Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
14Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Paper MPPT

Paper MPPT

Ratings: (0)|Views: 1,907|Likes:
Published by SAEFUL

More info:

Published by: SAEFUL on Mar 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2012

pdf

text

original

 
2
POSISI LEMBAGA PENGUMUMAN DALAM SISTEM PENDAFTARAN TANAHDI INDONESIA(SAEFUL ZAFAR – 23 Maret 2010) I.PENDAHULUANMasih ingat kasus sengketa tanah di Meruya Selatan, Jakarta Barat beberapatahun silam (1999)? Ketika itu ramai diberitakan perebutan tanah seluas 44 hektar antaraPT Portanigra dan para warga yang sudah memiliki sertifikat hak milik atas tanahtersebut. Sampai sekarang pun kasus tersebut belum tuntas.Kasus ini bermula pada 1972. Waktu itu, Haji Djuhri bin Haji Geni, Yahya binHaji Geni, dan Muhammad Yatim Tugono membeli tanah-tanah girik dari warga MeruyaUdik, yang kini menjadi Kelurahan Meruya Selatan. Seluruh tanah ini mencapai luas 78hektare dan kemudian dijual dengan harga Rp 300 per meter persegi ke perusahaan properti milik Beny Rachmat itu.Masalah muncul ketika Portanigra menuduh tiga mandor itu belakanganmembuat girik palsu dan menjual lagi tanah tersebut ke beberapa pihak. Kasus pemalsuan girik ini ditemukan oleh Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Pusat pimpinan Laksamana Sudomo pada 1978.Dalam proses pemeriksaan, tiga mandor tadi mengaku menjual lagi girik tersebut kepada beberapa perusahaan. Di antaranya ke pemerintah DKI Jakarta pada1974 seluas 15 hektare, kepada PT Intercone (2 hektare) dan PT Copylas (2,5 hektare) pada 1975, serta kepada BRI seluas 3,5 hektare. Dimana pada 200 ketika perkara sampaidi Mahkamah Agung. Mahkamah memenangkan Portanigra. Putusan perkara pidana dan bukti jual-beli yang jadi pegangan putusan kasasi. Sehingga Portanigra menjadi pihak yang berhak atas tanah di lokasi sengketaKantor Pertanahan Jakarta Barat sering disebut-sebut ikut punya andil membuatmasalah ini jadi kisruh. Banyak anggapan jika dokumen tanah berupa hak girik dipegangPT Portanigra dan tanah tersebut berstatus sengketa, mestinya ribuan warga itu tak bisamemiliki sertifikat hak milik. Mestinya BPN tidak mengeluarkan dokumen kepemilikantanah di atas lahan yang terlibat sengketa pada 1977.Padahal jika melihat alas hak yang ada seharusnya hal tersebut diatas tidak akanterjadi, karena karena berasal dari tanah girik maka dalam proses penerbitansertipikatnya sudah ada lembaga pengumuman selama 60 (enam puluh) hari yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang berkepentingan
 
2
terhadap tanah tersebut untuk melakukan gugatan atau keberatan, sehingga proses penerbitan sertipikatnya dapat ditinjau kembali.Hal ini seolah-olah menimbulkan pertanyaan sejauh manakah lembaga pengumuman memiliki kekuatan hukum dalam menjadi dasar penerbitan suatu sertipikat,apabila dalam kenyataannya masih banyak berbagai kasus yang muncul pada berbagai bidang tanah yang dalam proses pendaftaran telah melalui lembaga pengumumanterlebih dahulu.II.SISTEM PENDAFTARAN TANAH DI INDONESIASistem pendaftaran tanah, didunia ini dikenal ada dua model atau jenis pendaftaran tanah , yaitu: pertama, disebut dengan model pendaftaran akta atau "
registration of deeds
" yang oleh beberapa penulis menggunakan istilah pendaftaran tanahdengan stelsel negatif atau pendaftaran tanah negatif dan kedua, pendaftaran hak atau"
registration of title
", dimana lazim pula disebut dengan nama " pendaftaran denganstelsel positif" ataupun seringkali disebut "
 system Torrens
". Hal ini diungkapkan olehRowtow Simpton, menyebutkan:"
… some writers do not use our terminology of registration of deed and registration of title, but distinguish between negative and positive system of registration.
Kedua system pendaftaran tanah ini mempunyai perbedaan – persamaan dankelebihan - kekurangan satu dengan yang lainnya. Secara umum perbedaan terlihat padawujud dokumen formal yang dipergunakan sebagai instrument atau alat pembuktiankepemilikan hak atas tanah. Wujud dokumen formal dalam system pendaftaran tanahdengan stelsel negative sebutannya adalah " akta " kepemilikan sedang wujud dokumendalam model pendaftaran tanah dengan stelsel positif sebutannya adalah berupa "sertipikat" hak. Kedua wujud atau bentuk formal dari kedua model tersebut secarayuridis sangat berpengaruh terhadap eksistensi kekuatan hukum dari hak kepemilikanhak atas tanah. Khusus untuk pendaftaran tanah akta para penulis di Indonesia lebihlazim menggunakan terminology sistem pendaftaran negatif atau stelsel negatif untuk  penyebutan sistem pendaftaran akta, seperti Abdurrahman, AP. Parlindungan, demikian juga Boedi Harsono, lebih cenderung menggunakan istilah tersebut.Karakter yuridis yang spesifik dari sistem pendaftaran akta (
 Registration of deeds
) atau sistem pendaftaran negatif ini adalah bahwa dokumen tertulis atau akta yangdibuat oleh para pihak ( pemilik yang mengalihkan ) yang dilakukan atas bantuan pejabatumum yang berwenang (seperti Notaris atau pejabat lain seperti ahli hukum) didaftarkan
 
2
kepada pejabat yang diberikan wewenang untuk itu agar dicatatkan haknya sebagai pemegang hak atas tanah yang baru, dan oleh pejabat pencatat tersebut dicatatkan dalamregister ( pencatatan buku tanah ), tanpa melakukan penelitian atas kebenaran akta ataudokumen tertulis yang diserahkan. Kelebihan dari sistem pendaftaran tanah akta iniadalah adanya jaminan yang diberikan kepada pemilik yang sebenarnya, dengan kata lain bahwa kesempatan bagi pemilik atau yang berhak atas sebidang tanah untuk mengadakan perlawanan atau tuntutan hukum terhadap pihak-pihak lain yang telah mendaftarkan bidang tanah tersebut. Hal mana tuntutan atau klaim atas bidang tanah tersebut melalui peradilan dengan alat bukti yang menunjukkan memang yang lebih berhak. Sebaliknya bahwa dalam system pendaftaran dengan stelsel negatif (akta) dapat diketemukan beberapa kelemahan yang oleh beberapa pakar dinilai mendasar. Adapun kelemahannyaantara lain adalah (Boedi Djatmiko, 2008) :1.Dalam sistem pendaftaran akta lebih merefleksikan adanya ketidak adanya jaminankepastian hak dan hukum bagi mereka pemegang hak atas tanah dan bagi mereka beretiket baik atas sebidang tanah yang didaftarkannya.
2.
Sifat pasif dari pejabat pendaftaran tanah. Artinya bahwa pejabat pendaftaran tanahtidak melakukan pengujian kebenaran data (
akta
) yang disampaikan oleh pemohon,sehingga posisi hukum menjadi lemah.3.Dalam sistem pendaftaran akta ini kekuatan hukum akte yang didaftarkan tidak mempengaruhi kekuatan hukum akta lainnya. Bahwa pendaftaran akte hanyalah penetapan sekala prioritas sebagai referensi waktu saat ( tanah ) tersebut didaftarkandan bukan waktu untuk pelaksanaannya.4.Bahwa suatu akta bukanlah bukti hak, namun hanyalah menunjukan adanya pencatatan selesainya transaksi dan beralihnya benda yang ditransaksikan.Sebaliknya, pertanyaan selanjutnya adalah lalu bagaimana dengan Sistem pendaftaran hak (
registration of title
) atau sistem stelsel positif atau sistem Torrens(
Torrens System
).Bahwa sistem pendaftaran ini merupakan perbaikan atau penyempurnaan atassistem pendaftaran sebelumnya. Sistem ini merupakan suatu pencatatan hak bai pencatatannya maupun penyimpanannya menjadi kewenangan dari lembaga publik.Karakter yuridis yang spesifik dari sistem pendaftaran positif, ini adalah (BoediDjatmiko, 2008) :

Activity (14)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Nanang Wijanarko liked this
andiasnaedi liked this
yudharudi liked this
benkbzm liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->