pendek dibaca Māliki yaumiddīn dengan ma panjang.[9]Dalam shalat, Al-Fatihah biasanya diakhiri dengan kata "Amin". "Amin" dalam shalat Jahr biasanya didahului oleh imam dan kemudian diikuti oleh makmum. Pembacaan"Amin" diharuskan dengan suara keras dan panjang.[10] Dalam hadits disebutkanbahwa makmum harus mengucapkan "amin" karena malaikat juga mengucapkannya,sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa "amin" diucapkan apabila imammengucapkannya.[11]Pembacaan Al-Fatihah dan surah-surah lain dalam shalat ada yang membacanyakeras dan ada yang lirih. Hal itu tergantung dai shalat yang sedang dijalankan danurutan rakaat dalam shalat. Shalat yang melirihkan seluruh bacaannya (termasuk Al-Fatihah dan surah-surah lain) dari awal hingga akhir shalat, disebut Shalat Sir(membaca tanpa suara). Shalat Sir contohnya adalah Shalat Zuhur dan Shalat Ashardimana seluruh bacaan shalat dalam shalat itu dilirihkan. Selain shalat Sir, terdapatpula shalat Jahr, yaitu shalat yang membaca dengan suara keras. Shalat Jahrcontohnya adalah shalat Subuh, shalat Maghrib, dan shalat Isya'. Dalam shalat Jahryang berjamaah, Al-Fatihah dan surah-surah lain dibaca dengan keras oleh imamshalat. Sedangkan pada saat itu, makmum tidak diperbolehkan mengikuti bacaanImam karena dapat mengganggu bacaan Imam dan hanya untuk mendengarkan.Makmum dipererbehkan membaca (dengan lirih) apabila imam tidak mengeraskansuaranya.[11] Sementara dalam Shalat Lail, bacaan Al-Fatihah diperbolehkanmembaca keras dan diperbolehkan lirih, hal ini seperti yang tertera dalam hadits:"Rasulullah bersabda, "Wahai Abu Bakar, saya telah lewat di depan rumahmuketika engkau shalat Lail dengan bacaan lirih." Abu Bakar menjawab, "WahaiRasulullah, Dzat yang aku bisiki sudah mendengar." Beliau bersabda kepada Umar,"Aku telah lewat di depan rumahmu ketika kamu shalat Lail dengan bacaan yangkeras." Jawabnya, "Wahai Rasulullah, aku membangunkan orang yang terlelap danmengusir setan." Nabi SAW. bersabda, "Wahai Abu Bakar, keraskan sedikit suaramu."Kepada Umar beliau bersabda, "Lirihkan sedikit suaramu."[12][sunting] PenutupSurat Al-Fatihaah ini melengkapi unsur-unsur pokok syari'at Islam, kemudiandijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al-Quran yang 113 surat berikutnya.Persesuaian surat ini dengan surat Al Baqarah dan surat-surat sesudahnya ialah suratAl Fatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan diperinci dalam surat AlBaqarah dan surat-surat yang sesudahnya.Dibahagian akhir surat Al Faatihah disebutkan permohonan hamba supaya diberipetunjuk oleh Tuhan kejalan yang lurus, sedang surat Al Baqarah dimulai denganpenunjukan al Kitaab (Al Quran) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.[sunting] Nama LainSelain dinamai Al-Fatihah (Pembuka), surah ini sering juga disebut Fatihatul Kitab(Pembukaan Kitab), Ummul Kitab (Induk Kitab), Ummul Qur'an (Induk Al-Qur'an), As-Sabu'ul Matsani (Tujuh yang Diulang). Selain keempat sebutan tersebut, banyakulama tafsir yang menyebutnya dengan: Ash-Shalah (Arab:
ل, Shalat), al-Hamd(Arab: دحل, Pujian), Al-Wafiyah (Arab: ةل, Yang Sempurna), al-Kanz (Arab: زكل, SimpananYang Tebal), asy-Syafiyah (Yang Menyembuhkan), Asy-Syifa (Arab: ءافل, Obat), al-Kafiyah(Arab: ةاكل, Yang Mencukupi), al-Asas (Pokok), al-Ruqyah (Mantra), asy-Syukru (Syukur), ad-Du'au (Do'a), dan al-Waqiyah (Yang Melindungi dari Kesesatan).[1]