PendahuluanPenelitian yang dilakukan oleh para ahli antropologi mengenai kebudayaandi Indonesia sudah banyak. Tulisan-tulisan para ahli tersebut kebanyakan membahas pembentukan keluarga beserta serangkaian upacara di sekitarnya, upacfara-upacara lingkaran hidup serta tradisi dan budaya secara komprehensif.Secara konseptual teoritik, upacara perkawinan merupakan bagian dari teori evolusi pembentukan keluarga, yang didalamnya didapati ada tahapan didalam proses atau evolusi pembentukan keluarga, yaitu dari promoskuitas sampai pada perkawinan eksogami dan endogami. Di dalam kegiatan perkawinan pada serangkaian upacara lingkaran hidup, dalam kaitannya dengan berbagai keyakinan yang menyelimutiserangkaian upacara tersebut, ada teori asas religi yang terfokus pada sikap danupacara religi. Pada dasarnya, inti dari berbagai upacara tersebut adalah dinyatakan dalam konsepsi orang jawa sebagai slametan, yang didalamnya mengandung konsepsi ceremonial fund yang bervariasi menurut jenis dan bentuknya.Setiap tradisi akan mengalami perubahan ketika harus berhubungan dengandunia sosial yang terus berubah. Untuk memahami hal ini maka ada konsepsi teoritik yang dikemukakan oleh Suparlan, mengenai tahapan dari disorganisasi ke integrasi, sedangkan Kleden menyatakan, Perubahan kebudayaan dapat dilihat dari jurusan nilai melalui tahapan integrasi disintegrasi ke reintegrasi, dari sudut makna maka dapat dilihat dari orientasi disorientasi ke reorientasi, dari sudut interaksi maka dari sosialisasi dissosialisasi ke resosialisai, dan aspek kelembagaan maka perubahan itu melalui organisasi disorganisasi ke reorganisasi. Selanjutnya, perubahan juga dilihat dari konsep cultural change menurut Malinowski dan Zaniecky, mengenai disorganisasi dan reorganisasi.Namun demikian, setiap perubahan menyisakan sesuatu yang langgeng. Dalam kerangka ini, konsepsi Sorokin, yang menyatakan bahwa selalu ada elemen yang berlaku langgeng di setiap perubahan atau continuity wthin change, juga dapat dijadikan sebagai kerangka untuk memahami berbagai perubahan dan keajegan didalam kebudayaandan kehidupan manusia, termasuk mengenai perubahan didalam aktualisasi kebutuhan manusia.Pada dasarnya, manusia mempunyai tiga kebutuhan dasar dalam kehidupannya, yaitukebutuhan fisik, kebutuhan social, dan kebutuhan integratif. Salah satu kebutuhan manusia tersebut ialah hasrat untuk reproduksi, memperoleh kenikmatan, kehangatan, kasih saying, dan sebagainya melalui pranata perkawinan. Perkawinan tersebut terjadi manakala kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) dan orang-orangyang terlibat didalamnya mengikuti suatu persetujuan terhadap kedua orang tersebut untuk menjadi pasangan suami istri. Dalam suatu perkawinan, peristiwa yang sangat menentukan ialah meminang.Dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli, dapat digambarkan beberapa penelitian yang didalamnya mencangkup dan terfokus pada aspek atau dimensi perkawinan dalam tradisi kebudayaan Jawa. Di antara para ahli ialah Geertz, Hildred Greetz, Kodiran, Koentjaraningrat, dan Hardjowirogo. Mereka menyatakan bahwa perkawinanyang didahului oleh kegiatan meminang dilakukan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Dengan demikian, inisiatif untuk mendatangi rumah keluargaperempuan ialah laki-laki, bukan keluarga perempuan. Atau dengan pernyataan lain, peran kaum laki-laki didalam proses awal terjadinya perkawinan adalah lebih dominan.Namun demikian, kiranya terdapat variasi lain didalam tradisi perkawinan ini, yaitu tradisi meminang yang dilakukan oleh keluarga perempuan terhadap pihak keluarga laki-laki; tradisi perkawinan yang terjadi di wilayah Tuban, sebagian Lmongan dan Bojonegoro. Seperti diketahui, penelitian yang telah diungkap di atas berlatar kebudayaan Jawa bagian tengah sebab Clifford Geertz dan Hildred Greetz meneliti kebudayaan Jawa di wilayah Pare Kediriatau Mojokutoyang settingnya ialah daerah Mataraman yang lebih dekat kebudayaannya dengan wilayah kebudayaan Jawa pusat, dan Kodiran, Koentjaraningrat, dan Hardjowirogo juga meneliti kebudayaan Jawadi wilayah centrum-nya Jawa Tengah, khususnya Yogyakarta sehingga berkesimpulanseperti itu.Di wilayah kabupaten Tuban sebagai wilayah kebudayaan manca negari—peminangan dilakukan oleh keluarga sehingga keluarga perempuan yang berhak menentukan siapa calon menantu yang akan dipilihnya. Akibatnya, pihak keluarga perempuan berinisia