Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
35Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Asma Bronkial

Asma Bronkial

Ratings: (0)|Views: 869 |Likes:
Published by mint_melody

More info:

Published by: mint_melody on Mar 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

pdf

text

original

 
ASMA BRONKIAL PADA PASIEN DENGAN FAKTOR RISIKO RHINITIS ALERGIKAOleh: Putu Daivi PrakritiBAB IPENDAHULUAN1.1. LATAR BELAKANGTelah lama diketahui bahwa penyakit pada saluran pernafasan atas dan bawah yangsebelumnya diperlakukan berbeda ternyata memiliki hubungan yang sangat erat satusama lain. Berbagai penelitian mengenai hubungan antara penyakit-penyakit saluran pernafasan atas dan bawah telah dilakukan, namun, penelitian mendalam baru dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.1-3 Berbagai konsep dan istilah pun digunakan untuk menggambarkan hubungan erat antara penyakit yang melibatkan saluran pernafasan atas dan bawah. Contohnya, “Allergic Respiratory Syndrome” (ARS) yang digunakan oleh dokter Alkis Togias 3, “one airway, one disease”2,4, “chronic allergic respiratory syndrome”1,4,5.Asma merupakan manifestasi alergi berat yang melibatkan saluran pernafasan bawah.6 Prevalensi asma terus meningkat dari tahun ke tahun.2,6,7 Asma menimbulkan masalah biaya dan dapat mengganggu tumbuh kembang anak. Asma juga dapat merusak fungsi sistem saraf pusat dan menurunkan kualitas hidup penderitanya.6 Sebagaimanamanifestasi alergi lainnya, asma juga dapat diderita seumur hidup dan tidak dapat disembuhkan secara total. upaya terbaik yang dapat dilakukan untuk menanggulangi permasalahan asma hingga saat ini masih berupa upaya penurunan frekuensi danderajat serangan, sedangkan penatalaksanaan utama adalah menghindari faktor penyebab.6Hipotesa mengenai hubungan antara asma dengan lesi pada nasal dan sinus nasalistelah diajukan sejak tahun 1931 oleh dokter Frances Rackeman.1 Penelitian-penelitian terbaru banyak yang membahas tentang hubungan antara asma dengan rhinosinusitis dan rhinitis alergika1,8, baik secara terpisah ataupun bersamaan. Banyak pula yang membahas mengenai hubungan timbal-balik antara rhinitis alergika dan asma, namun, dalam paper ini penulis hanya akan membahas secara khusus mengenai hubungan rhinitis alergika dengan asma, terutama pengaruh rhinitis terhadap asma, juga terhadap penatalaksanaan asma di Indonesia.Sejak akhir abad 19, hubungan antara rhinitis alergika dan asma telah menarik perhatian pada ahli. Berbagai hipotesa dari beragam penelitian telah diajukan, namun, hingga kini masih sulit untuk menyatakan secara pasti mekanisme yang menyebabkan hubungan timbal-balik antara rhinitis alergika dan asma.2Berbekal penelitian-penelitian yang telah dilakukan, pada tahun 1999, World Health Organization (WHO) mengembangkan suatu panduan mengenai rhinitis alergika danpengaruhnya terhadap asma, yaitu ARIA (Allergic Rhinitis Impact on Asthma). Dalam ARIA disebutkan pentingnya melakukan screening asma pada penderita rhinitis alergika dan sebaliknya. ARIA juga menyarankan bahwa sebaiknya digunakan strategiterpadu untuk menangani masalah alergi pada saluran pernafasan bagian atas danbawah.4,9,10,11Menurut KEPMENKES RI Nomor 1023/MENKES/SK/XI/2008, standar diagnosa dan penatalaksanaan asma di Indonesia masih berpatokan pada GINA (Global Initiative for Asthma), meski studi lain berpendapat bahwa PNAA (Pedoman Nasional Asma Anak) lebihcocok digunakan di Indonesia karena tidak semua fasilitas yang digunakan dalam GINA tersedia di Indonesia.7,12 Dengan adanya perkembangan-perkembangan mengenaiasma dan hubungannya dengan rhinitis alergika seperti yang telah disebutkan sebelumnya, seharusnya dibuat konsep baru yang menegaskan mengenai diagnosa dan penatalaksanaan asma dengan memasukkan konsep dari ARIA. 1.2. IDENTIFIKASI MASALAH1.2.1. Mekanisme apakah yang mendasari hubungan antara asma dan rhinitis alergika?1.2.2. Apakah implikasi rhinitis alergika terhadap asma?1.2.3. Bagaimanakah penatalaksanaan asma dengan rhinitis alergika di Indonesia?
 
1.3. TUJUAN1.3.1. Untuk mengetahui mekanisme yang mendasari hubungan antara asma dan rhinitis alergika1.3.2. Untuk mengetahui implikasi rhinitis alergika terhadap asma1.3.3. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan asma dengan rhinitis alergikadi Indonesia1.4. MANFAAT1.4.1. Untuk meningkatkan ilmu pengetahuan terutama dalam hal studi literatur, baik bagi penulis maupun pembaca dan masyarakat luas.1.4.2. Untuk memberi sumbangsih bagi kemajuan ilmu kedokteran, terutama dalam diagnosa dan penanganan asma dengan memperhitungkan pengaruh adanya komorbiditas berupa rhinitis alergika. BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1.MEKANISME YANG MENDASARI HUBUNGAN ANTARA ASMA DAN RHINITIS ALERGIKA2.1.1. Hubungan Anatomis dan HistologisSecara anatomis, asma merupakan suatu reaksi hipersensitifitas yang melibatkan bronkus (saluran pernafasan bawah), sedangkan rhinitis alergika merupakan reaksihipersensitifitas yang melibatkan saluran pernafasan atas. Secara histologis, mukosa dan persarafan saluran pernafasan atas dan bawah merupakan suatu kontinuitas.1,9Gambar 1. Anatomi saluran pernafasan132.1.2. Respon InflamatorikHubungan erat dimiliki asma dan rhinitis alergika dalam mekanisme inflamasinya yang melibatkan sel-sel inflamatorik yang sama (sel mast, eosinophil, dll), yangtentunya menghasilkan mediator-mediator yang sama (Ig-E, IL-5, leukotrin, dll).Tipe respon inflamasi yang dihasilkan kedua jenis alergi itu pun serupa, melibatkan respon inflamasi awal (early phase response) dan lanjutan (late phase response).1,2,5,9,10Hubungan yang sangat erat juga dibuktikan dengan ditemukannya bronchial hyperresponsiveness (berhubungan dengan masuknya sel mast ke otot polos bronchial) padapasien dengan rhinitis alergika. Salah satu sel inflamatorik penting dalam pathogenesis rhinitis alergika, yaitu eosinophil, juga ditemukan di mukosa nasalis dari pasien asma. Demikian pula sebaliknya.2,5,9,10 Gambar 2. Patogenesis asma14 Gambar 3. Pathogenesis rhinitis alergika152.1.2. Systemic / Nasobronchial CrosstalkTeori yang paling banyak diterima menyebutkan adanya keterkaitan sistemik dalamrespon alergi lokal tersebut (systemic/nasobronchial crosstalk). Dari berbagai penelitian telah diketahui bahwa apabila mukosa nasal diprovokasi dengan allergen
 
, terjadi perubahan resistensi udara pada saluran pernafasan bawah. Ini menjadidasar hipotesa adanya keterlibatan proses sistemik dalam rhinitis alergika dan asma.1,2 Keterlibatan proses sistemik tersebut dibuktikan pula dengan studi padaproduksi sel-sel progenitor inflamasi oleh sumsum tulang pada saat eksaserbasi akut dari respon alergi.1,5,9,10Berikut ini adalah pathogenesis nasobronchial crosstalk yang diambil dari studiyang dilakukan oleh Braunstahl dan Hellings2: Gambar 4. Nasobronchial crosstalk22.1.3. Hubungan Vertikal dan Horizontal dalam Rhinitis Alergika dan AsmaTeori yang diajukan oleh dokter Alkis Togias menyebutkan adanya hubungan vertikal dan horizontal antara rhinitis alergika dan asma. Hubungan horizontal yang terjadi adalah semakin berat gejala rhinitis yang muncul, semakin besar kemungkinanmenderita asma. Sedangkan hubungan vertikal yang dimaksud adalah hal-hal yang terjadi di saluran pernafasan atas akan berpengaruh negatif terhadap saluran pernafasan bawah.3Hubungan vertikal tersebut ditegaskan dengan adanya beberapa studi yang menyebutkan bahwa peran mukosa nasalis dalam memfilter, menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk ke saluran pernafasan bawah menjadi terganggu akibat rhinitis alergika. Selain itu, kongesti nasal yang terjadi pada rhinitis alergika sering membuat penderitanya terpaksa bernafas melalui mulut.1,2,5 Bahkan, sekret nasal yang mengandung mediator-mediator inflamatorik dapat secara langsung memasuki saluran pernafasan bawah dan menimbulkan reaksi inflamasi.3,5 Inhalasi allergen jugadapat menimbulkan perubahan-perubahan inflamatorik pada saluran pernafasan atasdan bawah secara bersamaan.22.1.4. Refleks-Refleks NeuralDiperkirakan bahwa ada keterlibatan sistem saraf dalam hubungan antara rhinitisalergika dan asma. Refleks-refleks yang berperan dalam keterlibatan itu adalah refleks nasobronchial dan bronchial. Kedua refleks tersebut terjadi akibat stimulasi saraf sensoris nasal. Bronkokonstriksi yang kemudian timbul melalui jalur saraf parasimpatis disebut refleks nasobronchial, sedangkan peningkatan respon bronkus melalui sistem saraf pusat disebut refleks bronchial.32.2. IMPLIKASI RHINITIS ALERGIKA TERHADAP ASMA2.2.1. Rhinitis Alergika Sebagai Komorbid AsmaRhinitis alergika merupakan kondisi komorbid yang umum ditemukan pada pasien dengan asma.1,9 Prevalensi rhinitis alergika pada pasien asma mencapai 80%.1,10 Bahkan, ada pula studi yang menyatakan bahwa 50-100% pasien asma juga menderita rhinitis alergika.4,9 Hubungan yang demikian juga berlaku sebaliknya. Pada pasien rhinitis alergika, prevalensi asma dapat mencapai 40%, bahkan 58% pada studi lain.1,10

Activity (35)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Dwi Ari liked this
Vellysia Liem liked this
Kiki Ekawati liked this
Arif Hermawan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->