Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Konsep Rasionaliti January 15th, 2009 · 2

Konsep Rasionaliti January 15th, 2009 · 2

Ratings: (0)|Views: 995|Likes:
Published by nining_rahmawati

More info:

Published by: nining_rahmawati on Mar 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/28/2012

pdf

text

original

 
KONSEP RASIONALITIJanuary 15th, 2009 · 2 CommentsKONSEP RASIONALITIDALAM PERSPEKTIF EKONOMI KONVENSIONALDAN ALTERNATIFNYA MENURUT PANDANGAN EKONOMI ISLAM Nur KholisÒ Abstract This paper tries to discuss the concept of rationality in conventional economicpoint of view, compared with islamic economic point of view. The concept of rationality is being the heart of conventional economic. It becomes the one of the most importance concept to understand the conventional economic point of view upon man. According to the conventional economic, man is a rational economic man. His behaviour motive is self interest. He does not intentionally make decisions that would leave him worse off. This concept has been critized by many scholar, both scholar of the conventional economic and scholar of the Islamic economic. The Islamic economic offers the concept of rationality based on the tauhid and therules af Allah. Mankind that will be constructed by the Islamic economic concept is islamic man (‘ibadurrahman). Characteristics of ‘ibadurrahman are: (1) consistent in the economic choices, obey the rules of Allah (2) avoid harmful goods,israf, tabdhir, and mudarat, and (3) having true altruism and good relationshipwith others. Kata Kunci: Rasionaliti, kritik, ekonomi konvensional, ekonomi Islam 1. PENDAHULUANSalah satu konsep penting dalam ilmu ekonomi konvensional adalah pilar paradigmailmu ekonomi konvensional, yaitu manusia adalah manusia ekonomi rasional, positivisme, dan hukum Say (yaitu hukum Jean Babtis Say yang menyatakan bahwa supplycreates its own demand, penawaran menciptakan permintaannya sendiri).[1] Dalam artikel ini, akan dibahas salah satu dari tiga pilar paradigma ilmu ekonomi konvensional tersebut, yaitu manusia adalah manusia ekonomi rasional, atau singkatnyarasionaliti.Rasionaliti merupakan “hati” dari ilmu ekonomi konvensional.[2] Pembahasan tentang rasionaliti telah mendapatkan perhatian serius dari para pakar ekonomi konvensional, sekaligus telah mendapatkan kritikan yang juga tidak sedikit, baik daripakar ilmu ekonomi konvensional itu sendiri maupun pakar ilmu ekonomi Islam. Pada dasarnya, ilmu ekonomi konvensional sangat memegang teguh bahwa perilaku individu adalah pasti rasional.Dalam kajian ini, pembahasan tentang rasionaliti akan dimulai dengan penjabaran
 
tentang konsep rasionaliti itu sendiri menurut perspektif ilmu ekonomi konvensional, dilanjutkan dengan pengetengahan kritik-kritik terhadap konsep rasionalitidalam ekonomi konvensional. Selanjutnya dibahas alternatifnya menurut pandanganekonomi Islam. Pembahasan ini akan diakhiri dengan kesimpulan. 2. KONSEP RASIONALITIIlmu ekonomi konvensional sangat memegang teguh asumsi bahwa tindakan individu adalah rasional. Sebenarnya tidak ada sebarang kemusykilan untuk menerima asumsiini, hanya ada satu masalah yaitu dalam hal mendefinisikan rasionaliti, karena memang hampir semua bidang ilmu sosial mempunyai definisi dan pandangan yang tersendiri tentang rasionaliti. Definisi rasionaliti dari berbagai cabang ilmu sosial mungkin akan berbeda. Misalnya suatu perbuatan yang dianggap rasional menurutseorang pakar psikologi, akan tetapi menurut pakar ekonomi sebagai tidak rasional.[3]Dalam kajian ekonomi, rasionaliti merupakan suatu perkataan yang lebih sering dipakai daripada didefinisikan. Kalaulah definisi itu diberikan, biasanya berupa deskripsi tentang pilihan rasional atau perbuatan rasional.Rasionality assumption dalam ekonomi menurut Roger LeRoy Miller adalah individuals do not intentionally make decisions that would leave them worse off.[4] Ini berarti bahwa rasionaliti didefinisikan sebagai tindakan manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya yaitu memaksimumkan kepuasan atau keuntungan senantiasa berdasarkan pada keperluan (need) dan keinginan-keinginan (want) yang digerakkan olehakal yang sehat dan tidak akan bertindak secara sengaja membuat keputusan yang bisa merugikan kepuasan atau keuntungan mereka. Bahkan menurutnya, suatu aktivitas atau sikap yang terkadang nampak tidak rasional akan tetapi seringkali ia memiliki landasan rasionaliti yang kuat, misalnya sikap orang lanjut usia yang tidakmau belajar teknologi baru,[5] orang yang berpacaran dengan menghabiskan waktudan uang, sikap menolong orang fakir miskin dan sebagainya.Rasionaliti merupakan kunci utama dalam pemikiran ekonomi modern. Ia menjadi asas aksioma bahwa manusia adalah makhluk rasional. Seorang manusia ekonomi (homo economicus) memilih di antara berbagai alternatif pilihan dengan tujuan untuk memaksimumkan kepuasan. Sebelum memilih, ia mesti menyusun skala prioritas dari berbagai alternatif pilihan. Syarat pilihan rasional adalah bahwa setiap individu mengetahui berbagai informasi secara lengkap tentang alternatif-alternatif dan iamempunyai kemampuan untuk menyusun skala prioritasnya sesuai dengan preferensinya. Apabila dua syarat tersebut terpenuhi, maka pilihan rasional bisa berlaku.[6]Konsep rasionaliti muncul karena adanya keinginan-keinginan konsumen untuk memaksimalkan utiliti dan produsen ingin memaksimalkan keuntungan, berasaskan pada satu set constrain. Yang dimaksud constrain dalam ekonomi konvensional adalah terbatasnya sumber-sumber dan pendapatan yang dimiliki oleh manusia dan alam, akan tetapi keinginan manusia pada dasarnya tidak terbatas. Dalam ekonomi Islam yang dimaksud dengan constrain adalah terbatasnya kemampuan manusia baik dari segi fisik maupun pengetahuan untuk mencapai atau mendapatkan sesuatu sumber yang tidakterbatas yang telah disediakan oleh Allah SWT.[7] Berdasarkan pernyataan di atasmaka manusia perlu membuat suatu pilihan yang rasional sehingga pilihan tersebut dapat memberikan kepuasan atau keuntungan yang maksimal pada manusia.Menurut ilmu ekonomi konvensional, sesuai dengan pahamnya tentang rational economics man, tindakan individu rasional adalah tertumpu kepada kepentingan diri sendiri (self interest)[8] yang menjadi satu-satunya tujuan bagi seluruh aktivitas.Ekonomi konvensional mengabaikan moral dan etika dalam pembelanjaan dan unsur waktu adalah terbatas hanya di dunia saja tanpa mengambilkira hari akhirat.
 
Adam Smith menyatakan bahwa tindakan individu yang mementingkan kepentingan dirisendiri pada akhirnya akan membawa kebaikan masyarakat seluruhnya karena tangantak tampak (invisible hand) yang bekerja melalui proses kompetisi dalam mekanisme pasar.[9]Rasionalisme ekonomi mentafsirkan perbuatan manusia itu sesuai dengan sifatnya yang homo economicus, di mana semua perbuatannya senantiasa berdasarkan pada perhitungan terperinci, yang ditujukan untuk mencapai kesuksesan ekonomi. Kesuksesanekonomi dimaknai sebagai menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Mengejar kekayaan, baik dalam bentuk uang maupun barang ialah tujuan utama dalam kehidupan ini.Pada saat yang sama, ia merupakan ukuran kesuksesan ekonomi. Keberhasilan untukmendapatkan uang yang banyak diangap sebagai merupakan hasil yang bersumber dari kesungguhan dan keahlian mereka dalam mencapai tujuan tersebut.[10]Dalam ekonomi konvensional, perilaku rasional dianggap ekuivalen (equivalent) dengan memaksimalkan utiliti. Menurut John C. Harsanyi[11] theory of rational behavior mengandung tiga cabang, yaitu:1. Utiliti theory, yang bermakna bahwa perilaku yang rasional mengandung unsur memaksimalkan utiliti atau tercapainya utiliti maksimum yang diharapkan.2. Game theory, yaitu teori perilaku rasional dengan dua atau lebih interaksi rasionaliti individu, masing-masing rasionaliti menghendaki untuk memaksimalkan kepentingannya sendiri sebagai bentuk dari fungsi utiliti individu. (Walaupunterkadang ada pertentangan dengan sikap altruistik).3. Ethics, dimana kriterianya adalah penilaian moral dari masyarakat, yangmana ia melibatkan pemaksimalan rata-rata tingkat utiliti dari semua individu dalam masyarakat. Inilah yang dikenali dengan altruistik, yang merupakan perkembangan baru dari konsep rasionaliti.Syed Omar Syed Agil[12] menyusun kriteria yang cukup komprehensif mengenai rasionaliti yaitu bahwa dalam ekonomi konvensional seorang individu dianggap sebagairasional apabila:1. Mereka tahu apa yang mereka mau sesuai dengan skala prioritas kemauan dan bersikap konsisten (individu andaikan mempunyai informasi lengkap).2. Semua informasi dan cara didinilai dengan berdasarkan pada logika akal.3. Tujuan dan cara bisa dinilai dengan uang4. Dalam produksi, mereka hanya melihat aspek kemahiran tanpa mengambilkiraaspek sentimen, nilai-nilai moral dan agama yang tidak dapat dinilai dalam bentuk uang.5. Perilaku seseorang yang mementingkan kepuasan diri sendiri akan membawakebaikan kepada masyarakat.6. Pilihan dibuat selaras dengan pilihan yang diprediksi dibuat oleh masyarakat. Dianggap rasional sekiranya pilihan yang dibuat bersesuaian dengan kehendak masyarakat. 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->