HUBUNGAN AGAMA DAN BUDAYADALAM KRISTEN PROTESTAN
Pdt. Dr. A. Ginting Suka
Pertemuan Injil dan kebudayan
Injil diberitakan ditengah-tengah dunia yang penuh kebudayaan yang bentuknya dapatdiumpamakan seperti kuelapis. Lapisan-lapisan kebudayaan itu misalnya di Indonesia terdiri darilapisan yang diwarnai oleh agama pribumi, Hinduisme, Buddhisme, Islam, Kristen dan terakhirmodernisme. Intensitas pengaruh itu berbeda satu dengan lain bergantung pada etnografis,geografis dan sejarah masing-masing wilayah. Tetapi bagaimanapun Injil yang diberitakan itu tetapberhadapan dengan kebudayaan bangsa-bangsa dan suku-suku.Dalam pertemuan injil dan kebudayaan tersebut, secara khusus adalah dengan unsur-unsurkebudayaan yang pasti terdapat dalam semua kebudayaan yang dinamai unsur kebudayaanuniversal, terdiri dari : Sisten relegi dan upacara keagamaan, Sistem dan organisasi masyarakat,Sistem pengetahuan, Sistem bahasa, Sistem Kesenian, Sistem Mata pencaharian, dan SistemteknologiLapisan-lapisan kebudayaan itu tidak statis, masing-masing salingberpenetarasi, maka unsurkebudayaan yang universal itu selalu berada dalam perobahan.Demikianlah Injil selalu berhadapan dengan unsur-unsur kebudayaan tersebut dengan membawanilai Injil secara khusus dengan sistem religi,sistem pengetahuan, kesenian dan mata pencaharian.Sewaktu Yesus memberitakan Injil, Ia ditentang oleh Yudaisme dalam soal-soal doktrin dan kesucian,perkawinan,sistem ekonomi yang berlandaskan usaha kerja, sedang Injil menekankan anugerahAllah sebagai jaminan kehidupan (Mattius 5 : 25-34); tentangkasih dan keadilan yang menentanghukum balas-membalas (Mattius 5 : 38-48).Hal yang sama terjadi setelah Injil dibawa keluar Israel ke masyarakat Hellenisme dan Romawi.Injil menentang absolutisme kekaisaran romawi dimana kaisar dianggap dan dipuja sebagai Tuhandan agama rakyat yang politheistis dan hubungan seksual termasuk dalam sistem religi yangmembuat tata susila yang permissif, sini tari yang membangkitkan birahi dan bentuk-bentuk olahraga yang tidak manusiawi. Oleh sebab itu gereja tidak dapat tidak harus menentukan sikapterhadap kebudayaan yang dihadapinya.
Sikap Gereja terhadap kebudayaan
H. Richard Niebuhr dari Yale University di Amerika serikat telah membuat bagan tentang sikapGereja terhadap kebudayaan dalam bukunya Christ and Culture atau Kristus dan kebudayaan. Iatelah menjelajahi sikap-sikap Gereja terhadap kebudayaan sepanjang zaman dalam 5 sikap, yaitu :1.
Gereja anti kebudayan2.
Gereja dari kebudayaan3.
Gereja diatas kebudayaan4.
Gereja dan kebudayaan dalam hubungan paradoks5.
Gereja pengubah kebudayaanIni adalah gambaran –gambaran umum, sedang dapat kita benarkan pendapat yang mengatakanbahwa tidak ada gereja yang secara murni mengambil salah satu sikap tersebut. Namun adabaiknya kita membicarakan posisi-posisi itu satu persatu :1.
Posisi 1.Gereja memandang dunia di bawah kekuasaan si jahat sebagai kerajaan kegelapan. Warga Gerejadisebut oleh Injil adalah anak-anak terang, karena itun tidak hidup dalam kegelapan. Duniakegelapan ini dikuasai oleh nafsu kedagangan, nafsu mata, kesombongan. Semua itu akan berlalusebab mereka akan dikalahkan oleh iman kepada Kristus (Niebuhr, 56).Sikap menentang kebudayaan ini telah dilancarkan oleh Tertullianus tokoh Gereja abad ke 2. Iamengatakan bahwa konflik-konflik orang percaya bukan dengan alam tetapi dengan kebudayaan.Dosa asal itu menurut Tertullianus disebarkan oleh kebudayaan melalui pendidikan anak. Olehnkarena itu kata tertullianus tugas Gereja adalah menerangi semua orang yang sudah berada dibawah ilusi kebudayan, supaya mereka dibawa kepada pengetahuan akan kebenaran. Yang palingburuk dari kebudayaan adalah agama sosial, kafir atau politheisme, hawa nafsu dan kemaksiatan