka terhadap realitas di dataran praktis.Dengan lain kata, suatu konstruk teologi tidak hanya memberi suatu carapandang eskatologis, melainkan juga memberi implikasi sosiologis.Namun, apa hendak dikata, sejauh urgensi teologi sebagai motivasireligius itu menunjuk pada teologi Islam klasik kita pun segera tahu betapa warisan
kalâm 
 Abad Pertengahan itu secara paradigmatik tidak transformatif-membebaskan dan karena itu
inadequate 
sebagai suatu motivasi religius yang revolusioner bagi kemanusiaan. Logis saja, karena apa yang secara
2
Pilihan atas
discourse 
teologi pembebasan Amerika Latin tersebut berkait rekat denganstatusnya di penelitian ini sebagai pra-konsepsi―suatu hal niscaya dalam penghampiranhermeneutik. Dalam hal ini beberapa karya jadi acuan utama, antara lain Antonio M. Pernia,“The Kingdom of God in the Liberation Theology of G. Gutiérrez, L. Boff, and J.L.Segundo,” dalam
DIWA: Studies in Philosophy Theology 
, Vol. XIII No. 1 (Mei, 1988): 30-7;Denis Carroll,
What is Liberation Theology? 
(Sidney: E.J. Dwyer, t.th.); Gustavo Gutiérrez,
 ATheology of Liberation: History, Politics, and Salvation 
(Maryknoll: Orbis Books, 1973); dan Hugo Assmann,
Practical Theology of Liberation 
(London: Search Press Limited, 1975).
3
Secara metodologis, kerangka hermeneutik yang dipakai adalah
hermeneutics theory 
 (dengan sedikit sentuhan pola
hermeneutics philosophy 
 ) seraya menahan diri untuk tidak melibatkan
hermeneutics critique 
. Lihat relevansi pengenaannya, terkhusus pada Josef Bleichert,
Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique 
(London: Routledgeand Kegan Paul, 1980). Karena itu, konteks penggagasan apa yang disebut di sini sebagai(paradigma) teologi Islam transformatif-membebaskan lebih terfokus pada upaya reformulasidoktrin-doktrin teologis berdasar produksi makna baru yang secara hermeneutis diderivasidari teks-teks suci (al-Qur’an dan/atau al-Hadits). Di situ, pemaknaan atas teks tidak terutama diarahkan untuk mengkritisi dan/atau mendekonstruksi aneka produk pemahamaninterpretatif atas teks yang selama ini ada, tetapi untuk suatu pemaknaan baru (produksimakna) sejalan dengan realitas kekinian yang teralami. Lebih lanjut lihat operasionalisaipengenaan metode ini pada sub
Hermeneutik sebagai Rangka Kerja 
di tulisan ini.
 
 
 Antologi Tesis
3paradigmatik dikembangkan teologi
kalâm 
klasik itu adalah
trend 
teosentris.
4
  Tuhan dan ketuhanan ( 
theos 
 ) menjadi
core 
teologis. Jadi wajar bila
concern 
 utamanya adalah “bagaimana mengenal Tuhan untuk memahamikenyataan”―dan bukan sebaliknya, “memahami kenyataan untuk mengenal Tuhan”. Dengan pemusatan diskursus terutama pada Tuhan dan ketuhanan,sudah barang tentu teologi semacam itu (hanya) relevan sebagai alas strukturdari religiusitas yang “membela” Tuhan, bukan manusia. Untuk konteks zamanpertengahan Hijriyah, ketika era formatif Islam masih berlangsung, boleh jadiia menuai signifikansinya. Namun, untuk konteks hari ini, tatkala aneka“anomali” realitas umat kini lebih bersifat sosial daripada individual,
5
masihkah
trend 
teologis semacam itu memadai untuk memotivasi umat gunamelangsungkan perubahan dan membalik kenyataan? Tampaknya, tidak.Lalu bagaimana mungkin menyelenggarakan perubahan-perubahansosial-transformatif tanpa suatu kesadaran teologis yang secara paradigmatik bersifat transformatif pula? Hubungan keduanya bersifat niscaya, mau tak mau.“Tidak ada tindakan revolusioner tanpa teori revolusioner!”
 
ujar Vladimir IlyicUlyanov.
6
Mustahil akan berlangsung suatu tindakan revolusioner tanpadidukung oleh suatu teori revolusioner. Di sinilah teologi sebagai suatu refleksiteoretis atas ajaran berperan determinan dalam mempengaruhi perubahan.Maka tak pelak, untuk konteks Islam, teologi menjadi pintu utama bagi seluruhrintisan ikhtiar transformasi sosial di dunia Islam.Namun, itu bukanlah perkara gampang. Terlebih mengingat angan-angantentang kemajuan peradaban Islam selama ini tidak beranjak darikecenderungan idealisasi ke masa lalu. Fakta-fakta tempo doeloe, tepatnya eraMadinah pasca-Hijrah, cenderung didudukkan sebagai rujukan kebenarantunggal dalam berislam. Mengutip identifikasi Arkoun, di situlah letak persoalan mengapa geliat pemikiran Islam nyaris tak pernah berlangsung revolusioner. Sebab, tambahnya, apabila revolusi di mana-mana meniscayakanpemisahan dengan masa lalu, revolusi Islam justru mengakomodasi dan
4
Bila dipilah sekurangnya terdapat tiga paradigma dari teologi-teologi anutan umatIslam hari ini yang pada prinsipnya sama berkecenderungan teosentris, yakni (1) tradisional,(2) rasional, dan (3) “fundamentalis”. Secara umum ketiganya mendasarkan derivasikeyakinan teologisnya pada khazanah
kalâm 
klasik, yakni yang 
 pertama 
pada Jabariyah, As‘ariyah, dan Maturidiyah (sayap Bukhara); sedang yang 
kedua 
pada Qadariyah, Mu‘tazilah,dan Maturidiyah (Samarkand); dan yang 
ketiga 
pada Khawarij.
Bdk
. dengan pemetaanMansour Faqih, “Teologi Kaum Tertindas,” dalam Ahmad Suaedy (eds.),
Spiritualitas Baru:  Agama dan Aspirasi Rakyat 
(Jogjakarta: Institut Dian/Interfidei, 1994): 203-42. Khusus untuk relevansi pelekatan label neo-Khawarij terhadap kelompok-kelompok Islam “fundamentalis”,lihat Said Agiel Siradj,
 Ahlussunnah wal Jama‘ah dalam Lintas Sejarah 
(Jogjakarta: LKPSM,1997), 7-8.
5
Untuk pemaknaan problem individual dan bedanya dengan problem sosial berikutprobabilitas aksi solutifnya, lihat Rakhmat,
Rekayasa…
, 54-82.
6
Ziaul Haque,
Wahyu dan Revolusi,
terj. E. Setiyawati Al Khattab (Jogjakarta:
LK 
í
S,
 2000), 296.
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->