Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tor Kegiatan

Tor Kegiatan

Ratings: (0)|Views: 364 |Likes:
Published by tolleng1

More info:

Published by: tolleng1 on Mar 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/02/2011

pdf

text

original

 
Project Proposal
Hari Anti Korupsi Se-Dunia
³Konsorsium Mahasiswa Peguyuban Nusantara´
³Dari Daerah Kita Bangun Indonesia: Bebaskan Negeri dari Budaya Korupsi Demi Pemulihan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Nasional´ 
Jakarta, 7-9 Desember 2009
 
 
³Konsorsium Mahasiswa Peguyuban Nusantara´
³Dari Daerah Kita Bangun Indonesia: Bebaskan Negeri dari Budaya Korupsi Demi Pemulihan dan PercepatanPembangunan Ekonomi Nasional´ 
PENDAHULUAN
Korupsi dan kekuasaan, ibarat dua sisi dari satu mata uang. Korupsi selalu mengiringiperjalanan kekuasaan dan sebaliknya kekuasaan merupakan ³pintu masuk´ bagi tindakkorupsi. Inilah hakekat pernyataan
Lord Acton
, guru besar sejarah modern diUniversitas Cambridge, Inggris, yang hidup di abad 19. Dengan adagium-nya yangterkenal ia menyatakan:
Power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely 
(
kekuasaan itu cenderung korup, dan kekuasaan yang absolut cenderung korup secaraabsolut). Ada postulat yang mengatakan korupsi mengikuti watak kekuasaan. Jika kekuasaanberwatak sentralistis, korupsi pun mengikutinya berwatak sentralistis. Semakintersentral kekuasaan, semakin hebat pula korupsi di pusat kekuasaan itu. Jenis iniditemukan di masa Orde Baru. Sebaliknya, jika yang terjadi adalah otonomi, sepertiotonomi daerah, maka korupsi pun mengikutinya sejajar dengan otonomi tersebut.Karena kekuasaan berpindah dari satu pusat kekuasaan ke banyak pusat kekuasaanyang otonom, korupsi pun mengikutinya berpindah dari satu pusat kekuasaan kepadabanyak pusat kekuasaan. Jenis ini dialami sekarang, di zaman pasca Orde Baru. Bisadibayangkan jika yang terjadi otonomi yang seluas-luasnya. Menurut postulat ini,korupsi pun akan mengikutinya: juga terjadi seluas-luasnya di banyak pusat kekuasaanyang otonom itu.Desentralisasi justru menimbulkan banyak masalah yang bisa membahayakan programitu sendiri. Selain mengurangi efisiensi, desentralisasi ternyata juga menyuburkankorupsi. Sehingga seakan antara pusat dan daerah berlomba untuk melakukan korupsi.Sedemikian kencang perlombaan terjadi sehingga sekarang tidak jelas lagi, manakahyang lebih hebat dan ³berprestasi´ dalam melakukan korupsi.Otonomi dan desentralisasi telah menyebabkan korupsi menyebar ke daerah-daerah.Bahkan, jika di era sebelumnya yang umumnya melakukan korupsi adalah jajaraneksekutif, sekarang sudah melanda jajaran legislatif. Keduanya adu cepat melalap uangnegara dan mengisap uang rakyat. Korupsi sebagai virus ganas rupanyamendapatkan medium penyebaran yang efektif melalui otonomi dan desentralisasi.Reformasi memang menghasilkan DPR yang lebih berkuasa dibanding presiden,sedangkan otonomi menghasilkan DPRD yang tidak kalah berkuasanya dibandingkankepala daerah. Bahkan, even laporan pertanggungjawaban
(L
PJ) kepala daerah danpemilihan kepala daerah dijadikan ajang korupsi secara gotong royong. Hal itu jelasmengancam masa depan negeri ini. Kajian
Political and Economic Risk Consultancy 
(
Oktober 2001) mengisyaratkan akan adanya faktor yang paling membahayakan bagimasa depan pembangunan bangsa Indonesia yang melebihi gerakan militer atautransisi politik yang kacau. Faktor itu adalah korupsi!Peraturan perundang-undangan
(
legislation) merupakan wujud dari politik hukuminstitusi Negara dirancang dan disahkan sebagai undang-undang pemberantasan
 
tindak pidana korupsi. Secara parsial, dapat disimpulkan pemerintah dan bangsaIndonesia serius melawan dan memberantas tindak pidana korupsi di negeri ini. Tebangpilih. Begitu kira-kira pendapat beberapa praktisi dan pengamat hukum terhadap gerakpemerintah dalam menangani kasus korupsi akhir-akhir ini.Celah kelemahan hukum selalu menjadi senjata ampuh para pelaku korupsi untukmenghindar dari tuntutan hukum. Kasus Korupsi mantan Presiden Soeharto, contohkasus yang paling anyar yang tak kunjung memperoleh titik penyelesaian. Perspektif politik selalu mendominasi kasus-kasus hukum di negeri sahabat Republik BBM ini.
 
Padahal penyelesaiaan kasus-kasus korupsi besar seperti kasus korupsi Soeharto dankroninya, dana B
L
BI dan kasus-kasus korupsi besar lainnya akan mampu menstimulusprogram pembangunan ekonomi di Indonesia.Korupsi memang menjadi persoalan yang krusial yang dihadapi berbagai negara,khususnya negara-negra berkembang. Sistem desentralisasi sebagai alternatif darisistem sentralistik dan otoritarian juga tidak memberi garansi bahwa korupsi semakindapat dicegah dan ditanggulangi. Faktanya adalah korupsi sudah menjadi ³strukturalcoorporate´ korupsi yang terinstitusi dan terkoordinir. Reformasi dan penegakansupermasi hukum tetap digalakkan sebagai upaya mengeliminir semakinberkembangnya tindakan korupsi diindonesia. Persoalan korupsi telah menjadi salahsatu agenda penting dalam kabinet pemerintahan SBY Indonesia bersatu jilid satumaupun jilid dua. Namun demikian kasus korupsi yang ada masih cenderung tebang
 
pilih, walaupun faktanya harus diakui bahwa kasus korupsi diindonesia tetap diperangidan mengalami signifikansi yang cukup positif apabila dilihat dari kuatitas dan kualitaskasus yang terfollow-up.Pasca terpilihnya pemerintahan SBY-Budiono dan terbentuknya kabinetindonesia bersatu jilid dua memberi harapan sekaligus pesimisme dari beberapakalangan masyarakat. Apakah permasalahan korupsi semakin dapat dieleminir dandicegah atau justru sebaliknya ditengah arus globalisasi dan kompleksitas kepentinganaktor-aktor yang ada. Merespon hal tersebut, menarik untuk dikaji lebih jauh sejauhmana penanganan korupsi di indonesia dapat lebih efektif, baik dilihat dari segiperangkat institusi
(
baik secara konstitusional dan operasional) maupun segmentasisubjek terhadap aktor korupsi.Merangkai kata untuk perubahan memang mudah. Namun, melaksanakan rangkaiankata dalam bentuk gerakan terkadang teramat sulit. Dibutuhkan kecerdasan dankeberanian untuk mendobrak dan merobohkan pilar-pilar korupsi yang menjadipenghambat utama lambatnya pembangunan ekonomi nan paripurna di Indonesia.Korupsi yang telah terlalu lama menjadi wabah yang tidak pernah kunjung selesai,karena pembunuhan terhadap wabah tersebut tidak pernah tepat sasaran ibarat ³ yangsakit kepala, kok yang diobati tangan ³. Pemberantasan korupsi seakan hanya menjadikomoditas politik, bahan retorika ampuh menarik simpati. Oleh sebab itu dibutuhkankecerdasan untuk mengawasi dan membuat keputusan politik mencegah makinmewabahnya penyakit kotor korupsi di Indonesia. Tidak mudah memang«.. 

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
bahtiarhusin liked this
Tyo Tika liked this
Bmds Nasional liked this
yusyusyus liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->