Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
11Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang

Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang

Ratings: (0)|Views: 577 |Likes:
Published by chepimanca

More info:

Published by: chepimanca on Mar 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/26/2011

pdf

text

original

 
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Sifat Machiavellian dan Pertimbangan Etis:Anteseden Independensi dan Perilaku Etis Auditor
St. Vena Purnamasari, SE.,MSi
1
UNIKA Soegijapranata Semarang
Abstract
This research is designed to gain an understanding of how auditor’s respond torealistic ethical dilemmas. Machiavellianism and Cognitive Moral Development theory are the basic theories in this study. The purpose of this study is toinvestigates: (1) the association Machiavellianism and ethical reasoning withauditor’s independence judgment and ethical behavior and (2) the relationshipbetween auditor’s independence judgment and ethical behavior. Literature suggests that individual with high Machiavellian levels and lower ethical reasoning levels are more likely less independence and more likely agreewith unethical behavior. Literature also suggests independence is the first subject addressed in the rules of conduct. Independence in auditing means taking anunbiased viewpoint in the performance of audit test, the evaluation of the results,and the issuance of audit report. Several hypothesis are developed to investigate: first the relationship between Machiavellianism and auditor’s independence judgment. Second, the relationship between Machiavellianism and ethical behavior.Third, relationship between ethical reasoning and auditor’s independence judgment.Fourth, the relationship between ethical reasoning and ethical behavior and the last is the relationship between auditor’s independence judgment and ethical behavior. A total of 140 auditors are used to examine the hypotheses. Data wascollected by mail survey and tested by path analysis. Results indicate that individualwith high Machiavellian levels is more likely to less independence and more likely toagree with unethical behavior.Key words: Machiavellianism, Ethical Reasoning, Independence, Ethical Behavior and Cognitive Moral Development Theory
1
Staf Pengajar FE Akuntansi UNIKA Soegijapranata, Jl.Pawiyatan Luhur IV/1 Bendan DhuwurSemarang 50234; Ph:(024)8441555 ext:198, fax: (024)8415429; HP:08122569081 (vena@unika.ac.id)Penulis mengucapkan terima kasih atas bimbingan Bapak Dr.Indra Wijaya Kusuma, MBA.,Ak.
Padang, 23-26 Agustus 2006
 1
K-AUDI 10
 
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG1. Pendahuluan
Maraknya kejahatan akuntansi korporat yang terjadi akhir-akhir ini membuatkepercayaan para pemakai laporan keuangan khususnya laporan keuangan auditanterhadap auditor mulai menurun. Akibat kejahatan tersebut, para pemakai laporankeuangan seperti investor dan kreditur mulai mempertanyakan kembali eksistensiakuntan publik sebagai pihak indepeden yang menilai kewajaran laporan keuangan.Beberapa kasus manipulasi yang merugikan pemakai laporan keuangan melibatkanakuntan publik yang seharusnya menjadi pihak independen.Kasus manipulasi pembukuan yang masih dapat kita ingat adalah kasusEnron Corp. Laporan keuangan Enron sebelumnya dinyatakan wajar tanpapengecualian oleh kantor akuntan Arthur Anderson, yang merupakan salah satuKAP yang termasuk dalam jajaran
big five
, secara mengejutkan dinyatakan pailitpada 2 Desember 2001. Sebagian pihak menyatakan kepailitan tersebut salahsatunya karena Arthur Anderson memberikan dua jasa sekaligus, yaitu sebagaiauditor dan konsultan bisnis (www.bisnis.com). Kasus-kasus serupa juga terjadi diIndonesia. Diantaranya, runtuhnya Bank Summa yang dinyatakan bangkrut beberapabulan setelah KAP Arthur Anderson menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualianatas laporan keuangannya (Bangkit, [2001]). Kenyataan lain adalah hasilpemeriksaan yang dilakukan oleh BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan Pemerintah)atas kertas kerja yang dibuat oleh KAP,dari 10 KAP yang melakukan audit terhadap37 bank bermasalah ternyata hanya 1 KAP yang tidak melanggar SPAP (Bangkit,[2001]).Kondisi ini membuat masyarakat mempertanyakan kredibilitas profesiakuntan publik. Erosi kepercayaan terhadap profesi akuntansi semakin meningkat,padahal eksistensi profesi sangat bergantung pada kepercayaan masyarakat sebagaipengguna jasa profesi. Perdagangan opini auditor menjadi hal yang “wajar” ketikaindependensi dan objektivitas sudah terabaikan (Murniati dan Purnamasari, [2002]).Kepercayaan masyarakat perlu dipulihkan dan hal itu sepenuhnya tergantung padapraktek profesional yang dijalankan para akuntan. Profesionalisme mensyaratkantiga hal utama yang harus dimiliki oleh setiap anggota profesi yaitu: keahlian,pengetahuan, dan karakter. Karakter menunjukkan
 personality
(kepribadian) seorangprofesional yang diantaranya diwujudkan dalam sikap etis dan tindakan etis (Mar’ie,
Padang, 23-26 Agustus 2006
 2
K-AUDI 10
 
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
[2002] dalam Chrismastuti dan Purnamasari,[2003]). Sikap dan tindakan etisakuntan publik akan sangat menentukan posisinya di masyarakat pemakai jasaprofesionalnya (Machfoed, [1997])Akuntan memiliki hubungan yang unik dengan pengguna jasanya jikadibandingkan dengan profesi lainnya. Profesi lain mendapatkan penugasan daripengguna jasa dan bertanggung jawab juga kepadanya, sementara akuntan mendapatpenugasan dan memperoleh
 fee
dari perusahaan yang menerbitkan laporankeuangan, namun bertanggung jawab kepada pengguna laporan keuangan.Hubungan yang unik ini sering kali menempatkan akuntan pada situasi-situasidilematis, oleh sebab itu sangat penting bagi akuntan untuk melaksanakan auditdengan kompeten dan tidak bias (Arens dan Loebbecke,[2000]). Keunikanhubungan profesi akuntan dengan pengguna jasa profesionalnya serta dampak luasdari pelanggaran etika profesi akuntan pada kepercayaan publik atas jasaprofesionalnya, menjadikan masalah etika dan indepedensi auditor sebagai isu yangmenarik untuk didiskusikan dan dikaji secara ilmiah khususnya mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap independensi dan sensitivitas etika akuntan.Banyak riset dilakukan untuk mempelajari hubungan antara auditor dengankonflik peran yang muncul dari situasi dan faktor lingkungan, tapi masih jarangyang mengidentifikasi proses dan mekanisme yang mendasari pernyataan pemikiranauditor, ketika merumuskan sebuah
 judgment 
yang melibatkan independensinya.Penelitian-penelitian tersebut diantaranya adalah Shockley [1981], Supriyono[1988], dan Nadiarsyah [1992] meneliti tentang faktor-faktor eksternal yangmempengaruhi independensi auditor.Salah satu hal penting dalam mewujudkan profesionalisme adalahkepribadian. Penelitian ini didesain untuk memahami hubungan kepribadian denganrespon auditor terhadap dilema etika. Ponemon dan Gabhart [1990] menemukanbahwa proses kognitif etika auditor akan mempengaruhi independensi auditor.Independensi merupakan isu yang menarik karena dalam menghadapi konflik independensi auditor perlu untuk mempertimbangkan aturan yang eksplisit, standaraudit dan kode etik profesional. Literatur psikologi memberikan pemahaman caraseorang individu memproses aturan-aturan tersebut dalam membuat
 judgement 
.Richmond [2003] menemukan bukti bahwa kepribadian individumempengaruhi perilaku etis. Richmond mengivestigasi hubungan paham
Padang, 23-26 Agustus 2006
 3
K-AUDI 10

Activity (11)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
prasethyo liked this
Zhe Tanoga liked this
zhelaaritanoga liked this
kiwel liked this
vicko_denesta liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->