Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
71Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
HAK ASASI MANUSIA MENURUT AGAMA ISLAM

HAK ASASI MANUSIA MENURUT AGAMA ISLAM

Ratings: (0)|Views: 4,703 |Likes:
NIE DARI BDK MKTB... TUK SUBJECT TITAS
NIE DARI BDK MKTB... TUK SUBJECT TITAS

More info:

Published by: Fatiah Mohamed Yusoff on Mar 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

 
Hak kemanusiaan merujuk kepada hak yang dimiliki oleh semua insan. Konsep Hak kemanusiaan adalah berdasarkan andaian bahasa semua insan memiliki satu bentuk hak yang sama, sebagaimana mereka memiliki indentiti insan, yang tidak dipengarahui olehfaktor tempatan, perkauman dan kewarganegaraan.Pada dasarnya, Hak kemanusiaan boleh difahamkan dari dua segi, yakni dari segi perundangan dan juga dari segi moral. Dari segi perundangan, Hak kemanusianmerupakan satu bentuk hak yang dinikmati oleh seorangwarganegara seperti apa yang telah termaktub dalamundang-undangnegara berkenaan. Contohnya,dalam perlembagaan malaysiaterdapat penerangan mengenai hak kemanusiaan yang terlindungdi bawah perlembagaan
. Percabulan hak kemanusiaan yang berkenaan, mungkin akanmembawa kepada tindakan undang-undang yang sewajarnya. Penakrifan hak  kemanusiaan dari segi undang-undang adalah berbeza dari satunegarake satu negarayang lain.Dari satu segi moral, Hak Kemanusiaan merupakan satu tanggapanmoral yang didukung oleh anggota masyarakat. Sehubungan dengan perkara ini, anggota masyarakat akanmengakui wujudnya hak tertentu yang
harus
dinikmati oleh setiap individu, yangdianggap sebagai "sebahagian daripada sifatnya sebagai manusia", walaupun ia mungkintidak termaktub dalam undang-undang. Maka anggota-anggota masyarakat berkenaanakan cuba megelakkan diri daripada mencabuli hak masing-masing dengan penuh perasaan moral.Kewujudan, keabsahan dan isi kandungan Hak kemanusiaan telah menjadi isu pendebatan dalam bidang falsafahdansains politik .Dari segi perundangan, Hak  kemanusiaan telah termaktub dan diberi takrifan dalam undang-undang antarabangsa, dan  juga dalam undang-undang bagi sesetengah negara. Walaupun begitu, cara penakrifandan pelakasaan hak kemanusiaan masih memperlihatkan kepelbagaian.
Konsep Hak Asasi Manusia
Konsep Hak Asasi Manusia dalam UU. Nomor 39 Tahun 1999: Telaah dalamPerspektif IslamCatatan Pembuka
Dewasa ini hak asasi manusia tidak lagi dipandang sekadar sebagai perwujudan pahamindividualisme dan liberalisme seperti dahulu. Hak asasi manusis lebih dipahami secarahumanistik sebagai hak-hak yang inheren dengan harkat martabat kemanusiaan, apa punlatar belakang ras, etnik, agama, warna kulit, jenis kelamin dan pekerjaannya. Konsep
 
tentang hak asasi manusia dalam konteks modern dilatarbelakangi oleh pembacaan yanglebih manusiawi tersebut, sehingga konsep HAM diartikan sebagai berikut:“Human rights could generally be defined as those rights which are inherent in our natureand without which we cannot live as human beings”Dengan pemahaman seperti itu, konsep hak asasi manusia disifatkan sebagai suatucommon standard of achivement for all people and all nations, yaitu sebagai tolok ukur  bersama tentang prestasi kemanusiaan yang perlu dicapai oleh seluruh masyarakat dannegara di dunia.Pada tataran internasional, wacana hak asasi manusia telah mengalami perkembanganyang sangat signifikan. Sejak diproklamirkannya The Universal Declaration of HumanRight tahun 1948, telah tercatat dua tonggak historis lainnya dalam petualangan penegakan hak asasi manusia internasional. Pertama, diterimanya dua kovenan(covenant) PBB, yaitu yang mengenai Hak Sipil dan Hak Politik serta Hak Ekonomi,Sosial dan Budaya. Dua kovenan itu sudah dipemaklumkan sejak tahun 1966, namun baru berlaku sepuluh tahun kemudian setelah diratifikasi tiga puluh lima negara anggotaPBB. Kedua, diterimanya Deklarasi Wina beserta Program Aksinya oleh para wakil dari171 negara pada tanggal 25 Juni 1993 dalam Konferensi Dunia Hak Asasi Manusia PBBdi Wina, Austria. Deklarasi yang kedua ini merupakan kompromi antar visi negara-negara di Barat dengan pandangan negara-negara berkembang dalam penegakan hak asasi manusia.Di Indonesia, diskursus tetang penegakan hak asasi manusia juga tidak kalah gencarnya.Keseriusan pemerintah di bidang HAM paling tidak bermula pada tahun 1997, yaitusemenjak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) didirikan setelahdiselenggarakannya Lokakarya Nasional Hak Asasi Manusia pada tahun 1991. Sejak itulah tema tentang penegakan HAM di Indonesia menjadi pemebicran yang serius dan berkesinambungan. Kesinambungan itu berwujud pada usaha untuk mendudukkan persoalan HAM dalam kerangka budaya dan sistem politik nasioanal sampai pada tingkatimplementasi untuk membentuk jaringan kerjsama guna menegakkan penghormatan dan perlindungan HAM tersebut di Indonesia. Meski tidak bisa dipungkiri adanya pengaruhinternasional yang menjadikan hak asasi manusia sebagai salah satu isu global, namun penegakan hak asasi manusia di Indonesia lebih merupakan hasil dinamika intrenal yangmerespon gejala internasional secara positif.Adalah pada tahun 1999 lah, Indonesai memiliki sistem hukum yang rigid dan jelasdalam mengatur dan menyelesaikan persoalan pelangaran HAM di Indonesia.Diberlakukannya UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia kendati agak terlambat merupakan langkah progresif dinamis yang patut dihargai dalam merespon isuinternasional di bidang hak asasi manusia walaupun masih perlu dilihat dan diteliti lebih jauh isinya.Beberapa pertanyaan mendasar muncul pada waktu itu sampai saat ini. Bagaimanakonsep HAM menurut undang-undang tersebut? Sejauh mana memiliki titik relevansi
 
dengan dinamisasi masyarakat? Bagaimana penegakannya selama ini? Seberapa besar iamengakomodasi nilai-nilai universal?Tulisan singkat ini tidak akan menjawab semua persoalan di atas, tetapi hanya akanmencoba menelisik persoalan HAM di Indonesia dengan melakukan pengujian terhadapinstrumen UU no. 39 tahun 1999 tentang HAM secara sederhana dan melakukan studikomparatif dengan konsep HAM dalam Islam mengingat keberadaan Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim. Pembahasan akan diawali dengan membeberkan konsepHAM dalam kerangka UU. No. 39 tahun 1999, dilanjutkan dengan HAM dalam perspektif Islam dan diakhiri dengan analisis berupa kajian UU tentang HAM ditinjaudalam perspektif Islam.
Konsep HAM dalam UU. No. 39 tahun 1999
Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaanmanusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-Nya yangwajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dansetiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia (Pasal 1angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 Tahun 2000 tentangPengadilan HAM).Pelanggaran Hak Asasi Manusia adalah setiap perbuatan seseoarang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yangsecara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut Hak Asasi Manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang, dantidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yangadil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku (Pasal 1 angka 6 UU No. 39Tahun 1999 tentang HAM).Dalam Undang-undang ini pengaturan mengenai Hak Asasi Manusia ditentukan dengan berpedoman pada Deklarasi Hak Asasi Manusia PBB, konvensi PBB tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita, konvensi PBB tentang hak-hak anak dan berbagai instrumen internasional lain yang mengatur tentang Hak AsasiManusia. Materi Undang-undang ini disesuaikan juga dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan hukum nasional yang berdasarkan Pancasila, UUD 45 dan TAP MPR RI Nomor XVII/MPR/1998.Hak-hak yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia terdiri dari:1. Hak untuk hidup. Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup,meningkatkan taraf kehidupannya, hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin serta memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat.2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. Setiap orang berhak untuk membentuk kelaurga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang syah atas kehendak yang bebas.3. Hak mengembangkan diri. Setiap orang berhak untuk memperjuangkan hak 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->