yang sehat dan yang sakit, dan dibenarkan sesuai dengan bioetika ilmu kedokteran. Namun penelitian pada manusia tidak boleh dilakukan bila membahayakannya. Zat tambahanmakanan yang dengan sengaja dimasukkan dalam makanan kita, misalnya dalam proses pembuatan makanan, juga dapat dinilai secara langsung pada manusia, setelah mengalamiuji pendahuluan pada hewan coba dan dinyatakan cukup aman. Perlu dipahami bahwamenjamin keamanan suatu xenobiotik secara tuntas tidaklah mungkin, karena pembuktianhal yang negatif tidaklah mudah. Karena tidak ada yang dapat menjamin bahwa semua testelah dilakukan. Sebaliknya menunggu hingga "semua" tes telah dilakukan akanmembutuhkan waktu yang tidak terhingga lamanya. Hal ini menyebabkan bahwa kita harusdapat membuat kesimpulan dengan data yang terbatas, sehingga "aman" berarti reasonablysafe, dengan pengetahuan yang ada pada waktu itu. Perubahan penilaian tentu dapatterjadi bila ditemukan fakta atau data lain di kemudian hari.Untuk berbagai zat kimia yang memang dengan sengaja akan diberikan padamanusia harus dilakukan pengujian pada manusia. Namun penggunaan manusia sebagai"kelinci percobaan" baru dapat dilakukan setelah penilaian yang seksama pada hewan dandinyatakan "cukup aman". Dalam kenyataan, hampir tidak pernah terjadi kecelakaan dalam percobaan-percobaan manusia seperti itu, karena dilakukan melalui protokol dan pengawasan yang ketat. Bila percobaan-percobaan ini menunjukkan keamanan yang dapatdiperhitungkan untuk seluruh masyarakat, barulah ijin beredar dapat diberikan oleh BadanPengawas yang lazimnya dikenal dengan Food and Drug Agency. Setelah dipasarkan masihdilakukan berbagai penelitian untuk mengkonfirmasi keamanan xenobiotik tersebut.Untuk jenis xenobiotik yang seharusnya tidak boleh ada dalam makanan, tetapikarena keadaan terpaksa harus kita terima, tidak dapat dilakukan penelitian prospektif dengan memberikannya kepada sukarelawan sehat. Hal ini dianggap tidak etis. Contohxenobiotik seperti itu ialah : insektisida yang digunakan dalam agraria sehingga tercampur dengan bahan makanan kita, kadmium, timah hitam, merkuri, aflatoxin, dsb. Untuk zatsejenis ini perlu dilakukan penilaian melalui hasil percobaan pada hewan. Hal ini dikenaldengan "extrapolasi". Kadang-kadang memang diperoleh data yang berasal dari manusia,yaitu bila terjadi keracunan pada manusia seperti pada kasus merkuri yang terkandung dalamikan di Jepang, keracunan insektisida, polychlorinated biphenyls, dsb. Pada setiap musibah
2
Add a Comment