P. 1
Proposal Faktor Konversi Tuberkulosis Paru

Proposal Faktor Konversi Tuberkulosis Paru

Ratings: (0)|Views: 14,033|Likes:
Published by Al Asyary

More info:

Published by: Al Asyary on Mar 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2013

pdf

text

original

 
1
I. PENDAHULUANA.Latar Belakang
Penyakit menular masih merupakan suatu masalah. Selama ini kitamengenal bahwa penyakit menular merupakan penyebab kematian terpentingdi negara-negara berkembang seperti halnya negara kita. Dari jumlah seluruhkematian di dunia tahun 2000 yang lalu (55.694.000 kematian), ternyata31,9% kematian disebabkan oleh penyakit menular.Untuk negara dalam kawasan World Health Organization South EastAsia Regional Office WHO SEARO di mana Indonesia adalah salah satuanggotanya, 39% kematian masih disebabkankan oleh penyakit menular serta penyakit lain (Aditama, 2004).Penyakit menular di Indonesia, menunjukkan berbagai masalah baru.Dari berbagai kasus penyakit menular lama yang masih terjadi (
reemerging diseases
) seperti demam berdarah dengue (DBD), diare, tuberkulosis (TB),dan lainnya. Hingga munculnya sejumlah penyakit menular baru (
newemerging diseases
) yang tidak kalah rumitnya seperti wabah flu burung (Eko,2008).Penyakit tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi menular yangmasih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuIndonesia. Badan kesehatan dunia, WHO menyatakan bahwa TB saat inimenjadi ancaman global. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia terinfeksikuman Tuberkulosis (TB) dan 95%-nya berada di negara berkembang serta
 
2
lebih dari 8 juta orang menderita TB setiap tahunnya. Sekitar 2 juta orangmeninggal akibat penyakit ini setiap tahunnya (Aditama, 2003).WHO dalam Annual Report on Global TB Control 2003 menyatakanterdapat 22 negara dikategorikan sebagai
high-burden countries
terhadap TB.Indonesia termasuk peringkat ketiga setelah India dan China dalammenyumbang TB di dunia. Menurut WHO estimasi
insidence rate
untuk  pemeriksaan dahak didapatkan basil tahan asam (BTA) positif adalah 115 per 100.000 (WHO, 2003).Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 estimasi prevalensi angka kesakitan di Indonesia sebesar 8 per 1000 penduduk  berdasarkan gejala tanpa pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan hasil SurveiKesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 TB menduduki ranking ketigasebagai penyebab kematian (9,4% dari total kematian) setelah penyakit sistemsirkulasi dan sistem pernafasan. Hasil survei prevalensi tuberkulosis diIndonesia tahun 2004 menunjukan bahwa angka prevalensi tuberkulosis BasilTahan Asam (BTA) positif secara nasional 110 per 100.000 penduduk (Anonim, 2007).Berdasarkan data Departemen Kesehatan tahun 2009, sejak tahun 2000Indonesia telah berhasil mencapai dan mempertahankan angka kesembuhansesuai dengan target global, yaitu minimal 85% penemuan kasus TB diIndonesia pada tahun 2007 adalah 69%. Keberhasilan pengobatan TB denganDOTS pada tahun 2004 adalah 83% dan meningkat menjadi 90% pada tahun2006 (Anonim, 2009).
 
3
Menurut data Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tenggara, cakupan penemuan baru penderita TB mengalami penurunan, dari 71% pada tahun2006 menjadi 52% pada tahun 2007, dan keberhasilan pengobatan TB denganDOTS pada tahun 2006 mencapai 94%. Sedangkan data terakhir yangdiperoleh, pada tahun 2008, di triwulan I, ditemukan 617 penderita TBC paru,serta terdapat 555 penderita yang mengalami konversi.Di Kota Kendari, data Dinas Kesehatan Kota Kendari tahun 2007,menunjukkan ditemukannya suspek TBC paru sebanyak 2.480 kasus denganBTA positif baru sebanyak 187 kasus (CDR 34,65%) dari jumlah penduduk 222.496 jiwa. Pada tahun 2008 dari triwulan I hingga triwulan III, ditemukan162 penderita TBC paru, serta terdapat 70 penderita yang mengalamikonversi.Risiko penularan setiap tahun (
 Annual Risk of Tuberculosis Infection
=ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-2%. Padadaerah dengan ARTI sebesar 1% berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk,10 orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akanterjadi penderita tuberkulosis, hanya 10% dari yang terinfeksi yang akanmenjadi penderita tuberkulosis. Faktor yang mempengaruhi kemungkinanseseorang menjadi penderita tuberkulosis adalah daya tahan tubuh rendah,diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS disamping faktor pelayanankesehatan yang belum memadai (Sulianti, 2007)Pasien dengan TB sering menjadi sangat lemah karena penyakit kronisyang berkepanjangan dan kerusakan status nutrisi. Anoreksia, penurunan berat

Activity (81)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
nuryant1 liked this
Chicy Hudzaifah liked this
Sadam Fanzr liked this
nuryant1 liked this
Indhysa liked this
Risa Indarahmani liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->