Hikayat Abdulah dan Amerika
Raja Abdul Aziz bin Saud adalah seorang pendekar gurun yang mampumempersatukan suku-suku di Semenanjung Arab pada 1932. Sejak itulah berdiriKerajaan Arab Saudi modern yang sampai kini dikendalikan para pewaris dinastinya.Raja Ibnu Saud terkenal tegas dalam menanamkan disiplin pada anak-anaknya."Saya melatih anak-anak saya berjalan dengan kaki telanjang, bangun dua jamsebelum fajar, makan sedikit, mengendarai kuda tanpa pelana," begitu kalimat yangsering dinukil dari Raja Ibnu Saud.Menurut para ahli Timur Tengah, kalau ada satu dari 37 putra Ibnu Saud yangmewarisi pelajaran itu, dialah Putra Mahkota Saudi Pangeran Abdullah. PangeranAbdullah, putra Fahda, istri kedelapan dari 16 istri Ibnu Saud, merasakan bagaimanakehidupan keras yang dijalaninya. Sejak kecil, dia dijauhkan dari istana, dititipkanpada keluarga suku Badui di tengah padang pasir.Tentu saja, Pangeran Abdullah kini tidak menunggang kuda ke mana-mana, apalagitanpa pelana. Dia menyetir Rolls Royce dengan nomor registrasi 001. Toh, citranyaterbilang "bersahaja" dibanding para pangeran Saudi lainnya yang rata-rataflamboyan. Perokok berat yang masih tampak gagah di usia 79 tahun ini belum lamaberselang menyambut para wartawan untuk jumpa pers dengan mengenakan sepatuolahraga.Salah satu contoh indikasi ketangguhan Abdullah adalah ketika menghadapi kritikpers Amerika yang meragukan kesungguhannya bekerja sama dalam investigasiterhadap serangan 11 September. Kampanye media Barat itu terhadap Saudi itu,katanya, tak lebih dari manifestasi kebencian yang mengakar dalam terhadap Islam."Komitmen pada Islam dan tanah air tak perlu diperdebatkan," ujarnya.Sebagian analis Timur Tengah di Washington mulai mengecapnya sebagai anti-Amerika. Walau begitu, banyak juga yang melihat Abdullah sebagai orang yang tepatpada saat yang tepat untuk melindungi kepentingan Arab Saudi, dan pada gilirannyakepentingan AS.James Akins, bekas duta besar AS untuk Saudi, melihat Abdullah punya ciri-ciri yangdiperlukan untuk mendapat penghormatan dari dunia Arab dan Islam. "Abdullahadalah seorang nasionalis Arab dan seorang muslim yang baik, tidak korup, danpopuler," puji Akins."Memang banyak yang mengatakan Abdullah anti-Amerika. Sejujurnya, saya tidakmelihat demikian," F. Gregory Gause, Direktur Studi Timur Tengah di University of Vermont, menimpali. Menurut dia, Abdullah memang punya perhatian yang lebihterhadap isu Palestina dibanding orang-orang lain dalam keluarganya. "Pada tingkattertentu, orang melihatnya sebagai anti-Amerika," ujar Gause.Gause punya contoh sederhana. Pada musim panas lalu, Saudi mengundangperusahaan-perusahaan asing untuk ikut tender proyek gas senilai US$ 50 miliar.Perusahaan-perusahaan Amerika melenggang dan meraup banyak porsi dari bisnisini. "Jika Abdullah memang anti-Amerika, keadaannya tidak akan seperti itu," kilahGause.
the christian science monitor/bbc/washington post/yanto musthofa