Kondisi objektif negeri besar yang bernama Indonesia ini, sesungguhnya amat rentan.Memang Indonesia adalah negara besar, berbeda dengan negara lain yang mana pun. Ini perludicamkan, bukan untuk menggalang rasa chauvinistis atau kesombongan, tetapi justru untuk membangun kesadaran bertanggungjawab yang rendah hati bagi seluruh rakyatnya. Apabila kitamelihat negeri ini “cuma” seperti Singapura, Taiwan, atau Korea Selatan, tanpa maksudmengecilkan keberhasilan mereka, akibatnya bangsa ini bisa salah jalan dalam usaha mencariterapi krisis multi dimensi yang melilitnya. Indonesia besar bukan hanya dalam angka-angkastatistik, seperti jumlah penduduk. Atau luas negara yang meliputi hampir seluruh Eropa, atau pantai terpanjang di dunia, dan seterusnya. Tetapi, ia juga besar di dalam skala jumlah permasalahan mendasar yang harus dihadapi setiap saat. Artinya, sewaktu-waktu bisa muncul, bahkan meletup dalam besaran yang sulit diduga, yang mengancam persatuan-kesatuan bangsa.Riset Douglas E. Ramage dalam ”Politics in Indonesia: Democracy, Islam and Ideology of Tolerance” (1995) mengungkapkan, bahwa Indonesia adalah negara yang terlalu meributkanmasalah ideologi. Indonesia, terutama para elitenya, sangat peka terhadap masalah ideologisehingga seringkali terpenjara dalam polemik tak berkesudahan. Namun, meski permasalahanelementer itu begitu besarnya, sejarah telah membuktikan bangsa ini mampu mengatasinyadengan tangan sendiri. Falsafah kita Pancasila dan selalu ingin memelihara semangat gotong-royong serta mengedepankan mufakat dalam musyawarah, tetapi kita seringkali suka melakukanrekayasa. Setelah hampir 62 tahun merdeka, telah muncul tantangan terhadap Pancasila, karenakehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sudah semakin kompleks. Ini berarti perludicari bentuk-bentuk baru, suatu relasi sosial ke masa depan yang lebih baik.Dalam situasi seperti ini, tepat kiranya apa yang disampaikan oleh Sri Sultan HamengkuBuwono X ketika membuka Seminar Nasional ”Kapasitas Pancasila dalam Menghadapi KrisisMultidimensi” (LPPKB, 2003), bahwa pengamalan nilai-nilai Pancasila sebagai semen perekat persatuan-kesatuan bangsa menjadi teramat penting. Karena Pancasilalah yang harus menjadisumber sekaligus landasan dan perspektif dari persatuan-kesatuan bangsa. Dengan landasanPancasila itu pula, maka usaha untuk lebih memperkokoh rasa persatuan-kesatuan bangsamemperoleh landasan spiritual, moral dan etik, yang bersumber pada kepercayaan kepadaKetuhanan Yang Maha Esa.Sejalan dengan paham kebangsaan, kita juga menentang segala macam bentuk eksploitasi, penindasan oleh satu bangsa terhadap bangsa lainnya, oleh satu golongan terhadap